Mahbub Djunaidi dan pembelaanya terhadap Subhan ZE


     Sumber Gambar:  https://tinyurl.com/tykez2md

 "Sang pedekar pena yang tidak biasa dengan bentuk kepenulisan satir dan jenaka, seni mengkritik dengan selera humor tinggi menjadi nilai lebih tersendiri bagi mahbub djunaidi. Dengan sebuah idealism tajam yang tertanam dan ia suarakan dalam bentuk tulisan!’’

Menelusuri perdebatan kuno tentang Subhan ZE, tidak serta merta membuat aku untuk tidak tertarik dengan catatan sejarah. Namun, juga menemukan beberapa kenangan tentang liku-liku Subhan dan mengaktifkan tingkat kuno Nahdlatul Ulama, yang masih menjadi perayaan pada saat itu sekitar tahun 1972. Namun,, Subhan ZE tidak lagi dipecat dari Nahdlatul Ulama. Subhan menjadi hanya lepas kendali yang bersifat sementara yang tidak menentukan reputasi keanggotaan Subhan di Nahdlatul Ulama.

Sebagai aktivis, jurnalis, dan pengurus NU yang berpengaruh. Ia sangat dikenal luas di kalangan pers Indonesia, serta aktivis dan aksi LSM. Mahbub lahir di Jakarta, 27 Juli 1933. saat Subhan menjadi Ketua I PBNU, Mahbub Djunaidi menjadi Wakil Sekretaris PBNU. Subhan ZE dipecat oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), karena dianggap telah memperburuk 'marwah' bisnis kiai ini. Subhan memang legenda dia seorang aktivis muda yang glamor flamboyan sekaligus revolusioner dan progresif, Subhan telah menjadi rujukan bagi insan muda lintas organisasi dan ideologi, di tengah arus tahun 1965. Mahbub bukanlah sesosok  penulis biasa ia tumbuh dalam masa pergolakan kreatif untuk mempertahankan kemerdekaan. Mahbubpun yang terlibat dalam karya sastra internasional dan Indonesia. Namun, ketika agresi Belanda melanda Solo pada tahun 1948, keluarga Djunaidi kembali ke Jakarta. Saat duduk di bangku SMA, di SMA Negeri Boedi Oetomo, bakat menulis Mahbub mulai terlihat. Tulisan-tulisan fiksinya sudah tersebar di media sastra bergengsi saat itu, antara lain Dongeng, Siasat, Bintang Mingguan, Mimbar Indonesia, dan Cinta. Bahkan sejak SMP (lulus tahun 1952) cerpennya yang berjudul Tanah Mati sudah dimuat di majalah hit oleh HB Jassin. Paus sastra bahkan membuat komentar tentang cerita pendek itu. Kejadian ini menjadi hal yang tak terlupakan bagi Mahbub. Di perguruan tinggi ia juga mendirikan majalah perguruan tinggi menjadi pemimpin redaksi.

Keputusan pemberhentian Subhan ZE sebagai Ketua I PBNU, ditandatangani dengan bantuan Rais Am PBNU, KH. Bisri Syansuri, Ketua KH. Idham Chalid dan Wakil Rais 'Am/Ketua Majelis Pesta Ulang Tahun, KH. Moh. Dahlan. Surat rilis Subhan ZE, dikirim ke cabang dan wilayah partai NU, sebagai statistik internal seputar seleksi organisasi. Sesuai catatan TNI (21/02/1972), pembebasan Subhan ZE sebagai pengurus NU didasarkan sepenuhnya pada deklarasi Subhan di Surabaya yang mengatakan siap mundur, di selain alasan yang didasarkan pada regulasi non sekuler (syariah).

Mahbub Djunaidi membela Subhan ZE, dengan memberi ruang tarik-menarik terhadap dalil syuriyah. Motif hukum syariah/non sekuler yang digunakan syuriyah sebagai pertimbangan untuk membebaskan Subhan ZE, bisa dipertanyakan. Mahbub mengatakan Subhan ZE berhak membela diri dan 'memohon'. ini dijamin secara konstitusional untuk anggota yang dipecat. Namun, dalam konteks ini, Subhan tidak lagi dipecat, melainkan mengundurkan diri. Subhan ZE menjadi rujukan para aktivis, ia tenggelam dalam catatan-catatan kelas satu di tengah arus perdagangan politik pada suatu tahap di awal generasi Orde Baru. Subhan patut dikenang sebagai referensi politik bagi para aktivis muda Nahdlatul Ulama.

Kiprahnya bung mahbub sebagai Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dituntun oleh dedikasinya untuk membangun kehidupan pers nasional. Karya tulisnya sebagai sastrawan telah menunjukkan keberagaman kemampuannya dengan meraih penghargaan sastra nasional. Kolom “Awalnya” yang terbit rutin setiap hari Minggu di harian Kompas dalam jangka waktu yang lama menunjukkan kepiawaian Mahbub menulis dan daya tarik tulisannya bagi masyarakat. Gaya penulisannya kini banyak ditiru oleh penulis Indonesia.

 

Lal, salam

Segitu dulu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber Reverensi:

Djunaidi, Isfandiari Mahbub dan Iwan Rasta. (2017). Bung: Memoar tentang Mahbub Djunaidi. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Gus Mustafid, pengasuh pondok Aswaja Nusantara Yogyakarya.  



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Regresi Emosional pada 'Aku' yang Bersikeras

Digitalisasi sebagai janji: Demokratisasi-Informasi yang berbalik

Bandung 'dalam' kurun kedua kali-nya

Metastasis [Akhir Tahun] pada Tata Ujar

Regresi Emosional pada 'Subjek' yang Bersikeras

Melawan Laut, Melawan Diri: Telaah 'Anti-Heroisme' pada The Old Man and the Sea Hemingway