Metastasis [Akhir Tahun] pada Tata Ujar

 
gambar/arsip pribadi.

“Hidup… tak mengampuni kepincangan—yang nulis

Sempat Menjadi Pertanyaan
2025: Petugas sensus
hanya mencatat
tanpa pernah menanyakan
apakah aku masih bernapas?
 
2025: Jalan-jalan menua lebih cepat
dari ingatan kami;
aspal menyimpan bisik
tentang langkah yang batal pulang.
2025: Rumah-rumah berdiri
dengan pintu menghadap harapan,
namun jendelanya dipaku
oleh ketakutan yang diwariskan.
 
2025: Siang hari segalanya tampak terang, meski memang sok hujan;
tak ada yang benar-benar jelas.
Haduuuuuh…
 
Mulutnya berganti
Berbunyi seperti janji … agar tampak baru;
Padahal isinya hanya pemindahan tanggal.
 
 
Kesalahan Tidak Pernah Mendapat Giliran
Bahasa berbaris rapi di …
Selamat;
Sukses;
Evaluasi;
Resolusi…
—Jarkom yang berdiri tegak seolah bernyawa.
Nekrosis mati karena terlalu sering diucapkan tanpa risiko
membusuk dalam kelaziman.
 
Tata ujar menjanjikan ketertiban
berfungsi seperti rumah sakit
yang lampunya menyala sepanjang malam
tak pernah menyembuhkan apa pun.
Eeemeeergeeency!
 
Bahasa dirawat agar tampak hidup
Disuntik statistic
Diberi infus optimisme
Ujaran tak lagi menyalurkan kebenaran;
 
Di mimbar-mimbar,
di layar-layar,
di unggahan yang dipeluk
Bahasa berbicara terlalu banyak untuk mengatakan terlalu sedikit
 
Adalah gema seperti laporan medis
Sebab setiap kegagalan telah diubah menjadi “proses”
 
 
Inflasi Ujar
Aku mencoba membaca
Isyarat
Mengenai tanah yang sudah
Kehilangan hak tumbuh.
 
Nekrosis tidak pernah dramatis… begitu pula bahasa: perlahan…, nyaris santun
Kita belajar marah tanpa mengganggu
Kata “kita” dipakai terlalu murah… tak ada yang benar-benar bersalah.
dalam “kita” selalu tahu cara menunjuk tanpa menunjuk diri sendiri sebagai hakim; yang hidup tahu bahwa menunjuk untuk mencegah pengulangan.
 
Menginginkan pencegahan;
Menginginkan kelancaran;
 
Kepercayaan dipakai
seperti pakaian pinjaman— cukup bersih untuk tampil,
Henteu cukup alus mun agulna hungkul...
Tidak… Tidak… Tidak…
Sebab pada akhirnya,
yang paling menyedihkan
melainkan hidup terlalu lama
dalam dunia…
yang tahu dirinya gamang
namun memilih
menyebutnya
adaptasi.
 
 
Tubuh yang Belajar Menunduk
Bangunan-bangunan berdiri dengan wajah seragam, seperti barisan kalimat yang disunting agar tidak memicu pertanyaan. Tidak ada sudut yang dibiarkan gelap sepenuhnya; penerangan berlebihan dipasang agar tak satu pun bayangan berani tumbuh menjadi tafsir.
Aku bekerja sebagai Penglamun, pekerjaanku sederhana: memastikan semua peristiwa masuk ke hayatan yang tepat. Kematian dicatat sebagai angka, penggusuran sebagai relokasi, tangisan sebagai kebisingan sementara. Setiap hari aku menggeser kenyataan agar muat di tabel. Setiap hari pula aku pulang dengan tangan bersih dan dada yang semakin berat.
 
Suatu Malam, seorang perempuan tua bertemu denganku diwarkop Ajat.
Tangannya gemetar karena membawa sesuatu yang tidak bisa diklasifikasikan.
Perempuan itu berkata rumahnya hilang.
Aku berfikir untuk membuka daftar istilah resmi, mencoba menemukan narasi yang dapat diterima.
 
Tidaaak ada!.
Kehilangan semacam itu terlalu personal;
terlalu jujur.
Maka aku menyarankan ia kembali besok, saat mungkin sudah diperbarui.
Perempuan itu tersenyum, senyum yang membuatku ingin menunduk. “Tak apa,” katanya, “aku juga sudah lama tidak terdaftar.”
 
Malamnya!
Dikosan waktu beres gosok gigi
 
Ternyata…
Malam datang perlahan
Lampu-lampu menghakimiku karna telat kunyalakan
 
Dikosan! aku membuka buku dan melihat kata yang seolah… terbakar
—ternyata adalah ingatan yang terlalu lama disimpan.
Aku teringat ayahku, yang dulu sering berkata bahwa ketakutan tidak apa-apa selama tahu di mana letaknya.
 
Sebelum tidur, aku bertanya pada diriku sendiri—pertanyaan yang tidak tercatat di mana pun: jika suatu saat aku hilang; akan dicatat sebagai apa? Angka? Gangguan? Atau spasi kosong yang dianggap kesalahan ketik?
 
