Postingan

'dalam' kurun kedua kali-nya

Gambar
sumber gambar/arsip pribadi “Tidak ada yang benar-benar tahu kapan Bandung berubah. Namun kota itu tahu persis detiknya”.   1 Bandung tidak runtuh karena gempa, Kota itu sadar, Bandung telah menukar nurani dengan brosur pariwisata dan menyebutnya kemajuan .   Perubahan itu datang dengan sirene. … datang lewat rapat-rapat kecil yang tertutup, … melalui slide presentasi yang rapi, … istilah-istilah teknokratis yang terdengar pintar namun berbau busuk.   Sejak saat itu, Kota itu… … melihat semuanya dari ketinggian yang tidak manusiawi.       2 Di sebuah gang sempit yang tidak masuk peta wisata, seorang lelaki tua bernama Wira kehilangan rumahnya.   Wira tidak berteriak Wira hanya menyiapkan surat pemberitahuan yang dicetak rapi, dengan tanda tangan yang tidak pernah turun ke lapangan.   Wira membaca surat itu berulang-ulang, Wira berpikir dalam… dalam hati; maknanya akan berubah jika ditatap lebih lama. Bandung mencatat kejadian itu...

Digitalisasi sebagai janji: Demokratisasi-Informasi yang berbalik

Gambar
  sumber gambar “Tulisan ini merupakan tulisan lanjutan dari (tulisan sebelumnya) pula dari pandangan bahwa kekuasaan dalam sistem global mengalami pergeseran mendasar yang sering luput dari perhatian publik. Jika pada abad sebelumnya kekuasaan dilekatkan pada wilayah negara, dan kekuatan militer, maka abad ke-21 kemunculan aktor baru yang bekerja melalui kode, dan infrastruktur digital. Pengaruh tersebut bersumber dari kemampuan mengatur arus informasi, membentuk perilaku pengguna dan menentukan logika ekonomi.” Data sebagai komoditas utama abad ke-21. Kebangkitan Big Tech mencerminkan transformasi struktur kekuasaan global yang bersifat laten dan terdesentralisasi. Kekuasaan tampil sebagai pilihan yang tertanam dalam platform. Ruang itu menentukan apa yang terlihat dan apa yang tenggelam, data menentukan nilai ekonomi dan politik, infrastruktur digital menentukan siapa yang terhubung dan siapa yang terpinggirkan. Ketiadaan kerangka yang kohesif memperkuat asi...

Regresi Emosional pada 'Subjek' yang Bersikeras

Gambar
sumber gambar/archive pribadi “SELAMA INI AKU HIDUP DALAM KEYAKINAN PALSU, BAHWA MENYADARI KESALAHAN... SUDAH SETARA DENGAN MEMPERBAIKINYA, PADAHAL KESADARAN HANYALAH PINTU DAN AKU BERDIRI DI SANA TERLALU LAMA—SAMBIL MEMUJI DIRIKU SENDIRI KARENA SUDAH SAMPAI DIDEPANNYA. —disarankan baca dulu yang serial aku ” I   (Sebuah Balasan terhadap “Aku”) Kau menyebut dirimu “ aku ” seolah kata itu masih layak dipercaya. Padahal “ aku ” di mulutmu, hanyalah pembelaan diri ... yang berkali-kali direvisi, agar tetap tampak sebagai korban ... dari yang kau lakukan sendiri ... dengan tangan gemetar namun sadar. Kau bicara tentang hampir jujur— ..., itu lucu. Kejujuran yang “hampir” adalah kebohongan yang sudah belajar tata krama. Kau ingin dibalas tanpa syarat... Sambil menyelipkan syarat, seperti jarum anestesi... ke dalam tubuh orang lain, Lalu pura-pura heran, ketika mereka mati rasa. Karena jika tidak dijelaskan, aku akan terus menyebutnya takdir ... atau nasib ... atau “aku memang begini dar...

