Bandung 'dalam' kurun kedua kali-nya
sumber gambar/arsip pribadi
“Tidak
ada yang benar-benar tahu kapan Bandung berubah.
Namun kota itu tahu persis detiknya”.
1
Bandung tidak runtuh karena gempa,
Kota itu sadar,
Bandung telah menukar nurani dengan brosur pariwisata
dan menyebutnya kemajuan.
Perubahan itu datang
dengan sirene.
… datang lewat
rapat-rapat kecil yang tertutup,
… melalui slide
presentasi yang rapi,
… istilah-istilah
teknokratis yang terdengar pintar namun berbau busuk.
Sejak saat itu,
Kota itu…
… melihat semuanya
dari ketinggian yang tidak manusiawi.
2
Di sebuah gang sempit
yang tidak masuk peta wisata,
seorang lelaki tua
bernama Wira kehilangan rumahnya.
Wira tidak berteriak
Wira hanya menyiapkan
surat pemberitahuan yang dicetak rapi, dengan tanda tangan yang tidak pernah
turun ke lapangan.
Wira membaca surat itu
berulang-ulang,
Wira berpikir dalam…
dalam hati; maknanya akan berubah jika ditatap lebih lama.
Bandung mencatat
kejadian itu sebagai penataan kawasan.
Oh kota yang katanya romantis
… kau membiarkan manusia malu mencintai
3
Di sisi timur kota,
Sebuah dinding
dipenuhi kutipan-kutipan revolusioner yang telah dikebiri maknanya. Anak-anak
muda duduk di sana, membahas ketimpangan sosial sambil menyesap minuman yang
harganya setara upah harian buruh.
Mereka merasa kritis…
Lalu Bandung tersenyum
tipis.
Malam berarak lamban,
menggendong
lampu-lampu yang sok dialektis
… juga puitis.
(Suara tawa
kecil—pahit.)
4
Dikampus para investor
datang, memuji “keunikan lokal,” lalu menggilasnya dengan desain seragam
global.
Bangunan tua dijaga, karena
potensinya sebagai aset.
Bandung menyebut ini
pelestarian.
Akan tetapi seseorang menyebutnya
upaya kebohongan dengan delik yang sopan.
Jangan mau kesana!
… pada lorong-lorong yang pura-pura ramah,
… tempat senyum dilatih seperti etika akademik
… namun hatinya bocor,
… dan munafik.
5
Anak-anak tumbuh di
kota ini dengan paru-paru yang terbiasa kotor dan mimpi yang disesuaikan pasar.
Mereka belajar sejak dini bahwa bertahan lebih penting daripada bertanya, bahwa
aman lebih berharga daripada benar.
Bandung tidak mendidik
mereka;
Buuuuttttttt (tapi) … …
…
Kota itu melatih
mereka untuk patuh.
“Kota kreatif,” katanya,
… sambil membunuh ruang hidup.
“Kota ramah,” katanya,
… sambil mendorong yang lemah ke pinggir
… lalu menutup mata.
Bukan angka terakhir!
Kesedihan di Bandung
tidak pernah meledak.
Orang-orang terbiasa
kecewa.
Terbiasa dikecewakan.
Terbiasa memaafkan
Meski terus-menerus
meludahi mereka.
“hati-hati di jalan”
yang terdengar seperti lelucon kosmis.
ego yang tolol,
oleh logika relasi yang dipaksakan
seperti teori usang dipertahankan dosen bebal.
Kota yang kau sebut dengan
terminologi nostalgia,
…. variabel dependen dari ingatan yang bersin ketika diuji ulang.
Bandung, tetaplah Bandung
...
…
…
… yang dingin
(moga
kau tak kedinginan Wira, …
cari dan pakailah jaketmu!)
(moga
kau tak kedinginan Wira,

Komentar
Posting Komentar