Flexing: Estetika konsumtif dan ironi yang dekoratif


"Transformasi ini sangat tampak ketika kita melihat bagaimana istilah flexing digunakan dalam budaya digital sekarang—bahkan kabel charger pun, bisa menjadi lencana status sosial jika difoto dengan caption yang meditatif"

Apa itu flexing?
Konon, saat manusia baru mengenal api dan cermin —kebutuhan dasar belum menyentuh selera pamer. Tapi ketika cermin menjadi kaca pembesar dan api menjadi penerang panggung sosial, munculah kebiasaan kuno bernama. . . . flexing. Tentu, pada masa lalu ia belum disebut dengan istilah se-modern itu. . . . . tapi tabiatnya sudah eksis: mempertontonkan kepemilikan demi pengakuan, menampilkan benda demi nama dan meletakkan status pada sepatu bukan pada kepala. Konon lagi (dulu), bangsawan menunjukkan kekuasaan dengan jubah yang panjangnya lebih dari akal sehat. Di zaman kerajaan, para elite menumpuk emas bukan untuk makan, tapi untuk menyilaukan mata tetangga sebelah.

To flex berarti menunjukkan keberanian, menampilkan kekuatan, atau bahkan memperlihatkan performa tubuh dan kekuasaan atas ruang —melalui lagu tersebut (paragraf di bawah²nya) flexing digambarkan sebagai narasi kemenangan kecil atas hari-hari yang cukup buruk. Menampilkan kekayaan dan ketenangan menjadi semacam performa atas keterbatasan struktural yang mengekang komunitas kulit hitam. —bentuk perlawanan yang estetis, representatif, dan bahkan kadang terapeutik.

Namun yang menarik (dan juga ironik), ketika istilah ini mengalami globalisasi makna dan visual, maknanya pun mengalami reduksi. Ketika budaya hip hop memasukinya—terutama lewat media sosial dan industri kapitalisme gaya hidup—flexing kehilangan resistensialnya dan berubah menjadi kompetisi konsumtif yang seragam. Jika dahulu flexing adalah respon terhadap marginalisasi, kini ia justru menjadi alat pengukuh stratifikasi. Dari ekspresi keberanian menjadi etalase kekayaan; dari simbol perjuangan menjadi simbol pameran. flexing yang awalnya adalah bagian dari strategi bertahan hidup—baik secara ekonomi, kultural, maupun psikologis—telah menjadi bagian dari logika pasar yang spekulatif. Media sosial menjadi semacam arena panopticon digital, di mana individu tidak hanya diawasi oleh sistem, tetapi secara sukarela mengekspos dirinya untuk mendapatkan validasi. 

Tidak lagi menunjukkan kejayaan dengan istana, tapi dengan story yang istimewa; bukan lagi membangun kerajaan fisik, tapi menata gaya algoritma. seolah bermetamorfosis menjadi gaya hidup digital yang estetis, konsumtif dan penuh ironi dekoratif —karena apa yang ditampilkan bukan lagi refleksi isi kepala, melainkan kurasi isi dompet dan tampilan dada.

Bentuk pertunjukan sosial yang membingkai konsumsi sebagai pernyataan status. Praktik keindahan yang menjadikan barang, pengalaman atau bahkan relasi sebagai alat validasi diri. yaaa. . . . gimana yah kaya setiap hari aja gtu liat hal² kecil (cukup ingin dicolok penglihat nya) kalou liat story wa yang beragam; pamer screenshot, atribut sosial, hingga aktifitas apa yang akan sedang di rancang —kaya semacam koreografi simbolik dari keinginan yang ingin dimaterialisasi atau report progreslah sebutannya. 

