Kultus yang Tak Pernah Terpecahkan 'The Cult of the Black Virgin' Ean Begg

  
“Mengenai romantisasi simbol-simbol kuno cenderung mengabaikan konteks sosial yang berubah dan meminggirkan dinamika spiritual yang berkembang”

Ean Begg lahir pada 3 Desember 1939 di Skotlandia. Ia memperoleh pendidikan awalnya di Skotlandia, kemudian melanjutkan studi lanjutan di London, di mana ia mendalami psikoanalisis dan bidang psikologi analitik yang diinspirasikan oleh pemikiran Carl Jung. Pendidikan ini membentuk pendekatannya dalam memahami simbol-simbol arketipal dan elemen-elemen tak kasat mata dalam sejarah dan mitologi. Selain psikoanalisis, Begg juga memperdalam pengetahuannya dalam sejarah agama dan ikonografi Eropa, yang kelak membawanya pada penelitian terhadap fenomena-fenomena yang kurang diterima dalam arus utama kajian keagamaan. pemahaman baru tentang Perawan Hitam, bukan hanya sebagai ikon religius, tetapi sebagai lambang misteri spiritual yang dalam. Melalui studinya di berbagai lokasi, Begg membangun hipotesis bahwa keberadaan ikon Perawan Hitam mungkin merupakan warisan dari praktik-praktik dan kepercayaan kuno yang berpusat pada perempuan dan spiritualitas bumi.

Frasa “Kultus” mencerminkan suatu ketegangan abadi antara keyakinan-keyakinan yang ada di permukaan dan yang tersimpan di bawahnya—seperti dua arus yang selalu berkelindan dalam sejarah spiritualitas Eropa. Black Virgin bukan hanya sekadar ikon religius, tetapi juga simbol dari tradisi spiritual yang lebih dalam, suatu kesinambungan dari keyakinan kuno yang, meski ditindas dan disingkirkan, terus hidup dalam bayang-bayang peradaban Eropa. Pemikiran Begg ini terbentuk dari pengaruh Carl Jung, khususnya dalam konsep “kolektif tak sadar” yang melihat simbol-simbol kuno sebagai warisan dari psikologi budaya manusia yang tetap hidup di benak bawah sadar.

Kepercayaan-kepercayaan matriarkal dan spiritualitas yang lebih tua yang pernah dihormati dalam tradisi pagan sebelum diubah dan diserap ke dalam tradisi Kristen yang lebih patriarkal. Patung-patung Perawan Hitam ini sering kali ditemukan di bekas situs pemujaan pagan yang didedikasikan untuk dewi-dewi bumi atau air, seperti Isis di Mesir atau Artemis di Yunani. Melalui pendekatan psikoanalitik dan ikonografis, Begg mengungkap kemungkinan bahwa Perawan Hitam merupakan penerus dari arketipe Great Mother atau Ibu Agung yang telah berakar dalam kolektif tak sadar manusia selama ribuan tahun. kehadiran Perawan Hitam adalah relik spiritual yang menandakan adanya “kultus tersembunyi”—sisa-sisa keyakinan primordial yang menantang dominasi agama patriarkal. Begg mengamati bahwa gereja sering kali memasukkan patung-patung Perawan Hitam ke dalam tradisinya, tetapi jarang mengakui asal-usul mereka yang lebih kuno dan bahkan berani mengasosiasikan mereka dengan kekuatan yang magis atau tidak sepenuhnya dipahami. Di sini, Begg menandai titik-titik kontradiksi yang mempertanyakan monopoli otoritas gereja atas makna spiritual, dan bahkan seakan-akan melambangkan ketidakmampuan institusi-institusi ini untuk sepenuhnya melenyapkan warisan kepercayaan-kepercayaan terdahulu.

