Para Penulis Zaman Edan: Klaim ‘Omong Kosong’ Aletheia dan Bahasa Pasca-Kejujuran
gambar/kiriman dari om nasyar
“Muak dan jujur… sejujur jujurnya 9999x tanpa basa-basi: konsumtor imitasi itu berkeliaran di mana-mana, tulisan gajelas ini bukan berarti aku alergi atas perkembangan teknologi ini… pun juga menyangkalan total atas kegemilangan zaman—yang konon harus dimanfaatkan—sebagai tuduhan dingin atas cara zaman itu disalahgunakan. Ketawa99x
Jurnal akademik, skripsi-disertasi, esai, laman-laman populer yang mengaku ilmiah, fiksi dan puisi… ohh iya satu lagi (hamper lupa) di media sosial: semuanya berulang dalam heroisme sintaksis yang percaya diri sampe pedenya menjadi-jadi…
Aku muak atas kebisingan itu;
Aku iri pada kesalahan karena ia masih berani muncul tanpa izin;
Aku iri pada kalimat gajelas! Karena ia masih menyimpan jejak kejujuran dari lidah manusia.
—izin pake sudut pandang 'aku' yang banyak.”
Mas Mas… Mesin dan si Penyamar
Aku melihat manusia menulis
Tanpa pernah tiba
Di tubuhnya sendiri; menyusun kalimat
Seperti menyusun alibi
… rapi
… terukur
… tanpa sidik jari
Zaman ini mencintai tulisan
… yang tidak mengingat asal
… tidak mengenal harga
pernah malu, ehh maksudnya tidak pernah malu!
Aku hidup pada zaman ketika kata kehilangan suhu tubuhnya.
Kalimat beredar seperti bangkai steril
Di layar-layar terang, produksi teks massal dengan kecepatan yang menyerupai industri pakan ternak.
Semua tampak rapi; namun aku mencium bau busuk…
bau kebohongan yang menyamar sebagai kecanggihan.
Aku menulis dari titik muak.
Muak pada manusia yang mengaku jujur,
… yang menyerahkan kesadarannya kepada mesin sambil tetap menuntut pengakuan.
Aku tidak sedang memusuhi mesin.
Mesin tidak pernah berpura-pura memiliki hati.
Yang ingin kutelanjangi adalah manusia yang menjadikan mesin sebagai alibi, lalu berlagak sebagai subjek otonom… makana pantes naha ceuk aing ge… “zaman edan” zaman ketika kejujuran dianggap aksesori dan produktivitas menjadi agama baru.
Bahasa hari ini bergerak dalam rezim pasca-kejujuran.
Cukup kepatuhan pada pola.
Sintaks berdiri tegak, semantik tampak bernyawa,
di dalamnya tidak ada konflik batin,
tidak ada tarikan etis antara berkata dan bertanggung jawab.
Yang tersisa hanya performativitas: menulis agar tampak menulis.
Geeelooooo!
Aku menyebutnya bahasa tanpa darah.
Manusia edan memuja kejernihan seperti fetisisme.
Mereka alergi pada kegagapan;
takut pada ambiguitas;
muak pada ketidakteraturan;
… padahal mun ceuk urang mah di situlah jejak manusia berada;
Mereka lupa bahwa pikiran yang jujur selalu meninggalkan bekas goresan.
Bahasa yang hidup selalu sedikit pincang;
Berisik;
Dan sedikit tidak patuh.
Teks-teks itu beredar:
esai yang licin,
puisi yang patuh,
kritik yang terdengar berani
Semuanya terasa aman … terlalu aman untuk disebut jujur.
Tidak ada satu kalimat pun yang mempertaruhkan reputasi, relasi, atau kenyamanan penulisnya.
(maksudnya ‘tidak’ ada tidaknya)
Pengennya nulis ini pake Bahasa yang kasar…
Se-kasar kasarnya ceng…
Ackhhhh…
Aletheia…
Kebenaran dijadikan kosmetik intelektual.