Middle Power Pragmatism: Telaah Kredibilitas Indonesia Pasca Sidharto Reza sebagai Presiden Dewan HAM PBB 2026

Gambar
sumber gambar “Tulisan ini menyoroti dan lebih berfokus pada kondisi saat Indonesia hadir sebagai partisipasi anggota dewan ham pada Periode 2024–2026, hingga pada tahun ini tepatnya pada tanggal 8 Januari 2026 dalam pertemuan Dewan HAM PBB di Jenewa, Swiss. Yaaa… mudah mudah aja” Posisi Indonesia pasca-Perang Dingin. Indonesia pasca-Perang Dingin dengan sudut pandang reflektif yang berangkat dari perubahan struktur kekuasaan global, serta menguatnya arena multilateral sebagai ruang kontestasi makna. Indonesia sering dipahami sebagai kekuatan menengah yang bergerak melalui diplomasi koalisi, penekanan pada multilateralisme, dan peran jembatan antarblok. Posisi ini sebagai praktik yang terus dinegosiasikan melalui pilihan kebijakan, serta keberanian untuk memikul konsekuensi normatif. Kekuatan menengah hidup dari reputasi, dari kemampuan mempengaruhi melalui legitimasi, dan dari kecakapan merangkai kepentingan bersama tanpa dominasi koersif. Oleh sebab itu, pembacaan ter...

Regresi Emosional pada 'Aku' yang Bersikeras

Gambar
sumber gambar/archivey pribadi Ada saat-saat ketika aku hampir jujur pada diri sendiri.  Pada momen-momen... keinginan,  untuk dicintai tanpa syarat berjalan beriringan dengan kebiasaan memberi syarat secara halus.  Aku meminta pengertian Aku mengaku tulus Aku ingin diterima apa adanya Bersikeras, dalam kamus pribadiku, sering berarti menolak belajar dari kegugupan... menyamakan konsistensi dengan kebenaran, seolah mengulang langkah yang sama cukup untuk membuktikan niat baik. Padahal niat tidak menyelamatkan siapa pun jika struktur yang menopangnya berlubang. Seolah jalan namun jalannya sambil sembunyi berjalan di jalur yang sama, berharap hasil berbeda, lalu menyalahkan letak ketika tujuan tak kunjung terlihat... itu...  ... ... ...  Di sana...  Dimana maksudnya? Klaim itu terdengar meyakinkan karena disertai narasi penderitaan, kesadaran agar tampak dewasa,  sementara impuls lama tetap memegang kemudi.  bekerja diam-diam... menyamar sebagai ref...

Para Penulis Zaman Edan: Klaim ‘Omong Kosong’ Aletheia dan Bahasa Pasca-Kejujuran

Gambar
gambar/kiriman dari om nasyar “Muak dan jujur… sejujur jujurnya 9999x tanpa basa-basi: konsumtor imitasi itu berkeliaran di mana-mana, tulisan gajelas ini bukan berarti aku alergi atas perkembangan teknologi ini… pun juga menyangkalan total atas kegemilangan zaman—yang konon harus dimanfaatkan—sebagai tuduhan dingin atas cara zaman itu disalahgunakan. Ketawa99x Jurnal akademik, skripsi-disertasi, esai, laman-laman populer yang mengaku ilmiah, fiksi dan puisi… ohh iya satu lagi (hamper lupa) di media sosial: semuanya berulang dalam heroisme sintaksis yang percaya diri sampe pedenya menjadi-jadi… Aku muak atas kebisingan itu; Aku iri pada kesalahan karena ia masih berani muncul tanpa izin; Aku iri pada kalimat gajelas! Karena ia masih menyimpan jejak kejujuran dari lidah manusia. —izin pake sudut pandang 'aku' yang banyak.” Mas Mas… Mesin dan si Penyamar Aku melihat manusia menulis Tanpa pernah tiba Di tubuhnya sendiri; menyusun kalimat Seperti menyusun alibi … rapi ...