[telaah] Psiko-Mental Distress mahasiswa penghuni kosan

sumber icon : https://tinyurl.com/2ur9phut

“yang dirasa telah usai, namun dampaknya belum selesai. Sesuatu bentuk yang harus diperhatikan meskipun terkadang terabaikan yaitu tentang Ke-Stabilan Mental dalam menjalani kehidupan!.”

Kesehatan mental merupakan salah satu unsur yang tidak kalah pentingnya dengan kebugaran tubuh untuk terus dijaga. kadang-kadang, ketika kebugaran dalam mental seseorang terganggu banyak manusia yang tidak menyadari bahkan mengetahuinya hal ini kemudian dapat menyebabkan sesuatu yang berisiko. salah satu akibat yang mematikan adalah seseorang dapat bunuh diri karena keadaan mental yang terganggu. Saat ketika kita merasakan bahwa keadaan mental mulai terganggu pikiran bangkit untuk menarik diri dari manusia di sekitar digrogoti rasa malu atau takut akan tanggapan mereka juga bisa menjadi motif yang menarik diri. Memang, masalah kesehatan mental merupakan hal yang sensitif, namun bukan berarti kita harus mengasingkan diri mencoba untuk menyentuh atau memberitahukan kondisi kita kepada orang yang kita percayai seperti teman atau keluarga sendiri.

Panjangnya pandemi yang terjadi sejak akhir tahun 2019 telah berdampak pada kondisi mental manusia di seluruh dunia termasuk Indonesia yang meski demikian perhatian publik terhadap masalah kesehatan mental di Indonesia saat ini dinilai terus berkembang. Sayangnya, masalah intensitas mental masih tinggi di Indonesia di berbagai kalangan salah satunya di kalangan pelajar, masih banyak mahasiswa yang merasa sulit untuk menjaga kesehatan mentalnya apalagi otaknya. Hal ini karena didorong melalui berbagai unsur, seperti unsur genetik, lingkungan keluarga atau pertemanan, gaya hidup, hingga beban yang ditanggung selama kuliah. Sayangnya, banyak mahasiswa yang mengesampingkan kondisi kebugaran intelektual mentalnya karena banyaknya hal dan kebutuhan yang harus dipenuhi baik yang berkaitan dengan perkuliahan maupun di luar perkuliahan. Padahal tidak ada salahnya juga mengkhususkan diri pada kebugaran mental terkhusus ketika berada di perguruan tinggi.

Intensitas Penggunaan Media Sosial  dengan Kesehatan Mental Mahasiswa

Masih banyak mahasiswa yang dirasa kurang mengetahui tentang pengaruh baik dan buruk yang muncul dari faktor-faktor tersebut sehingga mereka mengabaikan kesehatan mentalnya, mereka mengabaikan pengakuan atas kesehatan mental mereka karena mereka paling memperhatikan tugas, agensi, jadwallainnya, dan kebutuhan yang mereka dapatkan dari orang-orang di sekitar mereka dianggap bahwa pengaturan diri dalam pembelajaran yang benar akan membantu mahasiswa untuk memenuhi kebutuhan yang mereka hadapi Self-Heart adalah potensi seseorang untuk melakukan kontrol atas perasaan dan perilakunya dalam skenario apapun secara mandiri dalam aspek yang terpisah dari keberadaan seseorang tetapi sebagai alternatif aspek yang paling penting dalam menciptakan perdamaian ketika kita aturan  memandang kebugaran sebagai keadaan sehat yang menyeluruh, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial

