Kota kembang di ambang bayang keindahan dan permasalahan [sosial] yang tidak berimbang


"ketika rutinitas kehidupan berlangsung beriringan, luka liku keadaan yang masih saja normative-redukative menjadi sebuah rethinking teoritik bahwa sebuah topeng saat ini masih berada dimana mana!"

    Siapa yang tidak kenal dengan kota Bandung yang dijuluki kota kembang (est Paris Van Java) sebagai sebuah daerah yang mempunyai banyak keindahan didalamnya terdapat icon-icon lainnya juga seperti wisata kuliner yang khusus dan pariwisata yang bisa membuat seseorang yang berkunjung merasa sebuah feel pengalaman yang tidak semuanya bisa terejawantahkan dalam sebuah perasaan khusus di Dago daerah kelahiran ku tersendiri sampai ke taman taman kota lainnya, Sering kali aku melewat menggunakan kendaraan roda dua ku lalu melihat kutipan mas pidi Baiq yang ku lihat secara tidak sengaja tatkala melewati jalan Asia Afrika tepatnya dan Bandung bagiku bukan cuman masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan,yang bersamaku ketika sunyi.

    Sehingga di sisi lain keindahan dan anasir lainnya yang segudang Bandung pun pada saat ini memang masih di hantui oleh jurang permasalahan permasalahan sosial didalamnya seperti mulai dari kemacetan, individualisme dan kurangnya kesadaran masyarakat khususnya dalam menjaga ekosistem alam di kota Bandung itu sendiri karna kelestarian alamnya pun agak sedikit terancam ketika dilihat dari bencana bencana terjadi itu berlangsung mekanik yang tidak semua organik berasal dari alam.

    Terlepas yang fundamental juga terhadap persoalan permasalahan kota Bandung ialah dengan angka kemiskinan yang terus melonjak bahkan di awal tahun 2021 ini menjadi sebuah rethinking - refleksi dari kenaikan kesenjangan tersebut, terbukti di dalam statistik 2020Badan Pusat Statistik (BPS) kota Bandung Garis Kemiskinan (Rp/Kap/Bulan) terdapat 545 675,00 Jumlah Penduduk Miskin (Ribu Jiwa) 109,82 Persentase Penduduk Miskin 4,25 Indeks Kedalaman Kemiskinan 0,70 Indeks Keparahan Kemiskinan 0,17
"Mang, kaleresan pami nuju sepi icalan aya inisial lain teu kangge nyelangan?" ujarku bertanya 
"Nu saena mah langkung muga tiasa katutupan ku ikhtiar di luar sakali ewang we jeng pamajikan atawa ieu dagangan dibagi dua, da ari tos bade kumaha deui sakapeung sok rada nanggung oge kunu nagih setoran anu nyieun kabijakan jeung nu boga kawasan  padahal nu meser teu acan hiji - hiji acan tapi sakieu jadi pangeling sukuran soalna loba keneh anu lewih handap ti handapeun amang nu bisa jadi hikmah kahuripan " ujar tukang kopi di jalan Asia Afrika, selayang dialog singkat ku dengan penjual kopi jalanan di persimpangan kota Bandung hal itu sudah jelas menunjukan bahwa masih banyak ketimpangan sosial antara si kaya dan masyarakat miskin yang berlangsung di kota Bandung namun menjadi pertanyaan juga ketika kemiskinan itu bisa terjadi dalam ada dan pada dalam situasi antara akan ku coba dipart selanjutnya untuk analisis terkait kesenjangan sosial dan kemiskinan bisa terjadi.

    Terlepas dalam sebuah perkembangan peradaban menjadi tanggung jawab kita bersama dan PR besar perihal permasalahan permasalahan sosial yang terjadi harapan singkatnya terbangun kolaborasi baik masyarakat civil kota antara pemerintah pusat, daerah dan organisasi filantropi bisa terbangun dan semakin kompak dalam upaya penghapusan kemiskinan ekstrem di kota Bandung khususnya di bangsa Indonesia umumnya.


Segitu dulu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Regresi Emosional pada 'Aku' yang Bersikeras

Digitalisasi sebagai janji: Demokratisasi-Informasi yang berbalik

Bandung 'dalam' kurun kedua kali-nya

Metastasis [Akhir Tahun] pada Tata Ujar

Regresi Emosional pada 'Subjek' yang Bersikeras

Melawan Laut, Melawan Diri: Telaah 'Anti-Heroisme' pada The Old Man and the Sea Hemingway