Arkhoun: Tafsir Falsafi dan sisi gelap Hermaneutik
“Ada pemberitahuan untuk diperhatikan lalu ada perbedaan yang dominan dalam hal pengetahuan teknologi dan studi Qur'an setiap zaman, mengakali Qur'an sesuai dengan keinginan masing-masing atas dalih melumpuhkan hasrat untuk memanfaatkan akal sebagai ruh kehidupan!”
Kemunculan Arkoun tidak lepas dari sosial budaya masyarakat
Perancis sebagai bagian dari benua yang telah terjadi kebangkitan juga
munculnya revolusi perancis membentuk masyarakat yang ingin bangkit dari
keterpurukan. Ekosistem ini juga mempengaruhi Arkoun, yang sejak tahun 1956
mulai berinteraksi dengan dosen Perancis bahkan saat memberikan kuliah di
Universitas Strasbourg. salah satu pemikiran yang diangkat adalah keinginan
untuk memikirkan kembali Islam (rethinking Islam) prosedur
gagasan perlu dilakukan agar cara pandang yang telah terlembagakan dapat
direkonstruksi untuk menjawab permasalahan sosial masa kini. Visi Islam hari
ini harus tampak mempengaruhi masyarakat agar Islam dilihat dari tampilan yang
sistematis dan tidak sepenuhnya karena faktor dogmatis. namun upaya ini dapat
dimulai jika ada prinsip atau suara yang memiliki otoritas tatkala kita
memberlangsungkan kehidupan ini.
Tiga wacana penting yang ditulis melalui Arkoun yang menjadi
situasi penting dan genting baginya adalah Alquran, kitab-kitab klasik, dan
filsafat Barat, terutama Perancis. Salah satu karya besar yang dihasilkan
dengan menggunakan Arkoun di dalam manuskrip unik berjudul "Por De los angeles Raison Islamigue", jika
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul "criticism
of Islamic cause". Versi bahasa Arabnya berjudul "al-Fikr al-Arabiy al-Islami". hampir semua karya Arkoun
berbahasa Prancis, kecuali "Rethinking
Islam" sebagai bahan kuliah di tengah
penelitian Arab kontemporer, perguruan tinggi Georgetown, AS. buku itu masuk
dalam kelas small e book karena hanya terdiri dari 27 halaman,
sebagai variasi kertas yang disajikan di bagian tengah. Karya-karyanya juga
yang diterjemahkan ke dalam bahasaArab, antara lain (Tarikhiyyah al-Fikr al-Arabiy al-Islamiy, Min
Faishal al-Tafriqah ila al-Fashl al-Maqal, aena Huwa al-Fikr al-Islam
al-Muashir, al-Islam al-Akhlaq wa al-Siyasah, al-Fikr al-Islamiy Qiraah
Ilmiyyah, al-Fikr al-Islamiy Naqd wa Ijtihad).
Metode Nalar Islam Kontemporer
Jenis pendekatan ini telah dilakukan jauh di masa lalu melalui Al Kindi untuk penggunaan interpretasi filosofis Alquran sepenuhnya untuk mendapatkan keselarasan antara wahyu dan sebab, demikian juga filsafat dan iman. Ada 3 alasan untuk menghadirkan metode ini, yaitu: pertama, teknologi iman merupakan bagian dari filsafat; kedua, wahyu yang diterima nabi adalah kenyataan oleh karena itu kebenaran tidak akan bertentangan dengan filsafat. akhirnya, dalam ajaran spiritual mencari ilmu sebenarnya adalah bagian dari ibadah. sebagai konsekuensinya, penggunaan teknik yang sistematis untuk mencapai pesan-pesan al-Qur'an menjadi suatu keharusan apalagi Al-Kindi merekomendasikan argumen bagi orang-orang yang menolak filsafat dan filosof. dengan menggunakan filsafat, seorang pria atau wanita dapat mendekati kebenaran sedangkan agama adalah realitas yang diwahyukan melalui Tuhan kepada manusia tertentu ketika kebenaran filsafat adalah batasan yang boleh dilakukan oleh seseorang. dengan bantuan karunia tujuan filsafat ialah cara mendekati Tuhan melalui sarana manusia biasa karenanya kebenaran pada titik tertentu dapat dicapai dengan menggunakan filsafat.
