Arkhoun: Tafsir Falsafi dan sisi gelap Hermaneutik

 

 sumber gambar: https://tinyurl.com/ye223497

“Ada pemberitahuan untuk diperhatikan lalu ada perbedaan yang dominan dalam hal pengetahuan teknologi dan studi Qur'an setiap zaman, mengakali Qur'an sesuai dengan keinginan masing-masing atas dalih melumpuhkan hasrat untuk memanfaatkan akal sebagai ruh kehidupan!”

Kemunculan Arkoun tidak lepas dari sosial budaya masyarakat Perancis sebagai bagian dari benua yang telah terjadi kebangkitan juga munculnya revolusi perancis membentuk masyarakat yang ingin bangkit dari keterpurukan. Ekosistem ini juga mempengaruhi Arkoun, yang sejak tahun 1956 mulai berinteraksi dengan dosen Perancis bahkan saat memberikan kuliah di Universitas Strasbourg. salah satu pemikiran yang diangkat adalah keinginan untuk memikirkan kembali Islam (rethinking Islam) prosedur gagasan perlu dilakukan agar cara pandang yang telah terlembagakan dapat direkonstruksi untuk menjawab permasalahan sosial masa kini. Visi Islam hari ini harus tampak mempengaruhi masyarakat agar Islam dilihat dari tampilan yang sistematis dan tidak sepenuhnya karena faktor dogmatis. namun upaya ini dapat dimulai jika ada prinsip atau suara yang memiliki otoritas tatkala kita memberlangsungkan kehidupan ini.

Tiga wacana penting yang ditulis melalui Arkoun yang menjadi situasi penting dan genting baginya adalah Alquran, kitab-kitab klasik, dan filsafat Barat, terutama Perancis. Salah satu karya besar yang dihasilkan dengan menggunakan Arkoun di dalam manuskrip unik berjudul "Por De los angeles Raison Islamigue"jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul "criticism of Islamic cause". Versi bahasa Arabnya berjudul "al-Fikr al-Arabiy al-Islami". hampir semua karya Arkoun berbahasa Prancis, kecuali "Rethinking Islam" sebagai bahan kuliah di tengah penelitian Arab kontemporer, perguruan tinggi Georgetown, AS. buku itu masuk dalam kelas small e book karena hanya terdiri dari 27 halaman, sebagai variasi kertas yang disajikan di bagian tengah. Karya-karyanya juga yang diterjemahkan ke dalam bahasaArab, antara lain (Tarikhiyyah al-Fikr al-Arabiy al-Islamiy, Min Faishal al-Tafriqah ila al-Fashl al-Maqal, aena Huwa al-Fikr al-Islam al-Muashir, al-Islam al-Akhlaq wa al-Siyasah, al-Fikr al-Islamiy Qiraah Ilmiyyah, al-Fikr al-Islamiy Naqd wa Ijtihad).

            Metode Nalar Islam Kontemporer

    Jenis pendekatan ini telah dilakukan jauh di masa lalu melalui Al Kindi untuk penggunaan interpretasi filosofis Alquran sepenuhnya untuk mendapatkan keselarasan antara wahyu dan sebab, demikian juga filsafat dan iman. Ada 3 alasan untuk menghadirkan metode ini, yaitu: pertama, teknologi iman merupakan bagian dari filsafat; kedua, wahyu yang diterima nabi adalah kenyataan oleh karena itu kebenaran tidak akan bertentangan dengan filsafat. akhirnya, dalam ajaran spiritual mencari ilmu sebenarnya adalah bagian dari ibadah. sebagai konsekuensinya, penggunaan teknik yang sistematis untuk mencapai pesan-pesan al-Qur'an menjadi suatu keharusan apalagi Al-Kindi merekomendasikan argumen bagi orang-orang yang menolak filsafat dan filosof. dengan menggunakan filsafat, seorang pria atau wanita dapat mendekati kebenaran sedangkan agama adalah realitas yang diwahyukan melalui Tuhan kepada manusia tertentu ketika kebenaran filsafat adalah batasan yang boleh dilakukan oleh seseorang. dengan bantuan karunia tujuan filsafat ialah cara mendekati Tuhan melalui sarana manusia biasa karenanya kebenaran pada titik tertentu dapat dicapai dengan menggunakan filsafat.

