Label Perlawanan dan Kartu Nama Aktivis


"Kita menyebut diri “progresif” sambil memamerkan superioritas intelektual pada mahasiswa baru yang masih canggung menata logika —mereka mencuri kosakata revolusi dari buku-buku kiri, namun membacanya sepotong dan sembunyi-sembunyi, tanpa renungan yang logis. Bahkan manifesto hanya dibaca hingga halaman pengantar, sisanya dipamer di story yang artistik tapi apolitis. Berpakaian seperti Che, tapi berpikir seperti CEO neolib yang eksploitatif —bicara soal struktur, tapi lupa bahwa struktur butuh agensi yang reflektif, bukan cuma pose revolusioner yang agresif—satu lagi, aku benci pada mereka yang menjadikan aktivisme sebagai jalan karier"

Mencintai pemikir; hingga mendiskusikannya—tapi halaman pertama tak pernah selesai

Sudah cukup kita menunjuk jari, saatnya menelusuri retak dalam diri. Sebab kritik tanpa oto-kritik hanyalah superioristik—membangun menara tuduhan tanpa fondasi refleksi yang dialektik. Dan bukankah ironi paling telanjang adalah saat kita mengecam panggung, tapi tak sadar sedang memainkan peran yang sama di balik lampu-lampu publik yang hipnotik?

Apakah kita benar-benar berbeda dari mereka yang kita caci seperti tulisan dramatik? Ataukah kita hanya lebih fasih menyamarkan nafsu menjadi narasi yang estetik? Bisa jadi kita pun sama: berteriak soal keberpihakan, tapi lebih sering tampil untuk eksistensi yang strategis—seolah hadir dalam gerakan yang kolektif dan emansipatoris.

Barangkali kita membaca buku lebih banyak, tapi untuk mengukuhkan ego akademik; menyebut Marx, Bourdieu, rawls, hingga tokoh sastra di Indonesia dengan gaya fonetik yang eksentrik—namun gagal menanamkannya pada diskursus problematik (lebih jauh menulisnya hingga studi penerapannya). Satu hal yang mesti dijungjung tinggi, pengetahuan ialah komitmen etik

Kita mengaku mencintai perlawanan —mencintai keberpihakan
Kita bicara soal kesadaran,

Dan bukankah kadang kita juga hanya menulis untuk dikutip, bukan untuk membebaskan? 

Menghadiri diskusi demi tampil dalam dokumentasi, bukan memperluas horizon berpikir yang kolektif dan reflektif. 

Kita menjadikan setiap aksi sebagai konten
bukan laku transformatif. 

Maka kritik pun kehilangan darahnya, sebab kita menyedotnya sendiri dalam euforia yang narsistik.

Bahkan mungkin kita pun pernah menyalahgunakan organisasi. Membuatnya alat seleksi sosial, bukan ruang edukasi kolektif. Menyingkirkan yang tak sepemikiran, menyusun program demi pengakuan, bukan untuk menjawab kebutuhan. Maka organisasi pun kehilangan rohnya sebagai organ perjuangan.

Tak jarang kita membungkus dominasi dalam retorika kepemimpinan. Menyebut “konsolidasi” dan saat itu terjadi, kita bukan sedang membangun perlawanan—melainkan sedang mengarsiteki tirani dalam kostum yang idealis dan manis.

Ada masa ketika kita bicara soal rakyat
tapi tak tahu satu pun nama buruh pabrik yang digaji dua ribu per potong. 

Kita menyebut "kelas tertindas", tapi belum pernah duduk bersama nelayan yang perahunya ditabrak kapal asing

Maka perlawanan kita pun artifisial—konseptual tapi tak kontekstual.


Panggung Panggung Kritis yang sibuk; tentang kritik -oto kritik

Oto-kritik adalah keberanian menyadari bahwa kita pun bagian dari sistem yang kita kritik. Kita juga punya warisan kolonial dalam; 
cara memimpin
cara menyusun wacana
cara mendekati massa. 

