Hasan Hanafi: Nesserisme Arab dan korban Euro-Sentrisme
Bukanlah sesosok orang yang asing bagi intelektual muslim Indonesia yang favorit dengan materi seputar Spirit Revolusioner Islam untuk
menganalisis kembali realitas internasional Islam seorang pemikir Muslim yang intensif dan vital bagi
setiap gerakan Islam dan tindakan Barat yang berusaha menguasai Islam dengan memperoleh
pelatihan yang lebih baik tatkala menguasai subkultur melalui
kompetensi dan pemikirannya tatkala ia mencoba merekonstruksi pemikiran
Islam dengan cara yang dapat membebaskan pemikiran umat Islam dari segala
bentuk penindasan.
Dari sekian banyak tulisan atau karyanya ‘al-Yasâr
al-Islâmî’ (Islam Kiri) merupakan salah satu puncak sublimasi
gagasannya setelah meletusnya revolusi Islam di Iran pada tahun 1979 tantangan
modernisme fundamentalnya Hanafi yang telah merumuskan cara berpikir yang benar-benar sempurna tentang
bagaimana agama harus memberikan kontribusi bagi kesejahteraan umat manusia.
Berkaitan dengan munculnya pemikiran Islam Kiri sehingga
ada beberapa hal penting yang harus disadari. Pertama, perannya
sebagai filsuf progresif. dalam konteks ini ia yang
didorong untuk mengusung gagasan Islam Kiri pada saat yang sama dengan pecahnya
revolusi Islam di Iran. dengan demikian, salah satu kewajiban Islam Kiri adalah
mencapai revolusi tauhid sebagai konsep inti dalam pandangan dunia Islam atas
dasar itu ia digolongkan sebagai filosof modern seperti Alî
Syarîatî yang pikirannya merupakan tulang punggung revolusi Iran, dan Ayatullah
Khomeini yang sukses memimpin revolusi Iran. Kedua, Hassan Hanafi adalah seorang pembaharu dalam tradisi Islam klasik memiliki peran dekat dengan 'Abduh, seorang sarjana Mesir terkemuka
(1849-1905). Dalam situasi ini, dia sangat memuji Abduh dan Ketiga, ia juga berperan sebagai penerus gerakan Al-Afghânî (1838-1896)
yang menyerukan solidaritas umat Islam menyerukan persatuan dunia Islam dan konflik
melawan Barat dan persoalan imperialisme
budaya.
secara luas Islam Kiri bertumpu pada 3 pilar terpenting untuk memahami
kebangkitan Islam, revolusi Islam, dan kohesi umat (Islam). Pertama,
revitalisasi khazanah Islam klasik dalam hal ini Hanafi dengan tegas menekankan perlunya rasionalisme,
Rasionalisme adalah kebutuhan untuk pembangunan dan kemakmuran untuk
menyelesaikan skenario saat ini di dalam internasional Islam Kedua, kebutuhan
untuk menentang peradaban Barat yang dalam konteks ini memperingatkan bahaya imperialisme budaya Barat yang cenderung
menghilangkan tradisi lokasi internasional yang kaya secara tradisional lau selanjutnya,
pilar Ketiga, evaluasi kebenaran internasional Islam dengan mengkritisi
metode penafsiran konvensional yang hanya bertumpu pada teks (nas) yang akibatnya mengusulkan
pendekatan positif agar realitas internasional Islam dapat berkomunikasi untuk
dirinya sendiri evaluasi terhadap realitas global Islam ini merupakan bagian dari
teknik yang dimajukan dengan menggunakan Hanafi dalam memahami keyakinan Islam
Kiri, Gerak dan peradaban yang dibangunnya berubah disebabkan oleh
ketajaman analisis Hanafi dalam melihat realitas dunia Islam yabg baginya makna kebenaran itu kongruen dan selaras dengan
kebenaran masyarakat kebenaran politik dan keuangan fakta khazanah Islam dan
(realitas) situasi tuntutan Barat keberhasilan dalam mencapai cita-cita revolusi Islam bergantung
pada analisis yang hati-hati terhadap realitas tersebut dengan
menggunakan pendekatan fenomenologis dengan harapan agar Islam global dapat
berbicara sendiri.