Arkoun seorang intelektual muslim di mana ia berpartisipasi dalam melaksanakan tugas ini dalam bentuk pemikiran dengan menempatkan kritik epistemologis untuk dijadikan sebagai alat lihat, ada 4 hal yang dijelaskan Arkoun. Pertama, Al-Qur'an perlu dikaji ulang dengan cara yang baru dan akurat agar tidak tercampur dengan rasionalisasi kuno sejarah umat Islam. kedua, perlu ada upaya untuk menawarkan relevansi wacana al-Qur'an sebagai tatanan sosial yang ideal di samping faktor catatan manusia. ketiga, keinginan untuk menghilangkan batasan antara iman dan tujuan, wahyu dan sejarah, dan lain sebagainya yang mungkin merupakan dikotomi konvensional. Jika ini terjadi, akan lebih mudah menyelaraskan antara teori dan praktik. Keempat, lingkungan berpikir bebas akan memberikan ide-ide baru tanpa terkekang dengan menggunakan lingkungan taklid yang telah menjadi bagian dari perilaku umat Islam apalagi sebagai bagian dari budaya yang mengakar.

Ketika memandang Alquran sebagai suplai utama bahasa bagi umat Islam argumen yang dia kemukakan untuk mulai melihat alasan yang mendasari saat memutuskan Al-Qur'an sebagai study, ketika al-Qur'an sudah muncul sebagai buku tertutup (resortable closed corfus), tidak ada kesempatan untuk memahami konteks al-Qur'anyang kita hidup bukan di zaman kenabian. Oleh karena itu, Arkoun mengusulkan agar kita membuang pandangan-pandangan yang menganggap iman sebagai sistem budaya yang saling mengucilkan sehingga kita akan memanjakan jauh dari nuansa ortodoksi. Jika Anda tahu tanpa informasi tujuan menurutnya mungkin ada kesalahpahaman dan ketidaksukaan agar tidak terjebak di tengah-tengah suatu saat yang mengkontraskan teknologi dengan iman bukti empiris menunjukkan bahwa teknologi sejalan dalam hal tradisi keagamaan dalam sejarah manusia yang beragam.

Memandang juga bahwa teori linguistik mutakhir sangat dibutuhkan dalam mengkaji sebuah teks. sementara teks telah muncul sebagai korpus bereputasi tertutup namun ia dapat berfungsi sebagai landasan, wilayah budaya dan bahasa yang dapat didekati. Kemudian ditafsirkan, dan digunakan dalam agama yang ditemukan tidak menggoyahkan posisi teologis dari pengumpulan teks. Dengan catatan harus dikaji dengan pola pikir linguistik-teologis. Pengakuan bahwa generasi selanjutnya diubah menjadi paling mudah melalui konten tekstual sistem wahyu hanya sekali. Setelah itu, mungkin tidak ada yang tersisa kecuali membaca teks dengan tepat bahwa bahasa dapat dipahami secara lebih komprehensif karena latar belakang yang membuat teks-teks non sekuler tampak yang tidak berarti bahwa Arkoun mempertanyakan korpus tersebut tetapi aku yang hanya menggarisbawahi masalah sejarah korpus. Bahkan dalam istilah Arkon yang menurutku sangat terpantik ialah bahwa pada kondisi zaman saat ini  ada barang dagangan yang berhubungan dengan sosial dan politik bukan lagi dari Tuhan untuk memperluas bacaan dengan kecenderungan terkini akan meningkatkan informasi.

Argumen ini lebih unggul dengan memberikan gambaran umum tentang cara naskah-naskah itu disusun ulang sementara wahyu ditemukan telah terjadi otentisitas dan masalah transendental. Namun setelah ditata ulang, menjadi sebuah literatur yang merupakan hasil akhir dari teknologi selanjutnya. Sementara Al-Qur'an sepenuhnya diartikulasikan sebagai gagasan dan wahyu adalah hasil dari bukti linguistik, struktur sintaksis, dalam semiotika. Namun demikian, para ulama hanya memandang Al-Qur'an secara keseluruhan dari gaya bahasa. Padahal, dalam peran teologis, yang terpenting adalah ketegasan makna dan penjelasan ayat itu sendiri. Sebagai contoh, Arkoun kemudian memberikan bukti tentang surah al-Alaq bahwa surah tersebut dapat dilihat sebagai dalil linguistic pada wacana ini ada unsur Tuhan sebagai perhatian utama yang diatur secara keseluruhan baik secara gramatikal maupun semantik. Diperlukan pemikiran ulang dalam konsep iman dan masyarakat sehingga kita akan menemui era yang sepenuhnya didasarkan pada keselarasan sejarah dan integrasi sosial tentunya dapat diketahui jika metode historis-sosiologis digunakan dalam membongkar gagasan-gagasan yang bersifat dogmatis-metafisik. karenanya, agama dapat dipelajari dengan cara historis-antropologis. Jika itu dilakukan, akan muncul pemikiran dengan cara melihat iman sebagai keahlian yang sebenarnya iman di wajah ini mungkin toleran. wacana spiritual senantiasa menghadirkan pengalaman kedamaian dan keamanan. sebaliknya, peperangan dan peperangan terjadi potensi ini dapat ditemukan jika mengagumi agama dan budaya sebagai pranata sosial. secara individu, mungkin ada kepekaan dan persetujuan terhadap orang lain yang eksklusif.