Flexing itu ibarat nenek moyang kita yang dulu suka bertarung demi memperebutkan wilayah, hanya saja hari ini medan perangnya pindah ke whatsapp dan semacamnya, lalu senjatanya adalah outfit supreme, saldo digital dan kopi seharga cicilan motor (atau juga kadang pdf buku). Dulu, pamer otot itu simbol kekuasaan—sekarang, cukup pamer wristwatch dengan logo Swiss, lalu ambil selfie dari angle yang bikin jidat nggak kelihatan. Yang menarik (tapi sama ket ny seperti di atas), istilah flexing engga lahir dari fakultas ekonomi atau sosiologi, tapi dari hip hop tempat para musisi jalanan berdansa dengan diksi dan dompet yang tipis tapi dengan lirik yang tajam. Ketika Ice Cube menyebut flexing di tahun 1992, ia tidak sedang mempromosikan seminar properti, tapi sedang menyatakan bahwa di tengah ketimpangan sistemik, “aing kapake -(alus) keneh kusahaha -(rek dikukumaha) ge lurrd! ”

Flexing sebagai gejala sosial, bukan gaya personal
Inilah yang sejak awal sudah dibocorkan oleh Pierre Bourdieu lewat konsep distinction-nya: bahwa kelas sosial bukan hanya urusan jumlah nol di rekening, tapi juga tentang selera—dan selera bukanlah warisan genetis, tapi hasil didikan budaya yang tak kasat mata, yaitu habitus. Seorang anak konglomerat tahu cara duduk di restoran mahal dengan tenang, bukan karena belajar dari YouTube, tapi karena sejak kecil lidahnya sudah dibesarkan oleh daging wagyu —bukan seblak mangkok plastik. Di situlah letak bedanya: barang boleh sama, tapi cara memakainya yang membedakan kelas. Maka muncullah tragedi kaum menengah ngambang: ingin terlihat seperti atas, tapi tetap harus bayar cicilan motor bawah. 

Melainkan kewajiban kultural untuk tetap terlihat relevan meskipun dompet tercekik relevansi. Baudrillard, yang—seandainya hidup di era TikTok—(mungkin) akan mendadak pensiun menulis karena realitas sudah terlalu hiperreal, ketika konsumsi sebagai tanda. Kita beli sepatu bukan karena nyaman, tapi karena punya logo swoosh yang bisa menaikkan kasta digital. Kita beli iPhone bukan karena butuh, tapi karena merasa dengan ponsel itu, pikiran kita ikut naik versi. Maka benda kehilangan nilai guna, tapi justru makin tinggi nilai gengsinya. Zygmunt.B melengkapi ironi ini dengan menyatakan bahwa kita hidup dalam masyarakat cair, tempat identitas tidak dibentuk lewat nilai tetap, tapi lewat tampilan yang bisa diedit setiap saat. Hari ini tampil sebagai corporate thinker, besok jadi digital nomad, lusa mungkin spiritualis—asal lighting cukup dan engagement bagus.

Disitulah puncak dari estetika yang ironik. Keindahan yang kita tampilkan tidak lahir dari kebajikan, tapi dari tekanan yang tidak menyadar. Kita bisa terlihat sangat rapi, sukses, mapan, tapi pada saat bersamaan sedang menahan cicilan yang lebih berat dari beban eksistensial. Rumah bisa Instagramable, tapi membaca keadaan sosial penuh kecanggungan. Feed bisa bahagia, tapi badan penuh tuntutan. —bukan estetika yang lahir dari kesadaran, melainkan dari ketakutan: takut tak terlihat, takut dianggap kalah, takut tak punya nilai tanpa label. Maka jadilah kita generasi yang elegan tapi memiskinkan, mewah tapi makna menguap—seperti parfum mahal di tengah jalan macet, harum tapi tak menyelesaikan problematika sosialnya.