Arkoun seorang intelektual muslim di mana ia berpartisipasi
dalam melaksanakan tugas ini dalam bentuk pemikiran dengan menempatkan kritik
epistemologis untuk dijadikan sebagai alat lihat, ada 4 hal yang dijelaskan
Arkoun. Pertama, Al-Qur'an perlu dikaji ulang dengan cara yang
baru dan akurat agar tidak tercampur dengan rasionalisasi kuno sejarah umat
Islam. kedua, perlu ada upaya untuk menawarkan relevansi
wacana al-Qur'an sebagai tatanan sosial yang ideal di samping faktor catatan
manusia. ketiga, keinginan untuk menghilangkan batasan antara
iman dan tujuan, wahyu dan sejarah, dan lain sebagainya yang mungkin merupakan
dikotomi konvensional. Jika ini terjadi, akan lebih mudah menyelaraskan antara
teori dan praktik. Keempat, lingkungan berpikir bebas akan
memberikan ide-ide baru tanpa terkekang dengan menggunakan lingkungan taklid
yang telah menjadi bagian dari perilaku umat Islam apalagi sebagai bagian dari
budaya yang mengakar.
Ketika memandang Alquran sebagai suplai utama bahasa bagi
umat Islam argumen yang dia kemukakan untuk mulai melihat alasan yang mendasari
saat memutuskan Al-Qur'an sebagai study, ketika al-Qur'an sudah muncul sebagai
buku tertutup (resortable closed corfus), tidak ada
kesempatan untuk memahami konteks al-Qur'anyang kita hidup bukan di zaman
kenabian. Oleh karena itu, Arkoun mengusulkan agar kita membuang
pandangan-pandangan yang menganggap iman sebagai sistem budaya yang saling
mengucilkan sehingga kita akan memanjakan jauh dari nuansa ortodoksi.
Jika Anda tahu tanpa informasi tujuan menurutnya mungkin ada kesalahpahaman dan
ketidaksukaan agar tidak terjebak di tengah-tengah suatu saat yang
mengkontraskan teknologi dengan iman bukti empiris menunjukkan bahwa teknologi
sejalan dalam hal tradisi keagamaan dalam sejarah manusia yang beragam.
Memandang juga bahwa teori linguistik mutakhir sangat
dibutuhkan dalam mengkaji sebuah teks. sementara teks telah muncul sebagai
korpus bereputasi tertutup namun ia dapat berfungsi sebagai landasan, wilayah
budaya dan bahasa yang dapat didekati. Kemudian ditafsirkan, dan digunakan
dalam agama yang ditemukan tidak menggoyahkan posisi teologis dari pengumpulan
teks. Dengan catatan harus dikaji dengan pola pikir linguistik-teologis. Pengakuan
bahwa generasi selanjutnya diubah menjadi paling mudah melalui konten tekstual
sistem wahyu hanya sekali. Setelah itu, mungkin tidak ada yang tersisa kecuali
membaca teks dengan tepat bahwa bahasa dapat dipahami secara lebih komprehensif
karena latar belakang yang membuat teks-teks non sekuler tampak yang tidak
berarti bahwa Arkoun mempertanyakan korpus tersebut tetapi aku yang hanya
menggarisbawahi masalah sejarah korpus. Bahkan dalam istilah Arkon yang
menurutku sangat terpantik ialah bahwa pada kondisi zaman saat
ini ada barang dagangan yang berhubungan dengan sosial dan politik
bukan lagi dari Tuhan untuk memperluas bacaan dengan kecenderungan terkini akan
meningkatkan informasi.