Sesuai dengan fakta UNICEF, lebih dari 1 dari 7 anak muda berusia 10-19 diperkirakan hidup dengan penyakit mental yang teridentifikasi secara global. hampir empat puluh enam.000 remaja meninggal karena bunuh diri setiap tahun, beberapa dari lima penyebab kematian teratas untuk kelompok usia mereka, ditambah pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Berdasarkan temuan awal dari survei global anak dan dewasa di 21 negara yang dilakukan melalui UNICEF dan Gallup yang diulas di negara anak dunia 2021, rata-rata 1 dari 5 anak muda berusia 15-24 tahun yang disurvei mengatakan mereka sering merasakan depresi. atau memiliki sedikit minat untuk melakukan sesuatu (United kingdom kid's Fund, 2021). afiliasi kesehatan perguruan tinggi Amerika (ACHA) melakukan survei nasional tahunan yang meneliti kesehatan mahasiswa. dari survei tahun 2016 terhadap 5.099 mahasiswa pascasarjana dan profesional di 34 perguruan tinggi, ACHA mencatat bahwa dalam satu tahun terakhir, 41,5% mahasiswa merasa putus asa, 51,8% merasa sangat kesepian, 55,3% merasa sangat traumatis, dan 33,5% merasa sangat tertekan sehingga sulit untuk menjadi efektif (Jeff Cain, 2018).

Menunjukkan bahwa ada faktor penting yang berperan dalam masalah kebugaran mental mahasiswa khususnya penggunaan smartphone dan media sosial Indonesia yang menempati urutan ke-4 internasional dalam penggunaan media sosial dengan rata-rata lama penggunaan delapan jam 51 menit setiap harinya, Tingginya penggunaan media sosial di kalangan mahasiswa tersebut sejatinya akan berdampak pada kesehatan mental mereka tersendiri pengaruh terhadap penggunaan media sosial berdampak buruk pada generasi muda karena masalah yang terkait dengan kesehatan mental yang berkembang selama masa muda dapat bertindak sebagai penyakit mematikan bagi setiap karakter pada tahap tertentu dalam kehidupan bahwa mahasiswa dengan tingkat ketergantungan media sosial yang lebih tinggi lebih mungkin untuk menikmati depresi dan kecemasan ringan.

Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan manusia yang berbeda untuk berkembang dalam gaya hidup serta energi hubungan manusia berdampak besar pada kesehatan mental dan kebahagiaan seseorang, Berinteraksi sosial dengan orang lain dapat meredakan tekanan, ketegangan, dan kemurungan, meningkatkan kapasitas diri, menawarkan kenyamanan dan kegembiraan, mencegah kesepian. Namun, kurangnya hubungan sosial yang kokoh dapat menimbulkan bahaya serius bagi kesehatan mental dan emosional ketika seseorang berinteraksi atau bersentuhan langsung dengan manusia lain maka akan menghasilkan hormon yang mengurangi stres dan membuat seseorang merasa lebih bahagia, lebih sehat, dan lebih hebat.

Dari intensitas penggunaan media sosial di atas dapat disimpulkan bahwa kedalaman penggunaan media sosial merupakan ukuran perhatian dan preferensi seseorang untuk mendapatkan hak masuk ke media sosial untuk berinteraksi dengan pengguna lain. faktor pembentuk intensitas, yaitu: Pertama, Perhatian seolah menjadi hobi yang disukai oleh orang-orang yang kemudian membuat orang tersebut rileks dan memberikan pusat perhatian yang berlangsung lama dalam hal ini terkait dengan media sosial.Kedua, Apresiasi terkhusus kepiawaian karakter dan daya serap catatan yang meliputi kepintaran, bertempat tinggal, bermain dan menyimpan statistik dari media sosial digunakan sebagai pengalaman pribadi seseorang. Ketiga, Durasi baik lamanya waktu yang dihabiskan dalam minat yang sedang berlangsung masyarakat yang mengakses media sosial seringkali tidak menyadarinya karena mereka terlalu menikmati media sosial. Ketiga, Frekuensi tatkala berbagai macam pengulangan yang dapat dilakukan dengan bantuan orang baik disengaja maupun tidak disengaja.