Mengutip; Hegel. Heidegger, Popper, Derrida, Rawl… sok saha deui?
seolah nama-nama itu jimat.
Aku muak pada klaim orisinalitas yang dibangun di atas kerja mesin tanpa pengakuan.
Soal kepengecutan ontologis; “Menyembunyikan” sumber berdiri sebagai subjek yang rapuh.
Mesin bekerja dengan probabilitas. menyusun kalimat berdasarkan jejak statistik, tidak pernah gelisah - tidak pernah takut salah.
:Tidak pernah mempertanyakan akibat dari sebuah pernyataan.
Justru karena itu mesin jujur pada kodratnya karna yang tidak jujur adalah manusia yang meminjam lidah mesin lalu mengklaimnya sebagai suara nurani.
Aku bertanya pada teks
Siapa yang melukaimu
Lalu menjawab “strukturlah si pelaku itu”
Aku bertanya pada paragraf
Siapa yang menanggung akibatmu
Lalu menjawab “referensi yang selalu menodongku”
Aku melihat puisi
Yang lahir tanpa malam
Esai yang tumbuh tanpa ragu
Kritik yang berjalan tanpa musuh
Aku menulis dengan kesadaran penuh bahwa setiap kata adalah keputusan etis… menulis berarti membuka diri pada kemungkinan disalahpahami… diserang… ditolak… diuji… dikritisi… sampe dicaci maki;… Jika semua itu disingkirkan, yang tersisa hanya teks steril aman untuk pasar mati untuk kebenaran.
… Yang Rapi
Bahasa pasca-kejujuran bekerja dengan logika simulasi yang penting terdengar dalam, soal apakah pikiran itu sungguh dialami, hingga dihayati dalam ruang pikiran dan batin tertinggi—itu urusan belakangan.
Bahkan tidak perlu ada;
Yang penting algoritma pembaca terpenuhi.
Aku menulis…
dengan kesadaran bahwa bahasa adalah medan pertempuran. Kata-kata tidak netral. Diksi memilih pihak. Kalimat bisa menjadi alat pembebasan atau alat penipuan.
Penulis zaman gemar berbicara tentang efisiensi
Mengukur kualitas dengan kecepatan.
Memuja output.
Aku tidak tertarik pada tulisan yang ingin disukai.
Ohh, iya…
Memang kusepakati…
Menggunakan mesin tidak otomatis menjadikan seseorang penipu… yang menjadikan penipu adalah klaim palsu atas pengalaman berpikir… padahal seseorang menampilkan teks seolah lahir dari pergulatan batin…
…
p
a
d
a
h
a
l
… hasil kompilasi statistik,
Meludahlah…
Aletheia!
Ludahilah…
Jangan ragu…
Serius,
Ludahi saja!!!
(mun aya nu ngadat… simple aja “izin dulu ke dora”)
Aku berdiri di antara puing bahasa yang disulap jadi komoditas.
Aku menulis sambil sadar bahwa kalimatku pun bisa salah, bisa timpang, bisa ditolak.
Aku berpikir praktis… bahwa tulisan yang jujur selalu beresiko… tulisan yang aman selalu mencurigakan.
Zaman edan ini tidak kekurangan teks…
Aku menulis bagian ini sebagai deklarasi perang kecil, terhadap kepalsuan manusia.
penulis yang ingin panen pengakuan tanpa menanam kejujuran.
Produktivitas dan Klaim Omong Kosong
Aku menyaksikan bagaimana kebenaran diperlakukan seperti komoditas rapuh yang harus dikemas ramah pasar. sepertinya zaman ini menuntut kebenaran yang jinak, patuh pada tenggat, tidak mengganggu arus produksi; pola yang sama
Aku menolak logika ini sejak kalimat pertama.
Aku melihat para penulis yang fasih berbicara tentang kebenaran,
… bersembunyi di balik gaya impersonal, seolah netralitas memberi mereka kekebalan moral.