Pengaruh Begg tidak berdiri sendiri karyanya bersinggungan dengan pemikir-pemikir lain yang tertarik pada arketipe dan spiritualitas tersembunyi, seperti Joseph Campbell dengan teori mitos universalnya dan Mircea Eliade yang meneliti sakralitas tersembunyi dalam budaya tradisional. Begg melanjutkan pekerjaan mereka dengan fokus pada Eropa, khususnya bagaimana ikon-ikon Perawan Hitam dapat dilihat sebagai perwujudan lokal dari simbol yang lebih universal, yang dipuja dalam berbagai bentuk oleh masyarakat pra-Kristen. Begg merasakan bahwa Perawan Hitam ini, sebagai sosok yang "tak terpecahkan," adalah bukti nyata dari konflik yang terjadi pada wilayah spiritual: ada ketidakselarasan yang terus-menerus antara spiritualitas murni yang tidak diinstitusionalkan dan dogma yang dipaksakan oleh institusi. Bagi Begg, kultus ini tak terpecahkan bukan karena kurangnya pemahaman manusia, melainkan karena ikatan spiritual dan sejarah yang tidak dapat terhapus begitu saja.

Pengkultusan dalam konteks pemikiran Ean Begg dan fenomena Black Virgin, tidak sekadar mengacu pada penyembahan atau penghormatan terhadap sosok tertentu, melainkan menggambarkan bagaimana masyarakat membentuk dan memelihara suatu sistem kepercayaan yang terikat pada simbol-simbol atau figur yang dianggap sakral. Pengkultusan adalah proses kompleks yang melibatkan simbolisasi, internalisasi nilai-nilai, dan koneksi emosional yang mendalam dengan objek atau sosok yang menjadi pusat kultus tersebut. Dalam hal Black Virgin, pengkultusan ini tidak hanya mencakup penghormatan fisik terhadap patung atau lukisan, tetapi lebih dalam lagi mengisyaratkan perlawanan simbolis terhadap nilai-nilai spiritual dominan dan penghargaan terhadap kekuatan primordial yang lebih kuno.

Pusat dari praktik pengkultusan yang unik karena ia menghadirkan kontradiksi dalam spiritualitas Kristen. Pada satu sisi, ia dianggap sebagai representasi Bunda Maria, sosok suci dalam ajaran Kristen. Namun, warna hitamnya memberikan kesan misterius dan ambigu yang mengisyaratkan afinitas dengan kekuatan-kekuatan alam atau dewi-dewi kuno. Begg melihat pengkultusan terhadap Black Virgin sebagai pengakuan terselubung atas tradisi spiritual yang lebih tua, sebuah penghormatan yang tetap terjaga meskipun budaya dominan berusaha menghapusnya. Pengkultusan dalam hal ini menjadi simbol perlawanan bawah sadar terhadap penghapusan sejarah spiritual yang telah berlangsung lama. Secara lebih komprehensif, pengkultusan melibatkan aspek psikologis dan sosial yang memperkuat kehadiran simbol yang dianggap sakral. Proses ini mencakup internalisasi makna di dalam individu maupun masyarakat yang melihat figur tersebut sebagai penghubung dengan kekuatan yang tidak terlihat. Dalam konteks Black Virgin, pengkultusan mungkin mengakar dari kebutuhan akan identitas spiritual yang tidak hanya terikat pada dogma atau institusi, tetapi juga pada koneksi dengan alam, misteri, dan kekuatan feminin yang telah lama ditekan. Keberadaan dan pengkultusan Perawan Hitam menjadi lambang dari kesinambungan spiritualitas yang lebih luas, yang melibatkan keterikatan emosional dan historis dengan figur perempuan yang kuat, sebuah arketipe Ibu Agung yang mengatasi batasan agama formal.

Memperlihatkan bagaimana simbol-simbol tertentu mampu bertahan dan terus hidup bahkan saat berada di pinggiran atau terabaikan. Sosok Perawan Hitam, dalam pandangan Begg, adalah simbol dari sesuatu yang lebih dalam—spiritualitas yang tersembunyi dan tak dapat sepenuhnya dikendalikan oleh lembaga keagamaan. Kultus ini, yang tetap "tak terpecahkan," menunjukkan bahwa dalam tradisi masyarakat, simbol-simbol dapat memuat makna yang berlapis dan sering kali bersifat subversif terhadap tatanan yang ada. Proses pengkultusan pun menjadi bentuk “memori kolektif” yang mengandung nilai-nilai spiritual yang lebih autentik dan berakar dari masa lalu yang tidak hilang begitu saja. Pengkultusan, pada akhirnya, adalah proses yang menghidupkan simbol-simbol yang dipuja sebagai jalan menuju pengalaman spiritual yang lebih dalam, melampaui sekadar ritual atau dogma formal, menjadi jalan menuju pemahaman diri dan alam semesta yang lebih holistik. Begg menyampaikan bahwa dalam pengkultusan yang berlangsung di sekitar Black Virgin, ada penolakan kolektif terhadap penghapusan nilai-nilai spiritual kuno dan pencarian makna yang mendalam akan keberadaan manusia di alam semesta.

