[telaah] Psiko-Mental Distress mahasiswa penghuni kosan
“yang dirasa telah usai, namun dampaknya belum selesai. Sesuatu bentuk yang harus diperhatikan meskipun terkadang terabaikan yaitu tentang Ke-Stabilan Mental dalam menjalani kehidupan!.”
Kesehatan mental merupakan salah satu unsur
yang tidak kalah pentingnya dengan kebugaran tubuh untuk terus dijaga.
kadang-kadang, ketika kebugaran dalam mental seseorang terganggu banyak manusia
yang tidak menyadari bahkan mengetahuinya hal ini kemudian dapat menyebabkan
sesuatu yang berisiko. salah satu akibat yang mematikan adalah seseorang dapat
bunuh diri karena keadaan mental yang terganggu. Saat ketika kita merasakan
bahwa keadaan mental mulai terganggu pikiran bangkit untuk menarik diri dari
manusia di sekitar digrogoti rasa malu atau takut akan tanggapan mereka juga
bisa menjadi motif yang menarik diri. Memang, masalah kesehatan mental
merupakan hal yang sensitif, namun bukan berarti kita harus mengasingkan diri
mencoba untuk menyentuh atau memberitahukan kondisi kita kepada orang yang kita
percayai seperti teman atau keluarga sendiri.
Panjangnya pandemi yang terjadi sejak akhir
tahun 2019 telah berdampak pada kondisi mental manusia di seluruh dunia
termasuk Indonesia yang meski demikian perhatian publik terhadap masalah
kesehatan mental di Indonesia saat ini dinilai terus berkembang. Sayangnya,
masalah intensitas mental masih tinggi di Indonesia di berbagai kalangan salah
satunya di kalangan pelajar, masih banyak mahasiswa yang merasa sulit untuk
menjaga kesehatan mentalnya apalagi otaknya. Hal ini karena didorong melalui
berbagai unsur, seperti unsur genetik, lingkungan keluarga atau pertemanan,
gaya hidup, hingga beban yang ditanggung selama kuliah. Sayangnya, banyak
mahasiswa yang mengesampingkan kondisi kebugaran intelektual mentalnya karena
banyaknya hal dan kebutuhan yang harus dipenuhi baik yang berkaitan dengan
perkuliahan maupun di luar perkuliahan. Padahal tidak ada salahnya juga
mengkhususkan diri pada kebugaran mental terkhusus ketika berada di perguruan
tinggi.
Intensitas Penggunaan Media Sosial
dengan Kesehatan Mental Mahasiswa
Masih banyak mahasiswa yang dirasa kurang mengetahui
tentang pengaruh baik dan buruk yang muncul dari faktor-faktor tersebut
sehingga mereka mengabaikan kesehatan mentalnya, mereka mengabaikan pengakuan
atas kesehatan mental mereka karena mereka paling memperhatikan tugas, agensi,
jadwallainnya, dan kebutuhan yang mereka dapatkan dari orang-orang di sekitar
mereka dianggap bahwa pengaturan diri dalam pembelajaran yang benar akan
membantu mahasiswa untuk memenuhi kebutuhan yang mereka hadapi Self-Heart
adalah potensi seseorang untuk melakukan kontrol atas perasaan dan perilakunya
dalam skenario apapun secara mandiri dalam aspek yang terpisah dari keberadaan
seseorang tetapi sebagai alternatif aspek yang paling penting dalam menciptakan
perdamaian ketika kita aturan memandang
kebugaran sebagai keadaan sehat yang menyeluruh, baik secara fisik, mental,
spiritual maupun sosial
Sesuai dengan fakta UNICEF, lebih dari 1 dari
7 anak muda berusia 10-19 diperkirakan hidup dengan penyakit mental yang
teridentifikasi secara global. hampir empat puluh enam.000 remaja meninggal
karena bunuh diri setiap tahun, beberapa dari lima penyebab kematian teratas
untuk kelompok usia mereka, ditambah pandemi Covid-19 yang berkepanjangan.
