Regresi Emosional pada 'Subjek' yang Bersikeras

sumber gambar/archive pribadi
“SELAMA INI AKU HIDUP DALAM KEYAKINAN PALSU, BAHWA MENYADARI KESALAHAN... SUDAH SETARA DENGAN MEMPERBAIKINYA, PADAHAL KESADARAN HANYALAH PINTU DAN AKU BERDIRI DI SANA TERLALU LAMA—SAMBIL MEMUJI DIRIKU SENDIRI KARENA SUDAH SAMPAI DIDEPANNYA.

I 

(Sebuah Balasan terhadap “Aku”)

Kau menyebut dirimu “aku

seolah kata itu masih layak dipercaya.

Padahal “aku” di mulutmu, hanyalah pembelaan diri

... yang berkali-kali direvisi, agar tetap tampak sebagai korban

... dari yang kau lakukan sendiri

... dengan tangan gemetar namun sadar.

Kau bicara tentang hampir jujur—

..., itu lucu.


Kejujuran yang “hampir” adalah kebohongan yang sudah belajar tata krama.

Kau ingin dibalas tanpa syarat...

Sambil menyelipkan syarat, seperti jarum anestesi... ke dalam tubuh orang lain,

Lalu pura-pura heran, ketika mereka mati rasa.

Karena jika tidak dijelaskan, aku akan terus menyebutnya takdir

... atau nasib

... atau “aku memang begini dari dulu”

—kalimat paling malas yang pernah ditemukan manusia

untuk menghindari satu hal bernama tanggung jawab batin.



II

Bersikeras, katamu... adalah konsistensi;

Tidak...

Itu pola ugal ugalan...

Jika aku terdengar kejam pada diriku sendiri, itu karena kelembutanmu selama ini tidak pernah cukup untuk menghentikanku.


Aku sudah terlalu lama dipahami,

terlalu lama dimaklumi,

lama dibiarkan dengan alasan “proses”.


Dan proses yang tidak pernah berujung

Stagnasi yang diberi nama indah.

Kau menyembah pengulangan... karena perubahan menuntut pengakuan bersalah,

dan pengakuan bersalah akan meruntuhkan monumen penderitaan

yang selama ini kau bangun dengan bangga.


Kau tidak salah.

Akulah yang tergesa-gesa dalam membaca, karena kata selalu menuduhmu:

“Kau pernah ke sini,

... dan kau tetap dengan cara yang sama.”



III

Narasi penderitaanmu rapi,

terlalu rapi untuk seseorang

... yang mengaku hancur.


Itulah masalahnya...

Kau menyebut refleksi, padahal itu hanya impuls lama yang belajar berbicara dengan diksi samar samar, Kesadaranmu kosmetik.

Di bawahnya, mesin lama tetap bekerja: takut tak istimewa.


Tidak ada pemenang di sini;

Tidak ada pelajaran instan;

Hanya kesadaran edan... beberapa konflik tidak meminta solusi

... hanya pengakuan jujur, bahwa separuh-penuhnya ini

tidak sepenuhnya kecelakaan.



IV

Kau mengeluh tentang kelelahan orang lain

... namun tetap mengulang,

Harapan yang kau sebut “sunyi”..., sebenarnya hanya versi baru dari penundaan tanggung jawab.

Sudahlah...

...s

...u

...d

...a

...h

...i

...l

...a

...h

(... ... ...)

Berhenti mengulang, katamu.

Belajar, katamu.


Hayati ...lah 

Say...,


Adalah...

Rangkaian kesalahpahaman padahal jika disederhanakan sampai tulang,

Masalahnya selalu sama:


Aku ingin dicintai tanpa harus kehilangan kendali... dan cinta yang menuntut kendali

...

... melainkan kontrak sepihak yang kusebut kedekatan.



V

Kota Cipadung tidak bersalah.

Cermin kamar mandi kos

jangan kau menghakimi.


Yang bermasalah adalah caramu,

... menggunakan ruang,

sebagai kambing hitam.