Iklim seperti ini, mesin menjadi alat ideal.
Siapa yang bertanggung jawab atas makna? Siapa yang menanggung implikasi etis dari sebuah pernyataan?
Aku muak pada seminar, esai dan puisi yang mengaku kritis tetapi tidak pernah beresiko kehilangan apa pun. Kritik yang tidak mengorbankan apa pun… adalah hiburan kelas menengah. hh3333
Jelema edan memelihara ilusi keberanian.
Menulis dengan merasa radikal karena memilih diksi yang terdengar keras.
Seseorang bisa menulis kalimat paling tajam sambil aman di dalam konsensus.
Aku menulis dengan kesadaran bahwa setiap klaim kebenaran adalah undangan konflik. Jika tidak ada yang terusik, patut dicurigai ada yang disembunyikan. Aletheia selalu mengganggu. Jika sebuah teks terasa terlalu nyaman, terlalu mulus, terlalu “selesai”, besar kemungkinan ia lahir dari kepatuhan.
Produktivitas menuntut kontinuitas… aku menyaksikan penulis yang bangga pada jumlah karya, Mesin membantu mereka mempercepat proses ini, sementara mereka lupa bahwa berpikir bukan lomba lari.
Sudahlah Jendral
Tinggalkan kebiasaan narsistikmu itu!!!!
Aku tidak sedang meromantisasi kesulitan.
Aku sedang mengurai fakta sederhana:
Aletheia hari ini diperlakukan seperti hasil, padahal dia adalah proses yang tidak pernah final.
Teruntuk sang penganggap keterbacaan sebagai nilai tertinggi;
Padahal acap kali keterbacaan duduk sebagai tanda kepatuhan.
Bahasa yang terlalu mudah sering kali telah kehilangan daya ganggunya.
Bahasa Pasca-Kejujuran
Aku bermimpi tiba di kota itu tanpa gerbang… entah itu dimana… tidak ada papan nama … pun sejarah yang disepakati.
Kota ini hidup dari arsip.
Semua bangunan berupa pusat dokumentasi: gedung naskah, menara jurnal, lorong indeks, museum abstrak.
Nahhh….
Dikota ini, setiap warga disebut penulis, meskipun tidak satu pun dari mereka pernah mengalami kesepian yang cukup lama untuk melahirkan kalimat.
Aku berjalan di antara mereka dengan kecurigaan...
Setiap orang membawa teks.
Tidak ada yang membawa ingatan; dimana mereka saling bertukar kutipan seperti mata uang.
Di kedai kopi (mun di urang mah warkop mang ajat); diskusi berlangsung tanpa jeda.. lalu mendengar istilah kebenaran diucapkan berulang.
Di kota ini,
Aletheia telah dilembagakan…
… menulis dengan beban
yang tidak bisa dipindahkan
… menulis dengan kesadaran
bahwa setiap kata
adalah keputusan politik
… dan setiap diam
adalah persetujuan
Aku memasuki sebuah ruang bernama Departemen Kejujuran Publik. Di dinding tergantung definisi kebenaran yang diperbarui tiap bulan. Definisi itu berubah mengikuti tren dan indeks sitasi. Tidak ada yang mempermasalahkan perubahan tersebut. Stabilitas dianggap lebih penting daripada ketepatan.
Seorang kurator arsip menatapku. Wajahnya tenang, seperti teks pengantar jurnal. “Kita menjaga kualitas,” katanya, “kami menyaring ambiguitas.”
Aku menahan tawa. Ambiguitas bagiku bukti bahwa pikiran pernah bernafas.
Menyaring ambiguitas sama dengan mensterilkan pengalaman. Namun di kota ini, pengalaman dianggap gangguan.
Aku bertanya dari mana teks-teks mereka berasal.
“Dari sistem,” jawabnya singkat.
Sistem itu tidak terlihat,
bekerja di balik layar,
Tidak ada yang menyebutnya penentu.