Argumen ini lebih unggul dengan memberikan gambaran umum tentang cara naskah-naskah itu disusun ulang sementara wahyu ditemukan telah terjadi otentisitas dan masalah transendental. Namun setelah ditata ulang, menjadi sebuah literatur yang merupakan hasil akhir dari teknologi selanjutnya. Sementara Al-Qur'an sepenuhnya diartikulasikan sebagai gagasan dan wahyu adalah hasil dari bukti linguistik, struktur sintaksis, dalam semiotika. Namun demikian, para ulama hanya memandang Al-Qur'an secara keseluruhan dari gaya bahasa. Padahal, dalam peran teologis, yang terpenting adalah ketegasan makna dan penjelasan ayat itu sendiri. Sebagai contoh, Arkoun kemudian memberikan bukti tentang surah al-Alaq bahwa surah tersebut dapat dilihat sebagai dalil linguistic pada wacana ini ada unsur Tuhan sebagai perhatian utama yang diatur secara keseluruhan baik secara gramatikal maupun semantik. Diperlukan pemikiran ulang dalam konsep iman dan masyarakat sehingga kita akan menemui era yang sepenuhnya didasarkan pada keselarasan sejarah dan integrasi sosial tentunya dapat diketahui jika metode historis-sosiologis digunakan dalam membongkar gagasan-gagasan yang bersifat dogmatis-metafisik. karenanya, agama dapat dipelajari dengan cara historis-antropologis. Jika itu dilakukan, akan muncul pemikiran dengan cara melihat iman sebagai keahlian yang sebenarnya iman di wajah ini mungkin toleran. wacana spiritual senantiasa menghadirkan pengalaman kedamaian dan keamanan. sebaliknya, peperangan dan peperangan terjadi potensi ini dapat ditemukan jika mengagumi agama dan budaya sebagai pranata sosial. secara individu, mungkin ada kepekaan dan persetujuan terhadap orang lain yang eksklusif.
Kontekstualisasi Hermaneutik dengan kondisi umat.
Bagi Arkoun, analisis Alquran dapat dilakukan dengan tiga
pendekatan. Pertama, secara liturgi. Al-Qur'an
semata-mata digunakan untuk doa dan keinginan non sekuler. kedua, secara
eksegi. Al-Qur'an dengan cara ini dipandang sebagai mushaf yang paling baik
dibaca. Ketiga, hal ini ingin dicapai khususnya,
memanfaatkan temuan metodologis dari studi humaniora dan bahasa untuk
mengeksplorasi makna Al-Qur'an. Adapun untuk mendekatkan Al-Qur'an juga
digunakan 3 teknik, yaitu pertama, kebenaran Al-Qur'an
dipastikan di masa depan tidak mengerti pada waktu itu baik. kedua, kebenaran
yang ada berlapis-lapis atau memiliki banyak dimensi, sehingga setiap lapisan
akan benar-benar memperbaiki realitas yang ada. Ketiga doktrin
dan tradisi kuno yang tidak diinginkan dapat dipahami kembali sebagai percobaan
dan penawaran.
Pembongkaran ingin dilakukan dengan alasan tertentu sejak
awal seseorang harus menyadari hubungan antara catatan-bahasa-pikiran. Keterkaitan
3 bahkan bisa disebut tidak terputus bahwa bahasa adalah detail utama dalam
gaya hidup. sementara sejarah muncul, itu hanyalah tanggapan terhadap
situasi sosial-politik yang singkat. dimana konsep yang akan
mempengaruhi semua gerak manusia terdiri dari masalah bahasa sementara
ketiganya terjalin maka akan tampak pada contoh yang berbeda bahwa perubahan
gagasan kemudian terbentuk lagi dalam bahasa dan sejarah. Juga menyamakan
membaca tekstual dengan membaca turats sementara ada standarisasi turats itu
ingin dilihat dalam tubuh sejarah tujuan menganalisis teks tidak selalu untuk
mengabaikan penyesuaian yang terus terjadi dimana isi tekstual dapat diutamakan
jika sesuai dengan pesan Islam agar ada kerukunan antara Islam dan kapanpun dan
daerah, Arkoun yang membedakan antara gaya hidup dan turat. Kemudian membaginya
menjadi dua macam, dimana penggunaan T dengan huruf kapital dimaksudkan sebagai
tradisi ideal tidak ada yang akan ditukar karena itu berasal dari Tuhan tradisi
ini bersifat mutlak dan abadi ketika menulis dengan t menggunakan huruf kecil
ada campur tangan sejarah dan budaya manusia di dalamnya proses pewarisan dan
peralihan dari zaman ke generasi serta penafsiran teks-teks kitab suci kemudian
akan menjadi pertanyaan di kelasnya, Arkoun tidak memberikan komentar apapun.
fokus kajiannya adalah pada tipe kedua. Argumennya adalah bahwa T berada di
luar ranah potensi dan kemampuan pikiran manusia untuk memahaminya. sedangkan
bentuk yang kedua, mungkin ada posisi manusia sehingga bisa dijangkau juga oleh
orang yang berbeda.