Berdasarkan temuan awal dari survei global anak dan dewasa di 21 negara yang
dilakukan melalui UNICEF dan Gallup yang diulas di negara anak dunia 2021,
rata-rata 1 dari 5 anak muda berusia 15-24 tahun yang disurvei mengatakan
mereka sering merasakan depresi. atau memiliki sedikit minat untuk melakukan
sesuatu (United kingdom kid's Fund, 2021). afiliasi kesehatan perguruan tinggi
Amerika (ACHA) melakukan survei nasional tahunan yang meneliti kesehatan
mahasiswa. dari survei tahun 2016 terhadap 5.099 mahasiswa pascasarjana dan
profesional di 34 perguruan tinggi, ACHA mencatat bahwa dalam satu tahun
terakhir, 41,5% mahasiswa merasa putus asa, 51,8% merasa sangat kesepian, 55,3%
merasa sangat traumatis, dan 33,5% merasa sangat tertekan sehingga sulit untuk
menjadi efektif (Jeff Cain, 2018).
Menunjukkan bahwa ada faktor penting yang
berperan dalam masalah kebugaran mental mahasiswa khususnya penggunaan
smartphone dan media sosial Indonesia yang menempati urutan ke-4 internasional
dalam penggunaan media sosial dengan rata-rata lama penggunaan delapan jam
51 menit setiap harinya, Tingginya penggunaan media sosial di kalangan
mahasiswa tersebut sejatinya akan berdampak pada kesehatan mental mereka
tersendiri pengaruh terhadap penggunaan media sosial berdampak buruk pada
generasi muda karena masalah yang terkait dengan kesehatan mental yang
berkembang selama masa muda dapat bertindak sebagai penyakit mematikan bagi
setiap karakter pada tahap tertentu dalam kehidupan bahwa mahasiswa dengan
tingkat ketergantungan media sosial yang lebih tinggi lebih mungkin untuk
menikmati depresi dan kecemasan ringan.
Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan
manusia yang berbeda untuk berkembang dalam gaya hidup serta energi hubungan
manusia berdampak besar pada kesehatan mental dan kebahagiaan seseorang, Berinteraksi
sosial dengan orang lain dapat meredakan tekanan, ketegangan, dan kemurungan,
meningkatkan kapasitas diri, menawarkan kenyamanan dan kegembiraan, mencegah
kesepian. Namun, kurangnya hubungan sosial yang kokoh dapat menimbulkan bahaya
serius bagi kesehatan mental dan emosional ketika seseorang berinteraksi atau
bersentuhan langsung dengan manusia lain maka akan menghasilkan hormon yang
mengurangi stres dan membuat seseorang merasa lebih bahagia, lebih sehat, dan
lebih hebat.
Dari intensitas penggunaan media sosial di
atas dapat disimpulkan bahwa kedalaman penggunaan media sosial merupakan ukuran
perhatian dan preferensi seseorang untuk mendapatkan hak masuk ke media sosial
untuk berinteraksi dengan pengguna lain. faktor pembentuk intensitas, yaitu: Pertama,
Perhatian seolah menjadi hobi yang disukai oleh orang-orang yang kemudian
membuat orang tersebut rileks dan memberikan pusat perhatian yang berlangsung
lama dalam hal ini terkait dengan media sosial.Kedua, Apresiasi
terkhusus kepiawaian karakter dan daya serap catatan yang meliputi kepintaran,
bertempat tinggal, bermain dan menyimpan statistik dari media sosial digunakan
sebagai pengalaman pribadi seseorang. Ketiga, Durasi baik lamanya
waktu yang dihabiskan dalam minat yang sedang berlangsung masyarakat yang
mengakses media sosial seringkali tidak menyadarinya karena mereka terlalu
menikmati media sosial. Ketiga, Frekuensi tatkala berbagai macam
pengulangan yang dapat dilakukan dengan bantuan orang baik disengaja maupun
tidak disengaja.