Dalam mendalami teks-teks Hasan Hanafi
menggunakan pendekatan hermeneutik yang telah menjadi bagian dari pokok bahasan
yang esensial dalam pemikirannya pada kenyataannya telah menjadi bagian yang
perlu dari wacana pemikirannya dalam filsafat atau teologi agar Anda dapat
memahami teks terlebih dahulu yang baginya hermeneutika bukan sekadar ‘teknologi
penafsiran’ Alquran, tetapi juga teknologi yang menjelaskan wahyu sejak
terungkap mulai dari jangkauan tuturan hingga jangkauan sektorteknologi
prosedur menerima wahyu dari surat ke tingkat realitas dari lambang ke praksis dan
juga transformasi wahyu dari pikiran Tuhan ke keberadaan manusia.
Sistem ilmu yang paling efektif menempati
derajat kedua pada saat yang hal utama adalah kritik kunoyang memastikan
keaslian kitab suci dalam catatandan sangat tidak mungkin pemahaman terjadi jika
tidak ada kepastian apa yang diketahui secara tradisional tepat. Jauh di sini
hermeneutika muncul sebagai ilmu pengetahuan dalam nuansa yang paling khusus biasanya
berkenaan dengan bahasa dan kondisi-kondisi sejahtera yang melahirkan
kitab-kitab suci tersebut setelah mengetahui dengan tepat makna teks tersebut dapat
dimasuki dengan teknik merealisasikan makna yang tertanam dalam konteks
kehidupan manusia sebqagai tujuan akhir wahyu Tuhan.
Menegakkan konsep Islam Kiri dalam arti melindungi organisasi-organisasi yang tertindas,
terpinggirkan, dan dikelola-adalah menentang ancaman besar terhadap Islam,
yaitu imperialisme, zionisme, dan keterbelakangan Islam orang
orang Imperialisme yang dimaksud di sini adalah (cara) perjalanan finansial
multinasional dan westernisasi budaya. Dari segi tradisi
imperialisme membunuh semangat kreatif bangsa-bangsadan pada saat yang sama
mencabutnya dari akar kunonya tatkala Barat ingin sejarah bangsa-bangsa berakhir hanya sebagai entitas
sejarah yang kemampuan inovatif mereka dibatasi dan budaya
mereka diubah menjadi gaya hidup museum yaitu paling sederhana untuk dipelajari secara an sich.untuk
terus-menerus mengingatkan kita tentang versi baru dari kolonialisasi tentang
rasisme Barat yang tersembunyi dan tentang Perang Salib yang bersejarah.
Sementara itu, Zionisme yang merupakan bahaya kedua tidak lagi
hanya mengincar tanah namun juga menyebarkan pemikirannya kepada para intelektual Arab-Islam memahami
pemikiran mereka dan kemudian menghancurkannya dan
terdiri dari hal-hal yang mungkin berisiko adalah (standar) yang datang dari
lua seperti kapitalisme yang dibangun atas dasar perilaku ekonomi longgar,
pendapatan, upah dan riba, kapitalisme ini selain mampu memberikan hasil yang menindas juga
dapat menumbuhkan nilai-nilai negatif dan hedonisme utilitarian hal
ini dapat berujung pada terciptanya pembinaan sosial dan hak masuk ke dalam
jurang yang ada pada gilirannya dapat memberikan otoritas perhatian di tangan
pemilik moda sehingga yang buruk semakin miskin dan yang kaya semakin kaya lalu pada
kenyataannya mereka semua secara tegas ditolak melalui Islam.
Terungkapnya kemiskinan ketertindasan dan keterbelakangan sebagai
risiko batin hal ini Hanafi
berkomentar: "di dalam kandungan teks al-Qur'an sudah jauh ditegaskan
bahwa kita adalah satu manusia, tetapi sebenarnya ada celah di mana kita
terbagi menjadi , terutama yang buruk dan yang kaya." lebih jauh lagi
usaha Kiri Islam adalah untuk mendistribusikan kembali kekayaan di antara umat
Islam dengan cara yang paling adil dengan mengambil hak-hak negatif dari orang kaya seperti
yang diperintahkan oleh Alquran.
