Baduy yang kental akan power culture dalam tradisi leluhur

     
dokumentasi tatkala observasi berlangsung

"Tentang keanekaragaman Indonesia yang tidak ada habisnya, menjadi nilai lebih untuk masyarakat yang ada, kesederhanaan dan kebudayaan leluhur yang terjaga sebuah manifestasi tentang entitas manusia yang berbeda dan ekosistem alam sebagai cakrawala tanpa melihat status sosial didalamnya sebagai realita!"

     Di peng ujung tahun kemaren aku dan rekan yang lainnya menginisiasikan diri untuk memenuhi tugas observasi hukum adat di Suku Baduy Lebak pedalaman Banten, Sambutan yang hangat dan ramah menjadi sebuah bentuk rasa hormat dan takdzim kepada masyarakat disana yang memang kaya akan artefak peninggalan dan intisari kebudayaan yang bisa di petik dalam masyarakat Baduy terkhusus di kehidupan sehari-hari dan keberlangsungan kehidupan yang tidak terlepas dari tradisi (turats) dan budaya leluhur (Sunda wiwitan) yang kaya akan fenomena dan interaksi dari kehidupan masyarakat lain pada umumnya.

   Terlepas didalam sebuah kebudayaan dan tradisi yang kaya dan berbeda masyarakat baduy memiliki beberapa keunikan didalamnya seperti tatacara berpakaian aturan-larangan yang mereka percayai sehingga disini aku mau sedikit bercerita hasil dialektika kita dengan masyarakat disana khususnya dengan kepala suku yang ada di Baduy luar (kajeroan) pemimpin kepala suku yang disebut puun dan wakilnya disebut jaro terlebih pertama di masyarakat Baduy tersendiri itu terbagi menjadi dua bagian yaitu masyarakat Baduy luar dengan cirikhas berpakaian biru -hitam yang di anggap sebagai masyarakat yang telah keluar dari Baduy dalam yang masih memegang teguh ajaran leluhur (Sunda wiwitan) sepenuhnya berciri khas pakaian putih-putih.

  Berbeda halnya dengan masyarakat Baduy Dalam, masyarakat Baduy Luar kini sedikit sudah tercampur dengan pengaruh oleh Billboard teknologi produksi dan komunikasi seperti elektronik, senter, lampu emergency, bahkan sampai ke mainan anak-anak terkhusus menggunakan gadget ponsel pintarnya tatkala anak-anak muda Baduy luar ingin bepergian ke kota.

     Sistem kekerabatan Baduy terdapat bentuk kekerabatan yang diterapkan atau dalam kekerabatan Baduy penerapannya yang menitik beratkan pada letak geografis rumah dan keluarga yang dilihat dari tiga wilayah yaitu Desa Tangtu Desa Panamping dan Desa Pajaroan terlebih dalam hal tersebut seluruh masyarakat baduy yang mengumumkan bahwa lokasi kampung Baduy secara lengkapnya disebut dan dikenal dengan sebutan "Tangtu Teulu Jaro Tujuh" memberikan makna bahwa seluruh warga di wilayah baduy ialah satu kerabat yang berasal dari satu nenek moyang. Perbedaannya terletak pada aspek zaman dahulu kala yang lebih dulu ada dan yang muda sehingga dalam hubungan kekerabatannya masyarakat baduy terdapat sektor wilayah warga cikeusik yang dianggap paling tua, wilayah Cikertawana tengah dan wilayah Cibeo paling muda.

   Dalam kehidupan sehari-hari nya pun masyarakat Baduy menggunakan bahasa Sunda sehari hari sebagai bahasa ketika berinteraksi dengan lingkungan sosial sekitar, Diketahui pula bahwa disana masyarakat memenuhi kebutuhannya menggunakan mata pencaharian alam seadanya dan semaksimal -maksimalnya ia tanam disana yang kebetulan pada saat tatkala berkunjung sedang diadakan kerja bakti yang di disebut sebagai Rereogan yang dimana seluruh warga disana bergotong royong dan bekerja sama dalam segala hal yang dilakukan seperti bercocok tanam (hama), berkebun terkhusus disana dengan durian dan tangkal petai yang luas dan lebat.

  Disisi lain masyarakat budaya yang memegang teguh budaya Sunda leluhur ada sebuah tradisi didalamnya yang di sebut sebagai Kawalu dimana sebuah ritual adat khusus mereka yang dilakukan secara tertutup selama tiga bulan, dipaparkan oleh kepala suku Baduy luar bahwasanya Kawalu ini merupakan sebuah ritual kegiatan disiplin dari setiap tahun yang terhitung di kalender Baduy dengan menutup diri dengan warga luar dan wisatawan.

   Pikukuh merupakan sebuah sebutan perangkat pengetahuan masyarakat baduy dimana mereka tidak mencampurtangankan sebuah perkembangan yang ada diluar namun mereka diajarkan turun temurun dari sebuah ajaran warisan leluhur, terkhusus masyarakat dalam yang sehari hari tidak mengenal tulisan segala prodak hukum adat istiadat mengacu kepada warisan nenek moyang yang dipercayainya, Dalam pengetahuan masyarakat baduy yang secara letak pendidikan sangat tertinggal jauh namun mereka yang belajar otodidak mapan akan informasi tentang gejala-gejala alam sesuai dengan kondisi dan keadaan didalamnya terlebih mereka yang diajarkan intoleran, memiliki jiwa sosial yang tinggi dan teknik bertani yang diajarkan leluhurnya. 

    Meski pada saat ini masyarakat baduy tinggal menetap yang pada dahulu tinggal nomaden secara data kasar jumlah kini terdapat 26.000 ribu jiwa dan mereka yang menutup diri dari dunia luar yang didorong oleh keyakinan yang kuat dan kepatuhan tanpa sedikitpun penolakan kepada kepala adat terciptanya sebuah masyarakat yang hidup dengan tatanan kedamaian, adil, sejahtera dan setara tanpa melihat status sosial yang menjadi pembeda.


sekian.













sumber reverensi : jarotanggu masyarakat baduy luar 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Regresi Emosional pada 'Aku' yang Bersikeras

Digitalisasi sebagai janji: Demokratisasi-Informasi yang berbalik

Bandung 'dalam' kurun kedua kali-nya

Metastasis [Akhir Tahun] pada Tata Ujar

Regresi Emosional pada 'Subjek' yang Bersikeras

Melawan Laut, Melawan Diri: Telaah 'Anti-Heroisme' pada The Old Man and the Sea Hemingway