Meyakini bahwa justru adanya pesan-pesan dari Alquran yang
membawa pesan tentang kata aql yang sama sekali tidak digunakan bahkan teks
ayat tersebut adalah kata kerja yang menunjukkan bahwa metode penalaran mengacu
pada hobi yang tidak dapat dipisahkan. mendengarkan, penglihatan, sentimen,
memori, keahlian, introspeksi dan penetrasi harus dilindungi dalam setiap
pendekatan tersebut. sebagai akibatnya, fokus akan muncul dalam upaya ini. Kemudian,
kebenaran mungkin diperoleh dengan proses seperti ini terjadi, akan ada
landasan ontologis untuk kondisi mutakhir pengalaman dan juga kondisi arena.
Sifat manusia tidak akan lagi menghalangi jika dilakukan dengan semua kekuatan
jiwa secara keseluruhan terdapat pacaran antara manusia dengan Tuhan dimana
manusia telah dipilih sebagai wakil Tuhan. karenanya, situasi psikolinguistik
seperti itu akan mampu mengenali makna pesan-pesan Tuhan untuk menghargai
hal-hal ketuhanan.
Sebuah intisari diperkembangan
postmodern bagi sebagian pemikir Muslim termasuk Arkoun dapat digunakan sebagai
metode untuk memahami dengan lebih baik mengapa konsep Islam telah sampai pada
kelistrikan dan ketertutupan serta bagaimana batasan-batasan tersebut dapat
dihilangkan hal inilah yang kemudian melahirkan suatu teknik baru dalam
pemikiran Islam, yaitu metode kritik penalaran Islam lalu wacana
Arkoun tentang Al-Qur'an menimbulkan pro dan kontra pada waktu yang sama namun
dalam konteks wacana apa yang disampaikan Arkoun tentang bagaimana mempelajari
teks, bersama dengan Alquran membutuhkan penguasaan tersendiri dimana ketika
menganalisis teks harus diikuti dengan bantuan kemampuan analisis yang baik
dalam hal psikologi, sosiologi, antropologi, serta pemahaman bahasa yang memadai.
Bahasa Arab karena bahasa al-Qur'an juga perlu terlihat wujudnya sebagai wacana
yang tidak berdiri sendiri, melainkan mengikuti ruang dan waktu. Dalam
pandangan Arkoun, hal ini kemudian dikenal dengan subkultur.
Ketegangan dalam menghadirkan gagasan-gagasanpada kondisi
saat ini dalam studi Islam didasarkan pada enam hal, yaitu: pertama, motif
Islam didasarkan erat pada kencan manusia dengan Tuhan sebagai kebenaran abadi.
Pemikiran seperti ini lebih bersifat estetis-moral, sehingga
tidak lagi menyediakan tempat bagi pengamatan ilmiah. kedua, di
sekitar hukum, metafisika, teologi, moral, dan regulasi hanyalah barang
dagangan dari pikiran yang kurus tidak lebih dari tempat lahirnya
fungsi sebab sebagai kewajiban untuk memahami fakta. ketiga, ada
tiga hal yang muncul dari tujuan yang berangkat dari metode umum yaitu analogi,
implikasi dan oposisi. Keempat, fakta yang muncul
paling baik digunakan sebagai alat legitimasi selain alat apologi. yang
kemudian terkait dengan realitas transendental. penggunaan
informasi tersebut cukup sederhana. Kelima terjadi keseragaman
wacana dan cenderung menganut taklid terhadap sejarah
sosial, budaya dan etnis tidak digunakan untuk melengkapi ide Islam dan bahkan
menutup diri. keenam, selalu ada pengulangan. Hal ini lahir dari keterbatasan
bahasa dan wilayah yang dilihat dari sudut kaidah bahasa saja agar kekayaan non
sekuler tidak dicatat, di mana wacana internal melewati batasan logosentris.
Segitu dulu.
Sumber referensi:
Ahmed, Akbar S. 1992. Citra Muslim: Tinjauan Sejarah dan Sosiologi, ter. Nunding Ram. Jakarta: Erlangga.
al-Aqqad, Mahmud Abbas. T.th. al-Falsafah al-Qur’aniyyah. Beirut: Dar al-Fikr.
Komentar
Posting Komentar