Belajarlah menunduk JENDRAL!!!
Tinggalkan kebiasaan heroismemu itu…
 
 


Akhir Tahun sebagai Prosedur
Aku… Adalah… Lelaki…
Tengah… Malam…
(Ehh kela… Lanjutannya bukan ini bung
Itu mah “Air mata api” lagunya bang Iwan)
 
Ohh… Iya…
Lanjut dulu…  
(Sorry Aing ke distract)
 
Aku pernah mencoba menyebut diriku “aku” dalam catatan kecil di ponselku.
Tapi… Sistemnya otomatis menolak
Keterangannya menyatakan “Catatan itu hanya menerima data yang dapat diverifikasi”
 
Aku menghapusnya dan mengganti dengan “yang bersangkutan”…
Sejak saat itu, aku tahu posisiku: sebagai catatan kaki yang tidak pernah dibaca.
 
Aku menulis kalimat lengkap: “Aku melihat”, “Aku mendengar”, “Aku… ”.
Aku tahu catatan itu tidak sah, tidak akan memengaruhi apa pun. Tapi menulisnya membuatku sadar betapa lama aku hidup sebagai predikat tanpa subjek.
 
Aku menutup mata dan membayangkan diriku menghilang. Bukan mati, hanya tidak tercatat.
Tanpa kolom;
tanpa nomor…
Anehnya, bayangan itu tidak menakutkan.
Fiiiiiiks… Rasanya seperti kebebasan yang belum diberi izin.
 
Aku mencoba mengingat;
Nama,
Suara,
Jeda.
 
Aku merasakannya di dadaku, di cara aku menarik napas, di kebiasaan baru untuk diam lebih lama sebelum menjawab.
 
Aku terbangun dengan mata basah
dan perasaan bersalah
yang tidak tahu kenapa?
 
Dan bagian itu semakin berat untuk diabaikan
 


 
Itulah nama-nama Bulan
Tahun berjalan seperti iring-iringan jenazah yang terlalu panjang untuk diingat satu per satu.
Tahun baru selalu datang dengan suara petasan… gema tahun lama tidak pernah benar-benar pergi.
Hanya…
Menunggu lengah.
 
Januari; berwajah pucat,
Februari; singkat,
seperti orang yang tidak ingin lama-lama hidup.
 
Maret: hanya berisiknya saja.
April: mengajarkan cara menunda kesedihan dengan alasan cuaca; (anggap aja karna aing lahir dibulan ini).
 
Mei: mengajarkan cara pura pura tersenyum saat sarjana.
Juni: datang membawa angka-angka setengah tahun; tidak ada indikator bagi tubuh yang diam-diam membusuk.
 
Di pertengahan tahun, aku berhenti menghitung hari.
Satu suara yang tidak lagi menjawab pesan.
Satu kebiasaan kecil yang duduk dan menunggu kita lelah.
 
Juli: panas dan gaduh.
Agustus: penuh bendera dan pidato tentang Merdeka;
kebebasan adalah barang jadi
“sejarah?”
Akkcchhh…
Mereka terlalu nyata.
 
September: membawa kelelahan yang jujur…
Karna… apa?
Karna…
duka tidak pernah mau dikotakkan.
 
Oktober: adalah bulan ragu;
Semua terasa menggantung.
 
November: datang dengan hujan yang tidak menenangkan
menambah berat tanah,
membuat langkah semakin lambat
 
Lalu…
Desember:
Bulan yang selalu diminta bersikap ramah.
Lampu-lampu dipasang untuk mengalihkan pandangan dari retakan tembok.
Ucapan “selamat” diulang berkali-kali,
tidur di sisi kita;
bangun lebih dulu setiap pagi.
 
 


Pengennya jangan sebut penutup!
Kegamangan…
kini tidak berisik.
meski selalu duduk seperti tamu lama
… yang tahu
tak akan diusir, juga tak akan dipeluk
Berbagi diam, dan diam itu berat
seperti sejarah yang disederhanakan
agar muat di buku pelajaran.
Memungut sisa-sisa… yang tercecer di selokan berita.
sebagian sudah basah,
sebagian lagi terlalu tajam untuk dipegang tanpa melukai niat…
 
Di antara huruf-huruf itu,
ada namaku
yang pernah kupinjamkan untuk sebuah keyakinan
yang tak kembali.
 
Ada kematian, ada al-qur’an
Untuk mengajari cara berbaring dengan tenang.
 
Tanya;
yang tak berani diucapkan keras;
Barangkali harapan masih terlipat di sini,
di ruang gelap yang tak terjangkau kalkulasi.
Barangkali cinta
tak pernah cocok ditimbang, apalagi diperdagangkan
Perempuan-perempuan kata berlari di lorong sempit layar.
Mata menguntit dari segala arah.
 
Dan aku melihat Jasmine.
 


 
(Des, 2025)
Sang Mesra —Akhir Tahun

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Post-Sovereign Maritime Order: Kedaulatan Laut Lepas Pasca-BBNJ Agreement

Ratifikasi High Seas Treaty [4]

Melawan Laut, Melawan Diri: Telaah 'Anti-Heroisme' pada The Old Man and the Sea Hemingway

Bandung 'dalam' kurun kedua kali-nya

Regresi Emosional pada 'Aku' yang Bersikeras

O Tuhan "Jemari-ku" Gemetar Menggenggam "Sisa" Diriku Sendiri

Membaca Legalitas Utara pada 'Epistemologies of the South'

Digitalisasi sebagai janji: Demokratisasi-Informasi yang berbalik

Regresi Emosional pada 'Subjek' yang Bersikeras