Efek Media Sosial pada Mahasiswa
Media sosial dimulai dengan inisiatif untuk
menghubungkan manusia dari seluruh dunia ketika munculnya media jejaring sosial
di dunia dimulai dengan munculnya Friendster pada tahun 2002,
sebuah perangkat lunak untuk membangun persahabatan virtual anggota keluarga
dengan spektrum orang yang sangat besar dari seluruh sektor. Setelah friendster
muncul, media sosial selanjutnya disebut linked merupakan sebuah halaman
jejaring sosial sekaligus penyedia dalam membangun informasi bisnis atau biasa
disebut dengan curriculum vitae online, berikut adalah beberapa media
sosial yang banyak diminati oleh kalangan mahasiswa yang memiliki dampak luar
biasa atau negatif:
Konsep dasar dari ide pemanfaatan dan
Gratifikasi adalah bahwa kesulitan utama dalam menggunakan media bukanlah
bagaimana media menjadi sarana percakapan bagi pengguna tetapi bagaimana media
dapat memenuhi keinginan non-publik dan sosial pelanggan prinsip manfaat dan
Gratifikasi pertama kali ditambahkan oleh Elihu Katz yang apa yang dilakukan media terhadap pengguna (what media do to
people) dan apa yang dilakukan pengguna terhadap media (what
people do to media) dalam memenuhi kebutuhan psikologisnya.
Media sosial tidak akan pernah bisa menjadi
pilihan alternatif untuk hubungan manusia di dunia tingginya penggunaan media
sosial di kalangan mahasiswa membuat mereka kehilangan kemampuan untuk menahan
diri dalam komunikasi tatap muka dan banyak mahasiswa yang kecanduan
menggunakan media sosial tanpa memahami waktu dan wilayah sehingga mengurangi
produktivitas dan sosial. Perasaan mengurangi kekuatan media sosial, tentu saja
lebih atau kurang dapat menukar keadaan tidak lagi hanya keadaan mental,
psikologis, moral dan pola pikir diketahui bahwa ada dampak penggunaan media
sosial terhadap ketegangan dan keputusasaan ketika seseorang berbanding
terbalik dengan kondisinya di media sosial serbuan fakta di media sosial
membuat banyak pelanggan menyebarkan hoaks, ujaran kebencian atau yang dikenal
dengan hate speech dan cyber bullying.
Karakteristik Demografi Responden
|
Karakteristik Responden N |
|
% |
|||
|
Jenis Kelamin Laki-laki |
28 |
32.2% |
|||
|
Perempuan |
59 |
67.8% |
|||
|
Total |
87 |
100% |
|||
|
Semester |
|
|
|
||
|
Semester 2 |
27 |
31% |
|
||
|
Semester 4 |
9 |
10.3% |
|
||
|
Semester 6 |
17 |
19.5% |
|
||
|
Semester 8 |
34 |
39.1% |
|||
|
Total |
87 |
100% |
|||
|
Umur |
|
|
|||
|
17-20 Tahun |
33 |
37.9% |
|||
|
21-23 Tahun |
46 |
52.9% |
|||
|
< 24 Tahun |
8 |
9.2% |
|||
|
Total |
87 |
100% |
|||
|
Jumlah Media
Sosial 1 medsos |
2 |
2.3% |
|||
|
2-3 medsos |
30 |
34.5% |
|||
|
lebih dari 3
medsos |
55 |
63.2% |
|||
|
Total |
87 |
100% |
|||
|
Media Sosial yang
Digunakan |
|
|
|
|
|
|
WhatsApp |
|
83 |
30% |
|
|
|
Instagram |
|
63 |
23% |
|
|
|
Youtube |
|
47 |
17% |
|
|
|
Telegram |
|
21 |
8% |
|
|
|
Line |
|
4 |
1% |
|
|
|
TikTok |
|
29 |
10% |
|
|
|
Twitter |
|
15 |
5% |
|
|
|
Fecebook |
|
15 |
5% |
|
|
Deskriptif Statistik
![]()
N Nilai
Nilai Mean Std.
Min
Max Deviasi
![]()
Intensitas
penggunaan media sosial 87 27 51
36 5,4
Kesehatan
mental 87 39
77 56 8,6
![]()
Pada tebel 1 dapat diketahui variabel intensitas penggunaan media
sosial memiliki nilai minimum 27, standar deviasi 5,4, nilai maksimum 51 dengan
nilai rata-rata sebesar 36. Kemudia pada variabel kesehatan mental diperoleh nilai minimum 39, nilai maksimum 77, standar deviasi 8,6 dan
rata-rata sebesar 56.