Ironi yang Dekoratif

Hiasan sosial, simbol yang tak perlu bukti, dan tampilan yang tak memerlukan isi. moralitas tidak lagi dilihat dari tindakan, tapi dari caption, dan kesuksesan tidak lagi dinilai dari kontribusi, tapi dari sorotan lampu kilat digital yang dekoratif. Dan karena ia hiasan, maka ia boleh dilekatkan ke siapa saja: dosen part-time, pekerja lepas dalam sektor apapun itu. . . , bahkan pengangguran berbakat—asal framing-nya cocok dan estetikanya mapan.

Hidup menjadi serangkaian visualisasi, dan relasi antarindividu tergantikan oleh representasi citra. Kita tidak sedang mengalami kehidupan, kita sedang menyusun versi highlight terbaik dari kehidupan yang sebenarnya sedang lelah. Maka jangan heran bila realitas dikalahkan oleh cerita, keringat dikalahkan oleh filter, dan integritas dikalahkan oleh layout. Flexing tempat seseorang menjadi aktor dengan naskah yang ditulis oleh ketakutan akan ketidakterlihatan.

Tak hanya soal gaya, tapi bentuk baru dari alienasi. Jika dulu manusia teralienasi dari hasil produksinya, kini manusia teralienasi dari makna dirinya sendiri. Kita memproduksi persona, bukan barang. Kita menjual diri sebagai merek, bukan sebagai makhluk berpikir. Dalam dunia di mana identitas dibentuk oleh followers dan keberhasilan ditentukan oleh engagement, makna hidup pun direduksi menjadi strategi pasar. Alienasi ini bahkan tidak terasa menyakitkan, karena ditutup dengan lapisan estetika yang instagramable—penderitaan yang sudah disulap jadi reels motivasional dan kisah sukses palsu yang penuh narasi falsafah.

Ironinya bertambah kental jika kita meninjau melalui kacamata poskolonial; Standar gaya hidup yang dikejar sering kali adalah standar barat, standar laki-laki sukses, standar putih, atau minimal, standar kelas atas. Perempuan diasuh untuk tampil cantik, elegan, dan inspiratif, meskipun realitasnya sedang ngutang skincare dan kerja lembur tanpa asuransi —cara bangsa bekas jajahan meniru gaya hidup bekas penjajah—berpakaian seperti Paris, berbicara seperti London, tapi gaji tetap standar umr dan kenyataan tetap yahh bebas sih mau diartikan seperti apa? 

Contoh-contohnya begitu menjamur, sampai sulit dibedakan mana satire dan mana kenyataan. Ada yang hidup minimalis secara finansial tapi maksimalis dalam story. Ada yang tiap hari kirim status WA penuh motivasi, padahal realitanya galau karena invoice belum dibayar beberapa bulan. Lebih ekstrem lagi, ada yang membangun brand image sebagai anak jalanan penuh luka, padahal aslinya tinggal di rumah cluster dengan Wi-Fi yang stabil dan orang tua yang doyan transfer. Bahkan ada pula pekerja rendahan yang tampil seperti direktur, mengenakan jas di coworking space walau realitanya masih freelance desain spanduk.

Semua itu menunjukkan satu hal: kita hidup dalam zaman ketika kenyataan bisa dinegosiasikan asal tampilan meyakinkan. 

. . . . . . . .tapi juga menyentil.

dari keberanian menjadi kebaruan, 
dari kritik menjadi klik
dari estetika perlawanan menjadi estetika perayaan
Sayangnya, bukan perayaan atas makna, tapi 

perayaan atas tampilan yang dekoratif, simbolik, ironik —dan sering kali... absurd dan kosmetik


—Cakal Bakal

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Regresi Emosional pada 'Aku' yang Bersikeras

Digitalisasi sebagai janji: Demokratisasi-Informasi yang berbalik

Bandung 'dalam' kurun kedua kali-nya

Metastasis [Akhir Tahun] pada Tata Ujar

Regresi Emosional pada 'Subjek' yang Bersikeras

Melawan Laut, Melawan Diri: Telaah 'Anti-Heroisme' pada The Old Man and the Sea Hemingway