Kita bukan di luar sistem, tapi terseret dan terbentuk olehnya. Dan sadar akan itu bukan kelemahan
tapi awal dari kemerdekaan.

Sering kali kita bicara soal anti-otoritarianisme
tapi senang jadi pusat dalam segala forum

Tak mau dibantah, alergi pada sanggahan dan gelisah jika tak disebut sebagai “yang paling paham.” 

Maka apakah kita benar-benar antikuasa atau hanya cemburu karena tak mendapat tahta?

Kita mengkritik aktivisme elektoral
Kita menyebut orang lain dangkal —tapi tak pernah mencatat bahwa kedangkalan itu bisa juga bersembunyi dalam gaya menulis yang rumit dan eksklusif

Oto-kritik mengajarkan bahwa keberpihakan bukan soal siapa yang paling keras berteriak, tapi siapa yang paling sabar mendengar. Bukan soal siapa yang paling sering mengutuk, tapi siapa yang paling tekun mendampingi. Bukan siapa yang paling viral, tapi siapa yang tetap bertahan meski tanpa tepuk tangan.

Oto-kritik adalah revolusi batin yang tak tercatat dalam berita
Ia adalah pertempuran melawan ilusi tentang “diri yang paling benar.” Ia adalah proses memilah antara suara hati dan bisikan ego

Ia adalah bentuk tertinggi dari militansi: menyangkal kenyamanan diri demi kebebasan kolektif yang otentik dan praksis.

Mungkin kita harus mulai menulis ulang cara kita mengkritik. Bukan untuk menunjukkan siapa yang salah, tapi untuk membuka ruang bagi siapa pun agar bisa tumbuh dan berubah. 

Kita butuh kritik yang membuka, bukan mengunci 
Kritik yang membebaskan, bukan menghukum
Kritik yang membongkar, bukan mengubur.

Karena bila kritik hanya jadi alat pemisah antara “kami” yang suci dan “mereka” yang najis, maka itu bukan emansipasi—itu adalah dogma baru yang fasis. 

Dan dalam dunia yang ingin kita rubah, dogma adalah racun yang selalu mencari kulit baru yang lebih manis.

Kita tak bisa menyelamatkan dunia dengan gaya yang sama seperti yang merusaknya. 
Kita tak bisa bicara soal transformasi kalau tak mau mengubah diri. titik mula: dari situ kita berhenti mencaci dan mulai mencuci; 
—Mencuci kesombongan
—Mencuci romantisme
—Mencuci segala ambisi yang membajak nama “perlawanan”.

Mari kita akui: kita pun punya lubang, punya luka, punya laku yang kadang kontradiktif. Tapi pengakuan bukan tanda gagal, melainkan benih dari transformasi yang substantif. 

Sebab hanya dengan mengakui, kita bisa memperbaiki. 

Dan hanya dengan memperbaiki, kita bisa benar-benar berpihak—bukan hanya tampak tampil berpihak.

Oto-kritik menolak kultus diri, menolak posisi yang absolutistik

Ia membuka ruang rapuh dalam dada, agar perlawanan tak lahir dari dendam, tapi dari kasih yang politis. Bukan untuk melukai, tapi untuk membebaskan. Bukan untuk jadi suci, tapi untuk jadi manusia yang konsekuen dalam praksis.

Maka jika benar kita mau jadi bagian dari perubahan yang revolusioner, kita harus sanggup membakar kartu nama aktivis, Menghancurkan label yang hanya mempertebal batas. Dan berjalan tanpa perlu gelar, tanpa perlu panggung, tanpa perlu sorot lampu yang retoris.

Karena perlawanan sejati lahir dari sepi
Dari kejujuran untuk menelanjangi diri. 
Dan dari keberanian untuk memilih menjadi tak terlihat
demi memperlihatkan yang selama ini tak terlihat
—dengan radikal, dengan konsisten


Aksi diam yang ramai

Kita tak cukup hanya berkata: “aku juga salah.” Itu pengakuan yang klise dan hambar

Kita harus bertanya: apakah benar kita ingin membebaskan, atau hanya ingin terlihat membebaskan? Apakah benar kita peduli soal keadilan atau hanya trauma pada rasa tak penting yang dulu pernah menghantam kita diam-diam? Apakah kita bersuara karena gelisah atau karena takut dilupakan dari sejarah?

