Calon Istriku yang belum aku ketahui, kamu siapa?
Untuk Calon Istri yang Sudah Tertulis
di Lauhul Mahfudz, Namun Aku Belum Tahu Engkau Siapa
Entah di mana kau kini, entah apa yang sedang kau perjuangkan,
aku hanya tahu bahwa namamu telah tertulis di Lauhul Mahfudz,
terpatri di lembaran takdir yang tak bisa diubah oleh siapa pun selain kehendak-Nya.
Aku tak tahu bagaimana cara Tuhan akan mempertemukan kita, apakah dalam pertemuan yang sederhana, atau dalam kisah yang penuh liku.
Aku tak tahu bagaimana suaramu,
bagaimana tatapan matamu saat kau tersenyum,
bagaimana caramu menyebut namaku dalam doa-doamu.
Yang kutahu, kau ada di suatu tempat, berjalan di jalan yang telah digariskan, sebagaimana aku pun tengah melangkah menuju waktu yang telah ditentukan.
Aku ingin kau tahu bahwa aku bukan manusia tanpa cela,
aku tengah berusaha memperbaiki diri, merapikan hati, mengisi ruang kosong dalam jiwaku dengan ilmu dan penghambaan, agar kelak ketika kita bertemu, aku bisa menjadi pasangan yang tak hanya mencintaimu, tetapi juga membimbingmu, dan kita saling menguatkan dalam ketaatan.
Aku tak meminta engkau sempurna, karena aku pun jauh dari itu.
Aku hanya berharap, ketika saat itu tiba, kita saling menerima—segala kurang dan lebih, segala luka dan cerita yang pernah kita lalui sebelum akhirnya dipertemukan.
Mungkin saat ini kita masih asing satu sama lain, mungkin kita sedang dipisahkan oleh jarak dan waktu yang belum saatnya untuk dilebur. Tapi aku percaya, takdir tak pernah keliru.
Jika Tuhan telah menuliskan namamu di jalanku, maka sejauh apa pun kita melangkah, seberapa banyak persimpangan yang kita lalui, kita akan tetap bertemu di satu titik yang telah Dia tetapkan.
Hingga saat itu tiba, aku akan terus belajar menjadi lebih baik, agar saat aku menemui dan mengenalmu, aku tak hanya datang dengan cinta, tetapi juga dengan kesiapan untuk mendampingimu seumur hidup.
Jangan menyesal. . . . . . . .
Jangan menyesal. . . . . . . . .
jika aku hanya memiliki cita cita untuk menjadi sesosok manusia yang hidup dalam labirin keberkahan, Menulis; dengan merangkai kata-kata dari duka yang terkikis, menjahit makna dari kisah yang manis, meski dunia menatapnya sinis, dan mencuci kaki orang tuaku setiap hari
Aku tak punya istana megah nan gemerlap bagaikan hamparan permata nan murni dan berkis, yang kupunya hanya selembar kertas dan pena yang tak henti menari liris, mencatat perjalanan hidup yang terjal dan tragis, menyusun harapan di antara takdir yang terkadang ironis.
Jika kau berharap aku datang dengan emas yang mengkilap nan serba manis, aku hanya bisa membawakan cinta yang tak berpura-pura dan kasih yang tak teriris.
Jangan kecewa jika kau mendapati tanganku tak berhiaskan barang kedirian yang mahal dan elegan nan romantis, sebab telapak tanganku lebih sering sibuk mencuci kaki ibuku, yang keriputnya adalah bukti cinta yang tak pernah habis.
Aku tak mengenal dunia yang berpesta dalam gemerlap ilusi yang fana dan ilusif, karena kebahagiaanku terletak pada ridha ibu yang tak akan tergantikan oleh harta yang eksklusif. Jika kau ingin berjalan bersamaku, maka marilah kita menapaki jalan yang lurus,
meski tanpa permadani yang mewah dan gemerlap yang memukau impresif.
Aku mungkin tak bisa menjanjikan kehidupan yang penuh pesta dan perjamuan yang manis, tetapi aku bisa menjanjikan doa yang tak henti mengalir dalam sujud yang khusyuk dan harmonis.
Aku bisa berikan ketulusan yang tak akan luntur oleh waktu yang terus mengikis, cinta yang tak akan pudar oleh perjalanan yang getir dan tragis. Aku hanya ingin bersamamu dalam sederhana yang romantis, dalam bahagia yang tak perlu dibuktikan oleh dunia yang serba materialistis. Jika engkau menerimaku dengan segala kekurangan yang realistis, maka biarlah kisah kita terukir di langit, sebagai takdir yang manis dan abadi dalam kehendak sang Maha Artistis.
Namun jika tak sempat kutemui
Maafkan aku,
wahai jiwa yang kusebut dalam doa dan rindu yang tak bersua,
andai takdir lebih dulu menjemputku sebelum semesta mempertemukan kita.
Aku ingin menujumu,
ingin melangkah ke arah di mana namamu telah lama tertulis dalam cerita,
namun jika Tuhan lebih dulu memanggilku pulang ke alam baqa.
Mungkin engkau akan mencari, mungkin kau bertanya dalam sepi yang menggema, mengapa aku tak hadir seperti janji yang sempat terucap di langit-Nya, mengapa rindu ini dibiarkan mengering tanpa sempat menjelma nyata.
Ketahuilah, aku pun ingin menemuimu, merajut hari bersama dalam keheningan yang penuh makna, menggenggam tanganmu dalam takzim yang penuh cinta, menciptakan rumah yang teduh di bawah cahaya doa-doa kita. Namun takdir lebih dahulu menulis suratan yang berbeda, membelah jalan yang sempat aku kira akan berujung pada bahagia. Aku tak menyesali pertemuan yang tak sempat terjadi di dunia fana, sebab aku yakin,
JIKA CINTA INI SUCI, TUHAN AKAN MEMPERTEMUKAN KITA DI SURGA-NYA.
Maka jika kelak kau temui sunyi dalam langkah yang tiada kawan bicara,
jangan tangisi aku yang telah kembali ke hadirat-Nya.
Biarlah rindu ini menjadi bait-bait yang berpendar dalam cahaya,
Biarkanlah tulisan ini menjadi saksi keseriusanku dalam harapan doaku didalam sujudku,
biarlah kenangan tentang kita, yang tak sempat ada, tetap hidup dalam ingatan-Nya.
Aku pergi bukan karena ingin menjauh,
bukan karena lelah menanti kisah yang masih berselubung rahasia, tetapi karena Tuhan lebih dekat, lebih merengkuh jiwaku dalam kasih-Nya.
JIKA DI DUNIA AKU TAK SEMPAT MENJADI PELINDUNGMU, SEMOGA DI SURGA AKU BISA MENUNGGU, HINGGA KAU DATANG MEMBAWA CINTA YANG TAK LAGI TERTUNDA.
Bandung, 17 April 2020

Komentar
Posting Komentar