Kontekstualisasi Hermaneutik dengan kondisi umat.

    Bagi Arkoun, analisis Alquran dapat dilakukan dengan tiga pendekatan. Pertama, secara liturgi. Al-Qur'an semata-mata digunakan untuk doa dan keinginan non sekuler. kedua, secara eksegi. Al-Qur'an dengan cara ini dipandang sebagai mushaf yang paling baik dibaca. Ketiga, hal ini ingin dicapai khususnya, memanfaatkan temuan metodologis dari studi humaniora dan bahasa untuk mengeksplorasi makna Al-Qur'an. Adapun untuk mendekatkan Al-Qur'an juga digunakan 3 teknik, yaitu pertama, kebenaran Al-Qur'an dipastikan di masa depan tidak mengerti pada waktu itu baik. kedua, kebenaran yang ada berlapis-lapis atau memiliki banyak dimensi, sehingga setiap lapisan akan benar-benar memperbaiki realitas yang ada. Ketiga doktrin dan tradisi kuno yang tidak diinginkan dapat dipahami kembali sebagai percobaan dan penawaran.

Pembongkaran ingin dilakukan dengan alasan tertentu sejak awal seseorang harus menyadari hubungan antara catatan-bahasa-pikiran. Keterkaitan 3 bahkan bisa disebut tidak terputus bahwa bahasa adalah detail utama dalam gaya hidup. sementara sejarah muncul, itu hanyalah tanggapan terhadap situasi sosial-politik yang singkat. dimana konsep yang akan mempengaruhi semua gerak manusia terdiri dari masalah bahasa sementara ketiganya terjalin maka akan tampak pada contoh yang berbeda bahwa perubahan gagasan kemudian terbentuk lagi dalam bahasa dan sejarah. Juga menyamakan membaca tekstual dengan membaca turats sementara ada standarisasi turats itu ingin dilihat dalam tubuh sejarah tujuan menganalisis teks tidak selalu untuk mengabaikan penyesuaian yang terus terjadi dimana isi tekstual dapat diutamakan jika sesuai dengan pesan Islam agar ada kerukunan antara Islam dan kapanpun dan daerah, Arkoun yang membedakan antara gaya hidup dan turat. Kemudian membaginya menjadi dua macam, dimana penggunaan T dengan huruf kapital dimaksudkan sebagai tradisi ideal tidak ada yang akan ditukar karena itu berasal dari Tuhan tradisi ini bersifat mutlak dan abadi ketika menulis dengan t menggunakan huruf kecil ada campur tangan sejarah dan budaya manusia di dalamnya proses pewarisan dan peralihan dari zaman ke generasi serta penafsiran teks-teks kitab suci kemudian akan menjadi pertanyaan di kelasnya, Arkoun tidak memberikan komentar apapun. fokus kajiannya adalah pada tipe kedua. Argumennya adalah bahwa T berada di luar ranah potensi dan kemampuan pikiran manusia untuk memahaminya. sedangkan bentuk yang kedua, mungkin ada posisi manusia sehingga bisa dijangkau juga oleh orang yang berbeda.