Sebab ada hasrat lain yang lebih berbahaya dari ideologi: hasrat untuk diakui. 
Dan dalam dunia pasca-kebenaran ini
pengakuan lebih penting daripada keberpihakan 

Maka tak heran jika kritik berubah jadi kompetisi
bukan perenungan

Debat menjadi teater gladiator
bukan ruang tafakur yang kolektif dan transformatif.

Kita harus jujur: banyak dari kita membangun narasi perjuangan, tapi enggan benar benar menyentuh kehidupan. 
Kita bicara tentang strukturalisme sambil duduk di kafe mahal yang industrialistik. 
Kita menyebut rakyat sambil memakai hoodie keluaran brand luar negeri yang eksploitatif. 

Di mana letak kontradiksi itu dibongkar secara praksis?

Barangkali kita bicara tentang kelas
tapi tak pernah bercermin pada kelas kita sendiri

Kita berasal dari golongan yang relatif mapan (semisal) dengan akses terhadap wacana dan koneksi institusional. Lalu kita tampil sebagai penyelamat, bukan sekutu. 

Kita menggurui, bukan mendengar. 
Kita tampil, bukan menyatu

Dan dari situ, perjuangan menjadi kolonial yang direproduksi dalam versi “kiri” —sehingga

Tak ada satu pun kata “pembebasan” yang bermakna bila tidak didahului oleh pembebasan dari egosentrisme; siapa yang sebenarnya ingin kita bebaskan? Masyarakat? Atau diri kita yang sejak awal hanya takut menjadi biasa, takut menjadi tidak penting, takut kehilangan peran dalam kehidupan yang hampa makna?

Mengapa kita selalu ingin tampil sebagai yang paling benar? Apakah karena keyakinan atau karena kita tidak tahan melihat kebenaran hidup tanpa wajah kita di dalamnya? Maka kita bentuk kebenaran seperti patung dan wajah kita adalah ukiran paling jelas di kepalanya.

Dan saat kita membentuk kebenaran berdasarkan kemiripan dengan diri, kita telah membunuh kolektivitas 

Kita memproduksi ego di atas solidaritas

Bahkan dalam aksi 
kita saling menilai siapa yang paling revolusioner
—bukan siapa yang paling sabar mendengar keluh kesah ibu-ibu yang kehilangan tanahnya.

Penuh ritual
Penuh dogma
Penuh tata cara —tapi miskin kesadaran akan relasi kuasa yang membentuknya
Bahkan kritik terhadap kapitalisme pun bisa menjadi komoditas Bahkan perlawanan bisa menjadi merek dagang

Mengapa kita terus menyebut “perlawanan” dengan nada megah? Karena kita ingin tampak besar
Kita ingin tampak tegas. Kita ingin tampak melawan. Tapi siapa yang sedang kita lawan? Atau lebih tepatnya, siapa yang sedang kita bangun sebagai musuh agar narasi heroisme kita tetap hidup?

Kadang musuh tidak nyata—tapi kita menciptakannya agar kita tetap relevan. Kita butuh antagonis untuk tetap merasa protagonis

Sehingga kita terlalu cepat menyimpulkan siapa lawan, siapa kawan
Terlalu cepat menuduh siapa pengkhianat, siapa setiawan
—Padahal dunia ini jauh lebih cair dan penuh kerumitan yang menolak dikotomi usang.

Lalu apakah ini bentuk pesimisme? Tidak
Ini bentuk eksaminasi

Kritik terhadap diri bukanlah tanda menyerah
tapi langkah pertama menuju militansi yang lebih jernih

Bukan menyerah, tapi menyaring
Bukan membatalkan perjuangan, tapi membersihkan sisa-sisa ego yang menodainya.