Efek Media Sosial pada Mahasiswa

Media sosial dimulai dengan inisiatif untuk menghubungkan manusia dari seluruh dunia ketika munculnya media jejaring sosial di dunia dimulai dengan munculnya Friendster pada tahun 2002, sebuah perangkat lunak untuk membangun persahabatan virtual anggota keluarga dengan spektrum orang yang sangat besar dari seluruh sektor. Setelah friendster muncul, media sosial selanjutnya disebut linked merupakan sebuah halaman jejaring sosial sekaligus penyedia dalam membangun informasi bisnis atau biasa disebut dengan curriculum vitae online, berikut adalah beberapa media sosial yang banyak diminati oleh kalangan mahasiswa yang memiliki dampak luar biasa atau negatif:

Konsep dasar dari ide pemanfaatan dan Gratifikasi adalah bahwa kesulitan utama dalam menggunakan media bukanlah bagaimana media menjadi sarana percakapan bagi pengguna tetapi bagaimana media dapat memenuhi keinginan non-publik dan sosial pelanggan prinsip manfaat dan Gratifikasi pertama kali ditambahkan oleh Elihu Katz yang apa yang dilakukan media terhadap pengguna (what media do to people) dan apa yang dilakukan pengguna terhadap media (what people do to media) dalam memenuhi kebutuhan psikologisnya. 

Media sosial tidak akan pernah bisa menjadi pilihan alternatif untuk hubungan manusia di dunia tingginya penggunaan media sosial di kalangan mahasiswa membuat mereka kehilangan kemampuan untuk menahan diri dalam komunikasi tatap muka dan banyak mahasiswa yang kecanduan menggunakan media sosial tanpa memahami waktu dan wilayah sehingga mengurangi produktivitas dan sosial. Perasaan mengurangi kekuatan media sosial, tentu saja lebih atau kurang dapat menukar keadaan tidak lagi hanya keadaan mental, psikologis, moral dan pola pikir diketahui bahwa ada dampak penggunaan media sosial terhadap ketegangan dan keputusasaan ketika seseorang berbanding terbalik dengan kondisinya di media sosial serbuan fakta di media sosial membuat banyak pelanggan menyebarkan hoaks, ujaran kebencian atau yang dikenal dengan hate speech dan cyber bullying.

 

Karakteristik Demografi Responden

            Karakteristik Responden            N

 

%

Jenis Kelamin               

Laki-laki

28

 

32.2%

Perempuan

59

67.8%

Total

87

100%

Semester

 

 

 

Semester 2

27

31%

 

Semester 4

9

10.3%

 

Semester 6

17

19.5%

 

Semester 8

34

39.1%

Total

87

100%

Umur

 

 

17-20 Tahun

33

37.9%

21-23 Tahun

46

52.9%

< 24 Tahun

8

9.2%

Total

87

100%

Jumlah Media Sosial 

1 medsos

 

2

 

2.3%

2-3 medsos

30

34.5%

lebih dari 3 medsos

55

63.2%

Total

87

100%

Media Sosial yang Digunakan

 

 

 

 

WhatsApp

 

83

30%

 

Instagram

 

63

23%

 

Youtube

 

47

17%

 

Telegram

 

21

8%

 

Line

 

4

1%

 

TikTok

 

29

10%

 

Twitter

 

15

5%

 

Fecebook

 

15

5%

 

 

Deskriptif Statistik 

             N         Nilai     Nilai     Mean    Std.

            Min      Max     Deviasi

            Intensitas penggunaan media sosial        87         27         51         36             5,4

            Kesehatan mental                                    87         39         77         56             8,6

 

            Pada tebel 1 dapat diketahui variabel intensitas penggunaan media sosial memiliki nilai minimum 27, standar deviasi 5,4, nilai maksimum 51 dengan nilai rata-rata sebesar 36. Kemudia pada variabel kesehatan mental  diperoleh nilai minimum 39,  nilai maksimum 77, standar deviasi 8,6 dan rata-rata sebesar 56.