Keterbelakangan ialah ciri alamiah internasional Islam yang tidak hanya muncul dalam
perbaikan saja. Namun (fenomena itu) lengkap baik
dalam bentuk sosial maupun dalam pandangan internasional secara umum yang konsisten
dengannya keterbelakangan yang paling berisiko yang berkaitan dengan gaya hidup
dalam hal perspektif internasional, perilaku nasional, struktur sosial dan
ekonomi, dan pemikiran yang merupakan pandangan arena yang dualistik,
hierarkis-piramida, dan mistis-mitologis kemudian dari situ tugas
kaum Kiri Islam adalah menemukan usaha kuno Islam dan mengubah masyarakat umum
manusianya dari belenggu kuantitas ke tingkat yang agung.
Mencoba mengembangkan ide-ide Islam Kiri dengan teknik dan kerangka yang
dianggap tepat dan dapat menggiring umat Islam dalam kerangka menemukan jati diri
dan meraih kemenangan di segala bidang. Mungkin dialog ini tidak akan utuh jika
kita hanya mengetahui beberapa strategi dan kerangka pemikiran Hanafi sebagai
seorang filosof muslim modern, tanpa terlebih dahulu membaca pokok-pokok
pemikirannya dalam upaya membangun global Islam yang “baru” melalui Islam
meninggalkan bahwa ia maju.
Gagasan Islam Kiri yang dimajukan dengan menggunakan Hasan Hanafi dapat dianggap sebagai bentuk revolusi konsep dengan gagasan yang dianggap progresif itu juga tak lepas dari kritik ketika faktor keluar sebagai contoh keluhan yang diajukan oleh Issa J. Boullata yang menganggap gagasan Hanafi terlalu teoretis untuk diterapkan. Menurut dia, rekonstruksi yang dilakukan oleh Hanafi masih bercita rasa romantic sehingga tidak terlalu membumi demikian pula ketika dia terlalu konstruktif bahwa seluruh karyanya mungkin mampu mengubah keadaan komunitas Muslim secara progresif dengan kritik dan pemikiran Hanafi dalam frase kekirian Islam sebenarnya bisa menyumbangkan sesuatu yang sangat berharga (khususnya dalam wacana kajian Islam global) bagi kemaslahatan Islam dan umat Islam. lebih lanjut, terungkapnya kemiskinan, penindasan dan keterbelakangan sebagai bahaya internal. dalam hal ini, Hanafi berkomentar: "di dalam teks Alquran dijelaskan bahwa kita adalah satu orang, tetapi pada kenyataannya mungkin ada celah di mana kita terpecah, terutama yang jahat dan yang kaya". lebih jauh lagi, tugas Kiri Islam adalah mendistribusikan kembali kekayaan di kalangan umat Islam dengan cara yang paling adil yang memungkinkan, dengan mengambil hak orang jahat dari orang kaya, seperti yang diperintahkan oleh Alquran.
Hassan Hanafi juga menegaskan bahwa keterbelakangan adalah ciri alamiah global Islam, yang tidak hanya terjadi dalam perbaikan, tetapi (fenomena itu) menyeluruh, baik dalam hal bentuk sosial maupun dalam pandangan global secara modern. menurutnya, keterbelakangan yang paling berisiko adalah yang berkaitan dengan budaya pada subjek perspektif internasional, perilaku negara secara luas, sistem sosial dan ekonomi, dan pertanyaan yang merupakan pandangan arena yang dualistik, hierarkis-piramidal, dan mistis-mitologis. Dari situ, misi Islam Kiri adalah mengungkap tugas sejarah Islam dan menata kembali masyarakat umum manusianya dari belenggu kuantitas hingga taraf kelas satu.
Hassan Hanafi, Oksidentalisme: Sikap Kita terhadap Tradisi Barat, ter. M. Najib Buchari (Jakarta: Paramadina, 2000),
A.H. Ridwan, Reformasi Intelektual Islam (Yogyakarta: Pustaka Firdaus, 1994),
Shimogaki, Kiri Islam, Antara Modernisme Dan Postmodernisme; Telaah Kritis Pemikiran Hassan Hanafi
Komentar
Posting Komentar