Kita butuh keberanian untuk tidak jadi tokoh
tidak jadi pahlawan
tidak jadi penulis utama dalam naskah sejarah

Kita hanya butuh jadi bagian yang utuh dari perjuangan yang bersifat kolektif, bukan dekoratif. 

Bersifat menyatu, bukan menunjuk. Bersifat membongkar, bukan memonumenkan.

Jika tak sanggup memulai dari kesadaran ini, maka kita akan terus-menerus terjebak dalam lingkaran: menertawakan kebodohan orang lain, sambil menyembunyikan kepalsuan dalam diri sendiri. Maka benar kata Simone Weil: “Untuk bisa berpikir secara bebas, pertama-tama kita harus belajar menolak kebohongan yang paling kita sukai: kebohongan tentang diri kita sendiri.”


Dewan-Dewanan di Ruang Pendingin

Perlawanan bukan tentang siapa yang terdengar paling nyaring, tapi siapa yang paling tenang dalam menata kebenaran yang berserakan
Dan dalam proses itu, mungkin kita perlu lebih banyak diam. 
Diam yang aktif. Diam yang penuh pembongkaran. Diam yang sesekali post-politis.

Barangkali inilah bentuk keberpihakan paling jujur: saat kita tak lagi sibuk menegaskan bahwa kita berpihak. 
Tapi menyatu dalam kerja
dalam dengar
dalam cemas yang kolektif
dalam harapan yang tak perlu disebut
—karena telah menjadi tubuh


Perlawanan ke Pertunjukan

kampus yang katanya miniatur republik menjumpai wajah-wajah aktivis yang kaku berdiri di atas panggung-panggung diskusi, menyuarakan kutipan tanpa logika yang autentik, seperti toko buku yang hanya menjual sampul tanpa isi —sebab baca buku pun tak pernah tuntas, apalagi bersikap historis.

jas organisasi dan pin berkilau ideologis, sering kali tersembunyi semangat yang kosmetik. Kata “perlawanan” jadi ornamen dalam biodata publik —gaung kosong yang terdengar narsistik, bukan etos pembebasan yang bersifat organik dan progresif-strukturalis.

Tak jarang mereka berdandan dengan wacana pascakolonial, tapi masih terjebak dalam logika kolonial yang simbolik. Membincang Paulo Freire sambil memaksa adik tingkat tunduk dalam relasi yang feodalistik. Ironi menjadi estetika, bukan dialektika—aktivisme semu yang justru bersifat regresif, bukan dialektis.

Kampus dijadikan panggung, bukan ruang temu pikir yang analitik. Bahkan ruang kelas dijadikan catwalk wacana kosong yang mimikrik —Mahasiswa sok filsuf tapi tak bisa membedakan Kierkegaard dari Karl Marx, apalagi memahami Habermas dalam konteks yang sistemik dan historis-empiris.

Organisasi pun hanya jadi kartu nama dengan logo yang politis. Bukan sarana perjuangan, tapi alat naik kelas sosial yang oportunistik —Maka label perlawanan tak lebih dari komoditas simbolik.

Mereka mencuri kosakata revolusi dari buku-buku kiri, namun membacanya sepotong dan sembunyi-sembunyi, tanpa renungan yang logis. Bahkan manifesto hanya dibaca hingga halaman pengantar, sisanya dipamer di story yang artistik tapi apolitis. Berpakaian seperti Che, tapi berpikir seperti CEO neolib yang eksploitatif.

Gerakannya mengutip teori kritis, tapi tak bisa membedakan mana Habitus dan mana Hegemoni yang dialektis —bicara soal struktur, tapi lupa bahwa struktur butuh agensi yang reflektif, bukan cuma pose revolusioner yang agresif


Label aktifis seperti layar LCD

Label aktifia jadi semacam stiker, ditempelkan di bio Twitter secara aktual. Namun saat diuji dengan praksis sosial, mentalnya langsung gugup dan vokal jadi minimal. 

Mereka sering menulis “long live revolution” di status WhatsApp yang simbolis, tapi saat kawan dikriminalisasi mereka bungkam dan apatis. 