“Semua orang menyembunyikan regresi,”katamu.

“Yaaaaaa!!!”... Tapi tidak semua orang menjadikannya identitas artistik.


Tertawa dan menangis bersamaan 

... menjadikannya alasan untuk tidak berubah.

Empat suara di kepalamu, hanya kelelahan

karena bicara pada subjek

yang lebih mencintai narasi

daripada tanggung jawab.


Kewarasan memang mahal, kau hanya tidak mau membayar

... dengan membongkar.



VI

Kopi instan...

Rokok satu batang, notifikasi yang tidak penting

... namun dicek berulang, seolah ada pengakuan 

... yang terselip di antara spam dan tagihan;

“Aku perlu menjelaskan soal diamku”, karena banyak orang mengiranya kedalaman.

Padahal diamku sering kali adalah cara paling aman untuk tidak membuat pilihan.

... dengan diam, aku bisa menghindari salah,

menghindari kemungkinan harus mengakui

bahwa aku juga mampu menyakiti,


... yang dilatih bertahun-tahun

... agar tidak memancing pertanyaan

... yang tidak inginku jawab.



VII

Aku ingin menjelaskan...

Sejuta... kali seriusnya...

... tentang mengapa akhir akhir ini aku menghabiskan waktu dengan menulis,

karena menulis telah menjadi tempat persembunyian paling nyaman.


Aku bisa jujur;

Aku bisa mengaku rapuh;

Aku bisa terlihat sadar;

... tanpa harus bertindak

... tanpa harus berubah.

... tanpa harus bertanggung jawab pada siapa pun, selain estetika kalimatku sendiri.


Reflektif!

Pendiam!

Menulis panjang!

Menulis indah!

Menulis soal kehilangan adalah bencana

... yang datang dari langit!



Yang Kurangnya (Mungkin)


... yang terjadi sebenarnya:

aku belajar terlalu cepat bagaimana membaca diriku sendiri,

padahal pengetahuan adalah bentuk lain dari ketakutan yang sudah berpendidikan.

Dan ini bagian yang paling sulit untuk dijelaskan... diriku terlihat kejam:


... aku mencintai penderitaanku

... penderitaan itu memberiku identitas;


Memelihara kondisi yang menyakitkan, seperti seseorang memelihara gembala

agar tetap punya alasan untuk memberinya terus pakan.


Yaaa....

pengakuan pahit itulah, bahwa selama ini aku tidak sepenuhnya jujur

tentang satu hal: mengatakan ingin belajar... selalu berhenti sebelum titik di mana

aku harus melepaskan kebiasaan lama.


... berkembang

... tanpa harus berduka, atas versi diriku yang lama,

... padahal setiap pertumbuhan selalu menuntut kematian kecil, yang tidak bisa dinegosiasikan.

yang kusebut sunyi,

... doa agar waktu menyelesaikan

... apa yang tidak ingin kuselesaikan sendiri.


Merasa lebih dekat, pada kebenaran daripada sepanjang hidup reflektifnya.

Ternyata hanya mencabut ilusi, bahwa kecerdasan emosional

... enggan berbarengan dengan keberanian

... adalah sesuatu yang patut dibanggakan.



sekian, hiruk pikuk dialog kontemplatur sang mesra

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Post-Sovereign Maritime Order: Kedaulatan Laut Lepas Pasca-BBNJ Agreement

Ratifikasi High Seas Treaty [4]

Metastasis [Akhir Tahun] pada Tata Ujar

Melawan Laut, Melawan Diri: Telaah 'Anti-Heroisme' pada The Old Man and the Sea Hemingway

Bandung 'dalam' kurun kedua kali-nya

Regresi Emosional pada 'Aku' yang Bersikeras

O Tuhan "Jemari-ku" Gemetar Menggenggam "Sisa" Diriku Sendiri

Membaca Legalitas Utara pada 'Epistemologies of the South'

Digitalisasi sebagai janji: Demokratisasi-Informasi yang berbalik