Kategorisasi Kesehatan Mental
Responden
Kategori

Intensitas
penggunaan
|
Media sosial |
31,5 ≤ X < 40,5
|
Sedang |
59 |
67.8 |
|
|
40,5 ≤ X |
Tinggi |
18 |
20.7 |
87
X < 47,5 Rendah
Kesehatan
mental
47,5 ≤ X < 64,5 Sedang
57
65.5
64,5≤ X Tinggi
Berdasarkan konsekuensi pengkategorian variabel kedalaman penggunaan media
sosial, maka menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat kedalaman penggunaan
media sosial berada pada kategori sedang. Berdasarkan hasil perhitungan
distribusi statistik intensitas penggunaan media sosial diketahui bahwa
responden yang memiliki intensitas rendah sebanyak 10 responden atau 11,5%.
Responden yang memiliki kedalaman media sosial ringan sebanyak 59 responden
atau 67,8%. Dan responden yang memiliki social media depth tinggi sebanyak 18
responden atau 20,7%. Dari hasil penelitian diketahui bahwa media sosial
teratas yang dimiliki oleh mahasiswa adalah 30% pengguna WhatsApp, 23% pengguna
Instagram, 17% pengguna Youtube dan 10% pengguna TikTok.
Sejalan dengan tabel tersebut kekhawatirkan
kecemasan ini ditambah dengan tingginya intensitas penggunaan media sosial di
kalangan anak muda yang akan mempengaruhi interaksi sosial berpeluang menjadi
ketegangan sosial akibat hilangnya percakapan aktual dengan lingkungan sosial bahwa
mahasiswa dengan kedalaman media sosial 2-4 jam per hari akan menyebabkan
gangguan kesehatan mental seperti ketegangan, depresi dan stres. gejala
tersebut dapat terlihat saat menggunakan media sosial untuk melihat postingan
pelanggan yang berbeda dan membandingkan diri mereka dengan orang lain.
Sebuah intisari bahwa semakin
baik intensitas mahasiswa dalam menggunakan media sosial maka semakin menurun
kebugaran mentalnya. Hal ini juga berlaku sebaliknya, semakin rendah intensitas
penggunaan media sosial,semakin tinggi kebugaran mental sehingga beberapa upaya
yang harus di berlangsungkan oleh mahasiswa khususnya umumnya untuk manusia itu
sendiri dalam keadaan keadaan kediriannya ketika menjalani kehidupan yang
sedang berjalan terkhusus mahasiswa penghuni kosan ketika berada dalam
kekosongan keberlangsungan seperti; pendekatan Spritualitas tanpa
disadari untuk kita akui dalam diri hal mana yang akan kita manipulasi dan
tidak bisa kita manipulasi karna kita berserah terhadap segala urusan yang berjalan
untuk mengadukannya kepada tuhan sehingga membuat hati menjadi lebih tenang, transendensi
jasmani, yang harus usahakan dan berolahraga setiap hari sesuai dengan
kebutuhan karna olahraga terbukti dapat mengurangi jumlah hormon kortisol yang
memicu ketegangan pada tubuh, confice in fellow human beings setiap
kali ada kesulitan atau tidak selalu biasa menghubungi keluarga pada saat yang
sama jika rasa bantuan sosial tidak dapat diselesaikan jangan ragu untuk
menghubungi bantuan ahli baik kepada sesama teman kita tersendiri ataupun orang
yang dianggap sebagai ahli.
Sumber Rujukan :
Harun, Gofur. (2015). Mahasiswa & Dinamika Dunia Kampus.
Bandung: Cv. Rasi Terbit.
Iskandar. (2018). Sosiologi Kesehatan (Suatu Telaah Teori Dan
Empirik). Pt Penerbit Ipb Press.
Juwita, Elsa Puji, Dasim Budimansyah, Dan Siti Nurbayani. (2015).
Peran Media Sosial Terhadap Gaya Hidup Siswa. Sosietas, 5(1).
Komentar
Posting Komentar