Kritik sosial mereka hanyalah gema dari Youtube yang teoritis. Bukan hasil bacaan yang dialogis atau riset yang metodologis. Bahkan mereka bingung ketika ditanya epistemologi dari narasi yang mereka bawa, sebab semua hanya replikasi dari tren yang populer dan populis.

di organisasi, mereka hanya datang saat pemilihan ketua, berharap terpilih meski tak pernah kontribusi nyata. Mereka tak punya gagasan, hanya ingin kekuasaan—dengan modal gaya bicara yang bombastis dan taktis, tapi kosong dari substansi yang otentik dan praksis.

Mahasiswa model ini sering pakai kata “rakyat” di tiap kalimat retoris. Tapi tak pernah turun ke lapak yang terusir dari tanah. Mereka bicara soal agraria, tapi tak kenal petani yang digusur di Garut atau di Cilacap yang —semua jadi slogan yang manipulatif.

Label “aktivis” kini hanya jadi semacam CV sosial yang strategis. Berguna untuk LPJ, proposal lomba debat, atau beasiswa dari LSM internasional yang pragmatis. Maka perlawanan pun kehilangan makna—digerus oleh niat-niat pribadi yang oportunis dan apolitis.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah lahirnya kelas baru mahasiswa yang serba sinis. Mereka mencela segala hal sebagai palsu dan tak progresif —tak pernah menawarkan solusi bahkan kritik pun haram baginya; hanya tameng dari kemalasan yang sistematis.

—bicara soal "hegemoni", tapi tak tahu bagaimana membongkarnya
—meniru suara Gramsci, tanpa memahami artikulasi kuasa dalam ruang budaya yang represif
—bicara soal “reformasi,” tapi belum baca dokumen orisinil dari mahasiswa 1998 yang historis. Bahkan tak tahu siapa yang merumuskan Piagam Mahasiswa atau Forum Kota itu
—mengaku feminis, tapi mempraktikkan relasi yang misoginis juga bicara cara soal kesetaraan 
—mengaku anti-otoritarianisme, tapi memperalat organisasi untuk membungkam yang kritis
—meneriakkan “demokrasi,” sambil menjalankan struktur organisasi yang oligarkis

Label perlawanan di tangan mereka jadi seperti produk yang seolah; Banyak warna, banyak janji tapi isinya cuma pewarna 

tak ada proyek transformatif—yang tersisa hanya sisa-sisa gaya hidup yang artistik tapi nihilistik.

Menyebut diri “intelektual organik,” tapi lebih sering jadi badut akademik. Bicara soal ketertindasan sambil mengejar likes dan klout yang statistik. menjual ide seperti merchandise, menukar teori dengan trafik.

Yang paling menyedihkan adalah ketika mereka menyebut diri “korban sistem yang represif,” padahal tak tahu bagaimana sistem itu bekerja secara sistemik. Bahkan tak tahu bedanya neoliberal dan sosial-demokrat yang reformis.

Lebih tertarik dengan “event” daripada “movement,”

Mereka suka menyebut kata “progresif,” tapi selalu alergi terhadap kritik yang objektif. Semua dikira serangan, bukan dialog dialektik. Maka berkembanglah budaya aktivisme yang defensif dan tidak reflektif.

Di ujung semua ini, kita bertanya: apakah mereka benar-benar melawan, atau hanya berperan sebagai aktor seperti film korea yang dramatis? Apakah perlawanan masih punya makna, atau sudah sepenuhnya dijual ke pasar simbolik yang kapitalistik?

kartu nama aktivis hanyalah jubah retoris. Perjuangan jadi panggung kariristik

Maka tugas kita bukan cuma mengkritik, tapi membongkar topeng-topeng simbolik yang oportunis dan manipulatif—agar perlawanan kembali punya ruh yang substansial dan transformatif, bukan hanya retoris (ngabacot hungkul) 

Di sinilah kita harus membedakan antara popularitas dan keberpihakan. Yang satu mengejar impresi, yang lain menuntut konsistensi. Popularitas bisa diraih lewat twibbon, poster dan hashtag. Tapi keberpihakan membutuhkan keberanian untuk tetap berdiri ketika semua kamera sudah mati


Dan pada titik inilah, sebagian besar aktivis-kutip itu jatuh pada absurditas yang tragis.


