O Tuhan "Jemari-ku" Gemetar Menggenggam "Sisa" Diriku Sendiri

  foto/arsip pribadi

O Tuhan....

yang menetes perlahan dari rongga jiwa

yang koyak merangkak menuju-Mu

yang kelembutan-Mu melebihi kuno dari waktu,

yang lebih halus dari cahaya pertama yang Kau ciptakan.


O Tuhan

oleh kesalahan,

oleh ketidaksabaran,

oleh kelelahan yang terus menumpuk di dada seperti debu

Engkau tetap membukakan pintu dengan sabar yang tak dapat disamai oleh bahasa mana pun.


Aku merayu-Mu dengan suara yang samar,

suara yang kehilangan bentuk; sebagaimana seorang ibu menerima anaknya yang pulang dengan pakaian robek

yang tak pernah mencaci kepatahnnya

tanpa tanya, tanpa cela, hanya dihangatkan oleh dekapan belas kasih.


O Tuhan, betapa mulianya Engkau,

yang berbisik: “Pulanglah, Aku tetap di sini.”

sinar kecil yang menyelinap

melainkan dari kemurahan-Mu.

tak ada yang benar-benar hilang bagi jiwa yang masih ingin kembali kepada-Mu.


O Tuhan… Engkau Maha Baik dengan cara yang tak mampu dipahami oleh logika manusia, Engkau memperbaiki juga apa yang kupikir mustahil untuk dipulihkan. Engkau mengembalikan makna yang pudar, membasuh nestapa yang beku dan membuat air mata menjadi saksi bahwa rahmat-Mu tak pernah berhenti mencari hamba-hamba yang tersandung.


O…

Betapa…

Jemari-ku gemetar,

yang hampir punah oleh dirinya sendiri.


‘‘jika hanya ‘sisa’ diriku yang mampu kubawa kepada-Mu, maka jadikanlah sisa itu cukup—sebab Engkau selalu Maha Baik, bahkan kepada jiwa yang datang dengan tangan kosong.”


a

k


m

e

r

a

s

a

k

a

n;


kelembutan-Mu yang lebih kuno dari waktu,

lebih halus dari cahaya pertama yang Kau ciptakan.

Bahwa Tuhan tidak pernah membenci hambanya yang datang dalam keadaan rusak.
Tidak pernah menolak hambanya yang datang menangis tanpa kata.
Tidak pernah menutup pintu bagi hambanya yang kembali tanpa apa-apa…


“Bahkan ketika engkau kehilangan dirimu…

Aku tidak pernah kehilanganmu.”

SUBHANALLOH;

MAHASUCI ALLAH YANG TIDAK BISA DIHAKIMI OLEH AKAL MANUSIA


Ada kebeningan yang membuat hati serasa ditusuk perlahan ketika menyadari: bahwa Tuhan mencintai hambanya-justru ketika ia paling tidak mampu mencintai dirinya sendiri.

Kesedihan yang memancar dari “aku,” tentang betapa besar kebaikan Tuhan yang sering kita lupakan.
Betapa lembutnya Dia, bahkan kepada hati yang berdebu.
Betapa sabarnya Dia, bahkan kepada jiwa yang tersesat jauh.
Betapa dekatnya Dia, bahkan kepada manusia yang merasa paling jauh.


adalah kesadaran kecil di TUBUH:
bahwa “sisa” diriku yang ia genggam—yang baginya tampak tidak berharga—
ternyata tetap cukup bagi Tuhan.


Cukup untuk dimaafkan.
Cukup untuk disayangi.
Cukup untuk dikembalikan.
Cukup untuk dipulihkan.

Karena Tuhan tidak melihat hamba-Nya dari utuh tidaknya bentuk, dari sempurna tidaknya ucapan, dari kokoh tidaknya iman.


berbisik lembut:

“Datanglah… meski hanya dengan sisa. Karena Aku tidak pernah berhenti mencintaimu.”


Tuhan selalu Maha Baik.
Selalu.
Tanpa syarat.


O Tuhan…

Aku….

Berihtiyar…

kembali menuju Persimpangan-Mu

…. dengan tubuh yang terhempas oleh kelemahanku sendiri.


Bagaimana mungkin Engkau menyebut diri-Mu Ar-Ramān, Yang Kasih-Nya meliputi segala makhluk,
sedangkan aku berdiri di hadapan-Mu hanya sebagai pecahan yang compang-camping?
Bagaimana mungkin Engkau tetap Ar-Ra
ḥīm, Penyayang yang tanpa akhir,
padahal aku sering lupa menyayangi diriku sendiri?


O Tuhan, ketika aku membaca ayat itu,
aku merasa Engkau lebih dekat kepadaku daripada denyut nadiku yang paling lirih.
Seakan-akan Engkau berbisik pelan:


Jemari-ku kembali bergetar, namun kini dengan rasa hangat yang tak pernah kutahu sebelumnya.
Sisa diriku yang kusam dan hampir hilang—
Engkau terima tanpa satu pun celaan.
Engkau terima seolah itu adalah persembahan paling indah,
padahal itu …. serpihan manusia yang gagal,
serpihan yang bahkan aku sendiri malu untuk melihatnya.


Dan ketika ayat itu kembali merasuk ke dalamku,
aku sadar…

O Tuhan, Engkau selama ini memperlakukanku sebagaimana aku layak diperlakukan,
sebagaimana …
dengan kasih yang tidak berkurang meski aku tidur… berkali-kali.


Wa Huwa Ar-Ramānur-Raḥīm—
“Datanglah, wahai yang terluka…
meski hanya dengan sisa. Cinta-Ku tak pernah menipis.”

Engkau, O Tuhan… 

lebih Maha Baik daripada seluruh kebaikan yang pernah kupikirkan untuk diriku sendiri


O Tuhan… terimalah aku yang tinggal sisa ini.
Sebab Engkau telah terbukti mencintaiku lebih dari aku pernah mencintai diriku


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Post-Sovereign Maritime Order: Kedaulatan Laut Lepas Pasca-BBNJ Agreement

Ratifikasi High Seas Treaty [4]

Metastasis [Akhir Tahun] pada Tata Ujar

Melawan Laut, Melawan Diri: Telaah 'Anti-Heroisme' pada The Old Man and the Sea Hemingway

Bandung 'dalam' kurun kedua kali-nya

Regresi Emosional pada 'Aku' yang Bersikeras

Membaca Legalitas Utara pada 'Epistemologies of the South'

Digitalisasi sebagai janji: Demokratisasi-Informasi yang berbalik

Regresi Emosional pada 'Subjek' yang Bersikeras