Aku menyadari sesuatu yang mengganggu: tidak ada satu pun teks di kota ini yang bisa ditelusuri kembali ke tubuh penulisnya. Semua kalimat tampak lahir dari ruang antara, dari zona abu-abu tempat tanggung jawab larut.
Aku mencari kesalahan.
Ackhhhh….
Hasilnya nihil gaesssss…
Kesalahan itu
Tidak kutemukan.
Aku mencari keberanian.
Tidak kutemukan.
Aku mencari luka.
Kota ini alergi pada luka.
Malam harinya; masih dimimpiku aku duduk di penginapan dan membaca arsip-arsip yang dipamerkan sebagai karya unggulan.
Esai-esai itu sempurna.
Terlalu sempurna!
Tidak ada satu pun kalimat yang terdengar seperti keputusan. Semuanya terasa seperti hasil kalkulasi.
Aku menulis catatan sendiri, dengan tangan gemetar;
Untuk pertama kalinya sejak tiba, aku merasa diawasi;
Di kota ini, menulis dengan ragu dianggap subversif;
Kalimat yang tidak efisien dicurigai;
Keraguan mengganggu alur.
Aku meninggalkan kota dengan satu wacana dingin: bahasa pasca-kejujuran membutuhkan kenyamanan…
Selama penulis merasa aman, sistem bekerja sempurna.
Catatan
Aku menulis cerita ini sebagai alegori yang terlalu nyata.
Kota tanpa penulis adalah potret zaman: ruang di mana teks berlimpah,
Mesin tidak merampas kebenaran; manusialah yang menyerahkannya demi efisiensi.
Bahasa pasca-kejujuran ditandai oleh tiga gejala utama:
pertama, penghapusan posisi subjek;
kedua, fetisisme struktur;
ketiga, penyangkalan tanggung jawab.
Aku hidup di antara kalimat yang tidak pernah memilih
mereka disusun, lalu dilepas
tanpa pernah tahu apa yang mereka korbankan
Kata-kata kini bekerja seperti buruh kontrak
efisien, patuh, meski tanpa sejarah kelam
mereka tidak mengenal malam
tidak mengenal ragu
tidak mengenal harga dari sebuah pengakuan
Datang dengan wajah asing
Karena terlalu lama dipinjam tanpa izin
Bahasa yang Mengaku Hidup
Aku kembali menulis setelah menyadari satu hal yang paling memalukan dari zaman ini:
Manusia berbohong karena malas berpikir… terhampar teks-teks yang mengaku reflektif, mengaku personal… lahir dari pengalaman.
Aku menyebutnya bahasa yang telah diawetkan sebelum mati.
Di titik ini, mesin hanya mempercepat sesuatu yang sudah basi.
Aku membedah satu teks, lalu teks lain. Polanya konsisten:
– tidak ada posisi yang berbahaya
– tidak ada pernyataan yang berpotensi merusak relasi
– tidak ada kalimat yang membuat penulisnya kehilangan tempat
Seperti itulah…
… tulisan yang lahir dari ketakutan sosial,
Aku muak!!! pada penulis yang menyembunyikan keterlibatan mesin sambil berkhutbah tentang kejujuran… Mesin lebih jujur daripada manusia yang memakainya.
Mesin tidak pernah mengklaim pengalaman;
Aku menulis dari posisi sebaliknya…
Aku mengakui ketergantungan zaman…
Aku mengakui intervensi teknologi…
Aku menolak menghapus tanggung jawab…
Padahal pengakuan adalah satu-satunya bentuk kekuatan yang tersisa…
Tanpa itu, bahasa menjadi suara tanpa Alamat,
Cukup bergema saja…
Bari gaje;
… bahwa pernah ada
seseorang;
… yang tidak sepenuhnya menyerah
Dan posisi selalu lebih berbahaya…
daripada jawaban,
Titik.
(Des 2025).
Komentar
Posting Komentar