Citra diri yang dibangun lewat forum-forum retorika tanpa aksi konkret hanyalah semacam panggung teatrikal yang hiperbolis. mungkin bicaranya seolah padat, tapi tak pernah mengalir ke arah praksis. 


Berpihak pun jadi selektif: hanya pada isu-isu yang sedang trending dan bisa menaikkan eksistensinya secara politis. Maka jika ada konflik agraria di pedalaman, mereka diam karena tak ada spotlight. Tapi jika itu terjadi di depan kamera, mereka langsung pasang sikap simpatik.


Keberpihakan yang obyektif seharusnya lahir dari dialektika antara teori dan kondisi sosial yang faktual, bukan dari polling atau kalkulasi citra digital. Namun hari ini, banyak yang hanya ingin terlihat berpihak, 

bukan benar-benar berpihak. 


Elektabilitas jadi kutukan baru yang membungkam daya kritis. Setiap posisi dianggap transaksi elektoral bukan ekspresi etik dari keberanian yang radikal dan realistis


Maka tak heran bila banyak yang berubah haluan seperti kertas yang tertiup angin oportunisme: hari ini kiri, besok liberal, lusa netral, dan akhirnya nihil.


Seolah keberpihakan bisa dinegosiasikan seperti komoditas. Padahal sejarah mengajarkan bahwa berpihak itu artinya memikul konsekuensi, bukan sekadar memainkan narasi. 


Bahkan pimpinan sejati tidak pernah mengejar elektabilitas—mereka mengejar keadilan, meski itu berarti harus berjalan sendirian melawan arus mayoritas.


Mahasiswa yang menjadikan aktivisme sebagai batu loncatan politik pribadi hanya sedang memoles biografi, bukan membangun perubahan sosial. Mereka tidak sedang belajar mencintai rakyat, mereka sedang belajar bagaimana memanipulasi rakyat.


Dan dalam proses itu, yang dikorbankan adalah kebenaran, integritas, dan gerakan itu sendiri—semua demi “branding” yang atraktif dan impresif.


Di dunia yang dipenuhi oleh kalkulasi elektoral ini, 

menjadi jujur adalah tindakan subversif


Dan menjadi berpihak secara obyektif adalah jalan sunyi yang sering kali tidak populer, tapi justru itulah medan perlawanan sebenarnya

kita perlu bertanya: apakah kamu aktivis karena panggilan hati, atau hanya sedang mencalonkan diri?


Hipotesis hela ji ahh; Kehilangan arah ideologis dan keberpihakan dalam gerakan mahasiswa serta organisasi kemahasiswaan di perguruan tinggi disebabkan oleh transformasi fungsi organisasi menjadi ruang reproduksi kapital simbolik dan politisasi identitas, di mana aktivisme lebih difungsikan sebagai mekanisme pencitraan, bukan sebagai praksis emansipatif yang berakar pada realitas struktural rakyat. 

Kondisi ini diperparah dengan situasi birokratisasi kampus, dominasi logika teknokratik, serta absennya dialektika ideologis yang konsisten bahkan dalam ruang keorganisasian sekalipun, sehingga menghasilkan generasi mahasiswa yang terjebak dalam aktivisme performatif yang penuh ilusi keberpihakan, namun miskin kesadaran kritis dan komitmen praksis.




Sakitu hla ji, 

ke di lanjut deui


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Regresi Emosional pada 'Aku' yang Bersikeras

Digitalisasi sebagai janji: Demokratisasi-Informasi yang berbalik

Bandung 'dalam' kurun kedua kali-nya

Metastasis [Akhir Tahun] pada Tata Ujar

Regresi Emosional pada 'Subjek' yang Bersikeras

Melawan Laut, Melawan Diri: Telaah 'Anti-Heroisme' pada The Old Man and the Sea Hemingway