Meyakini bahwa justru adanya pesan-pesan dari Alquran yang membawa pesan tentang kata aql yang sama sekali tidak digunakan bahkan teks ayat tersebut adalah kata kerja yang menunjukkan bahwa metode penalaran mengacu pada hobi yang tidak dapat dipisahkan. mendengarkan, penglihatan, sentimen, memori, keahlian, introspeksi dan penetrasi harus dilindungi dalam setiap pendekatan tersebut. sebagai akibatnya, fokus akan muncul dalam upaya ini. Kemudian, kebenaran mungkin diperoleh dengan proses seperti ini terjadi, akan ada landasan ontologis untuk kondisi mutakhir pengalaman dan juga kondisi arena. Sifat manusia tidak akan lagi menghalangi jika dilakukan dengan semua kekuatan jiwa secara keseluruhan terdapat pacaran antara manusia dengan Tuhan dimana manusia telah dipilih sebagai wakil Tuhan. karenanya, situasi psikolinguistik seperti itu akan mampu mengenali makna pesan-pesan Tuhan untuk menghargai hal-hal ketuhanan.

 

        Sebuah intisari diperkembangan postmodern bagi sebagian pemikir Muslim termasuk Arkoun dapat digunakan sebagai metode untuk memahami dengan lebih baik mengapa konsep Islam telah sampai pada kelistrikan dan ketertutupan serta bagaimana batasan-batasan tersebut dapat dihilangkan hal inilah yang kemudian melahirkan suatu teknik baru dalam pemikiran Islam, yaitu metode kritik penalaran Islam lalu wacana Arkoun tentang Al-Qur'an menimbulkan pro dan kontra pada waktu yang sama namun dalam konteks wacana apa yang disampaikan Arkoun tentang bagaimana mempelajari teks, bersama dengan Alquran membutuhkan penguasaan tersendiri dimana ketika menganalisis teks harus diikuti dengan bantuan kemampuan analisis yang baik dalam hal psikologi, sosiologi, antropologi, serta pemahaman bahasa yang memadai. Bahasa Arab karena bahasa al-Qur'an juga perlu terlihat wujudnya sebagai wacana yang tidak berdiri sendiri, melainkan mengikuti ruang dan waktu. Dalam pandangan Arkoun, hal ini kemudian dikenal dengan subkultur.

Ketegangan dalam menghadirkan gagasan-gagasanpada kondisi saat ini dalam studi Islam didasarkan pada enam hal, yaitu: pertama, motif Islam didasarkan erat pada kencan manusia dengan Tuhan sebagai kebenaran abadi. Pemikiran seperti ini lebih bersifat estetis-moral, sehingga tidak lagi menyediakan tempat bagi pengamatan ilmiah. kedua, di sekitar hukum, metafisika, teologi, moral, dan regulasi hanyalah barang dagangan dari pikiran yang kurus tidak lebih dari tempat lahirnya fungsi sebab sebagai kewajiban untuk memahami fakta. ketiga, ada tiga hal yang muncul dari tujuan yang berangkat dari metode umum yaitu analogi, implikasi dan oposisi. Keempat, fakta yang muncul paling baik digunakan sebagai alat legitimasi selain alat apologi. yang kemudian terkait dengan realitas transendental. penggunaan informasi tersebut cukup sederhana. Kelima terjadi keseragaman wacana dan cenderung menganut taklid terhadap sejarah sosial, budaya dan etnis tidak digunakan untuk melengkapi ide Islam dan bahkan menutup diri. keenam, selalu ada pengulangan. Hal ini lahir dari keterbatasan bahasa dan wilayah yang dilihat dari sudut kaidah bahasa saja agar kekayaan non sekuler tidak dicatat, di mana wacana internal melewati batasan logosentris.

 

 



     Wallahu'alam Bisshowab

     Segitu dulu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 











 














 

Sumber referensi:

Ahmad Usfur, Jabir. 1973. al-Surah al-Faniyah fi al-Turats al-Naqdi al-Balaghi. Kairo: Dar al-Tsaqafah li al-Thiba’ah wa al-Nasy.
Ahmed, Akbar S. 1992. Citra Muslim: Tinjauan Sejarah dan Sosiologi, ter. Nunding Ram. Jakarta: Erlangga.
al-Aqqad, Mahmud Abbas. T.th. al-Falsafah al-Qur’aniyyah. Beirut: Dar al-Fikr.
al-Khudari, Syaikh Muhammad. 1938. Ushul al-Fiq. Kairo: Mathba’ah al-Istiqamah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Regresi Emosional pada 'Aku' yang Bersikeras

Digitalisasi sebagai janji: Demokratisasi-Informasi yang berbalik

Bandung 'dalam' kurun kedua kali-nya

Metastasis [Akhir Tahun] pada Tata Ujar

Regresi Emosional pada 'Subjek' yang Bersikeras

Melawan Laut, Melawan Diri: Telaah 'Anti-Heroisme' pada The Old Man and the Sea Hemingway