Human Taksonomi : Indomie Rebus, Bodrex dan Sebatang Garvite


"Katanya sihhh gtuu, Kekeringan yang compleks merupakan ketidaksenyalir kesederhanaan. Bila perjalanan waktu masih berjalan, alangkah baik untuk menegur sapa sabar sebagai pikiran ruang, Adalah entah siapa yang membutuhkan instrument tersebut untuk memahami dimensi dimensi keganjilan meskipun persekian detik saja!!!.”

        Menapaki terhadap ruang tak sekonyong konyong kemana saja terboyong, diantaranya dari mana dan sampai mana samsara yang menari menuju tempat keheningan, merupakan simpton simpton bilangan aksara yang menyusun, hujan,genangan yang turun menerkaitkan udara tanah yang menjalar seketika tanpa menyadar terhirup, menunjukan kedirian dari dalam tubuh yang memang telah menjadi ibu terhadap matahari dan lelangit yang menjulurkan lidah lalu menumpahkan liurnya menuju tanah tanah.

Indomie rebus tersajikan : Delik yang ragu untuk dilihat

        Sekitarku hanyalah hembusan aroma uap indomie rebus yang tersajikan berwarna abu tak kasat seolah kehidupan mendatangiku seketika senyum tuhan tumbuh dari dalam spirit tubuhku, yang tertimbun kekekalan serupa tembakan sorga dan dosa-dosa, menaiki sendok ku angkat membangunkan apa saja yang seterusnya tidak kita pikirkan, sepanjang jalan kasih ketika menyantapnya seketika terfikiran kita telah menelan angin berwarna hitam yang dikendarai kesenangan dalam ajal tunduk pada  akar-akar mengaraman urat dari bayang-bayang patah;

Aroma lalu aroma, lalu aroma jenazah dari asam wujud muram dan kengerian, kututup dengan mantra setelah menyantapnya seperti kalimat pembuka yang mengakhiri dunia, lalu persembunyian awan dan gemuruh atas segala gemuruh, keheningan atas segala keheningan, jalan atas segala jalan, kehancuran atas segala kehancuran, kau tak pernah membacaku sebagai tanda namun keluberan yang bergerak sebagai tenung dari segala dingin yang berlendir dan mengangkut apapun atas kepercayaan dan rasa sakit, kelelawar dan naga hanyalah sebuah lonceng tua dari leher ular kelakianku, takdir dinamis bergerak menuju atas dari gelegar bunda yang memandangi kengangaan atas lahirnya dunia.

Bodrex: hanyalah pengalihan samsara

        Terasa menyimpan sesuatu berdosa ke dalam lumbung dari ruang waktu yang gelap, suara melejitkan mimpi laya kematian telah tumbuh dalam mata ini, badai serta ketakutan hanya hawa nafsu yang mengebirimu menuju keilahian dari air yang telah terserap, neraka telah terbentuk dari ketidakmampuan akan membelah langit dan kursi paling tinggi, matahari, membunuh para raksasa dari pertempuran-pertempuran, melalui pembantaian abadi pada seribu pohon terselip di sela-sela jarimu kala kutemukan luka-luka;

serimbun keraguan pada jejak almanak tertumpuk pada sarang yang telah kutapaki keabadian, amsal atas segala amsal mengiblatkan segala belatung penuh pada musim dari jiwa lusuh, keheningan berkobar pada lelangit namun kau berseteru untuk merancang penjara akan menguliti tenung pada ceruk perutku, seketika bumi semakin gersang lalu warna-warna gelap diacungkan menuju kengerian yang bersembunyi di arah tak diperkirakan;

Sebatang Garvite: hanyalah Rest Area seketika

        Segalanya hanyalah satu, segalanya hanyalah satu, (segalanya hanyalah satu), sebatang garvite yang aku hisap pada saat itu memang sisa satu. kemakmuran dari tubuh membuat ngilu tubuh yang tersembunyi dari dalam tubuhku, kukibaskan awan-awan namun asap itu membanjiri kesenangan kami dari ketakberaturan kata-kata yang ditulisinya untuk mengilhami jalan-jalan terjal;

        Lalu lalang asap yang keluar ketika dibakar, hanyalah peralihan dari kopi hangat ketika menapaki dirinya terhadap kedirian ketika terasa kurang. melibatan apa saja dari dalam kendali tubuh, lelangit tersembunyi warna merah dari matamu, tanganku adalah amarah seperti bulan yang terkapar membakari rindu dari dalam kulitku, abad-abad terlepas, seluruh kesaksian serta kejahatan berbaring menapaki segala yang ada layanya batu-batu berloncatan;

keabadian membeku menghabiskan ruang pada tanda serta asal-asal, dahan hitam, kegamangan, segalanya rasanya layak katup menyiumi nyawa pada tepian jagat raya, bahkan kabarnya berlipatan juga memandangi gemuruh gemuruh tanpa kegusaran, kekejianlah aku, Binara api membakar segala makhluk dari kabut serta pandangan yang memudar, kugigit ribuan dosa di ladang gersang seperti sepi-sepi bergerombolan;

        Berjalanlah maka, berjalanlah maka berjalanlah ke senyap-sunyi tubuh, terbukalah segala rahasia serta hamparan segala nyala, keruntuhan jejak bagi muasal, lalu kau meruntuh dari segala kecil, mengelap bahasa, mengaliri barisan-barisan, menggelegar serta meluruhkan mimpi kepada segalanya lalu duduk kosong karna habisnya instrument yang diupayaan untuk melihat segalanya dengan subtil.

 

Lal salam,

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Regresi Emosional pada 'Aku' yang Bersikeras

Digitalisasi sebagai janji: Demokratisasi-Informasi yang berbalik

Bandung 'dalam' kurun kedua kali-nya

Metastasis [Akhir Tahun] pada Tata Ujar

Regresi Emosional pada 'Subjek' yang Bersikeras

Melawan Laut, Melawan Diri: Telaah 'Anti-Heroisme' pada The Old Man and the Sea Hemingway