 

Kategorisasi Kesehatan Mental Responden

Kategori

Intensitas penggunaan

 Media sosial

31,5 ≤ X < 40,5

  Sedang

59

67.8

 

40,5 ≤ X  

  Tinggi

18

20.7

      87

                                                   X < 47,5                                  Rendah

Kesehatan mental

                                                    47,5 ≤ X < 64,5                      Sedang             57            65.5

                                                    64,5≤ X                                  Tinggi  

 

Berdasarkan konsekuensi pengkategorian variabel kedalaman penggunaan media sosial, maka menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat kedalaman penggunaan media sosial berada pada kategori sedang. Berdasarkan hasil perhitungan distribusi statistik intensitas penggunaan media sosial diketahui bahwa responden yang memiliki intensitas rendah sebanyak 10 responden atau 11,5%. Responden yang memiliki kedalaman media sosial ringan sebanyak 59 responden atau 67,8%. Dan responden yang memiliki social media depth tinggi sebanyak 18 responden atau 20,7%. Dari hasil penelitian diketahui bahwa media sosial teratas yang dimiliki oleh mahasiswa adalah 30% pengguna WhatsApp, 23% pengguna Instagram, 17% pengguna Youtube dan 10% pengguna TikTok.

 

Sejalan dengan tabel tersebut kekhawatirkan kecemasan ini ditambah dengan tingginya intensitas penggunaan media sosial di kalangan anak muda yang akan mempengaruhi interaksi sosial berpeluang menjadi ketegangan sosial akibat hilangnya percakapan aktual dengan lingkungan sosial bahwa mahasiswa dengan kedalaman media sosial 2-4 jam per hari akan menyebabkan gangguan kesehatan mental seperti ketegangan, depresi dan stres. gejala tersebut dapat terlihat saat menggunakan media sosial untuk melihat postingan pelanggan yang berbeda dan membandingkan diri mereka dengan orang lain.

Sebuah intisari bahwa semakin baik intensitas mahasiswa dalam menggunakan media sosial maka semakin menurun kebugaran mentalnya. Hal ini juga berlaku sebaliknya, semakin rendah intensitas penggunaan media sosial,semakin tinggi kebugaran mental sehingga beberapa upaya yang harus di berlangsungkan oleh mahasiswa khususnya umumnya untuk manusia itu sendiri dalam keadaan keadaan kediriannya ketika menjalani kehidupan yang sedang berjalan terkhusus mahasiswa penghuni kosan ketika berada dalam kekosongan keberlangsungan seperti; pendekatan Spritualitas tanpa disadari untuk kita akui dalam diri hal mana yang akan kita manipulasi dan tidak bisa kita manipulasi karna kita berserah terhadap segala urusan yang berjalan untuk mengadukannya kepada tuhan sehingga membuat hati menjadi lebih tenang, transendensi jasmani, yang harus usahakan dan berolahraga setiap hari sesuai dengan kebutuhan karna olahraga terbukti dapat mengurangi jumlah hormon kortisol yang memicu ketegangan pada tubuh, confice in fellow human beings setiap kali ada kesulitan atau tidak selalu biasa menghubungi keluarga pada saat yang sama jika rasa bantuan sosial tidak dapat diselesaikan jangan ragu untuk menghubungi bantuan ahli baik kepada sesama teman kita tersendiri ataupun orang yang dianggap sebagai ahli.

 

 lal salam, 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber Rujukan :

Harun, Gofur. (2015). Mahasiswa & Dinamika Dunia Kampus. Bandung: Cv. Rasi Terbit.

Iskandar. (2018). Sosiologi Kesehatan (Suatu Telaah Teori Dan Empirik). Pt Penerbit Ipb Press.

Juwita, Elsa Puji, Dasim Budimansyah, Dan Siti Nurbayani. (2015). Peran Media Sosial Terhadap Gaya Hidup Siswa. Sosietas, 5(1).

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Regresi Emosional pada 'Aku' yang Bersikeras

Digitalisasi sebagai janji: Demokratisasi-Informasi yang berbalik

Bandung 'dalam' kurun kedua kali-nya

Metastasis [Akhir Tahun] pada Tata Ujar

Regresi Emosional pada 'Subjek' yang Bersikeras

Melawan Laut, Melawan Diri: Telaah 'Anti-Heroisme' pada The Old Man and the Sea Hemingway