Praktik spiritual lokal yang mencerminkan kesinambungan tradisi kuno di bawah arus utama agama resmi. Seperti di Eropa, di mana Perawan Hitam menjadi simbol dari arketipe yang lebih tua dan kaya makna, Indonesia juga memiliki bentuk-bentuk kultus dan penghormatan lokal yang berakar dari tradisi sebelum masuknya agama-agama besar. Tradisi-tradisi ini, meski terkadang dikesampingkan atau dipandang sebagai “klenik,” tetap hidup dan bahkan dihormati oleh banyak masyarakat Indonesia.

Studi kasus yang nyata adalah penghormatan terhadap tokoh-tokoh perempuan dalam mitologi dan spiritualitas lokal, seperti Nyai Roro Kidul, yang sangat dihormati terutama di Jawa dan sekitarnya. Sosok Nyai Roro Kidul dianggap sebagai penguasa Laut Selatan dan diasosiasikan dengan kekuatan alam yang sangat kuat dan feminin. Meski tidak diakui dalam dogma agama formal, keberadaannya dihormati secara luas oleh masyarakat lokal. Dalam berbagai ritual, masyarakat di pesisir selatan Jawa memberikan persembahan kepada Nyai Roro Kidul sebagai bentuk penghormatan dan permohonan keselamatan. Bagi mereka, Nyai Roro Kidul adalah simbol kekuatan alam yang besar, sesuatu yang tak terlihat tetapi tetap dirasakan sebagai realitas yang kuat.

Relasi antara konsep pengkultusan yang dijelaskan oleh Ean Begg dalam The Cult of the Black Virgin dengan penghormatan terhadap Nyai Roro Kidul terlihat dari bagaimana sosok ini menjadi bagian dari kolektif tak sadar masyarakat yang mengakui kekuatan di luar institusi agama. Seperti Perawan Hitam di Eropa yang dianggap sebagai representasi kekuatan feminitas yang mendalam dan tak terdefinisikan oleh aturan patriarkal gereja, Nyai Roro Kidul di Indonesia dipandang sebagai figur feminin yang kuat, memiliki kekuasaan besar yang melampaui norma-norma agama formal. Fenomena serupa juga dapat dilihat dalam kultus atau penghormatan terhadap Dewi Sri, dewi kesuburan dan padi, yang hingga kini masih dipuja dalam upacara-upacara masyarakat agraris di Jawa dan Bali. Penghormatan kepada Dewi Sri tidak hanya mencerminkan penghargaan terhadap tradisi lokal tetapi juga mengandung nilai-nilai spiritual yang berakar pada kepercayaan bahwa kesejahteraan dan kesuburan bergantung pada hubungan yang harmonis dengan alam. Mirip dengan Perawan Hitam yang sering diasosiasikan dengan kekuatan bumi dan arketipe Ibu Agung, Dewi Sri juga mewakili kekuatan alam yang subur dan pelindung kehidupan. Upacara-upacara padi, seperti Sedekah Bumi atau Nyadran, menunjukkan bagaimana masyarakat menghormati figur ini, meskipun secara resmi praktik ini tidak diatur dalam agama yang dianut secara formal.

Pengkultusan figur seperti Nyai Roro Kidul atau Dewi Sri menunjukkan bahwa meskipun agama-agama besar mendominasi kehidupan keagamaan masyarakat Indonesia, ada lapisan spiritualitas lokal yang terus hidup dan dihormati sebagai warisan leluhur. Hal ini sejalan dengan konsep "kultus yang tak pernah terpecahkan" dalam pandangan Begg, di mana kepercayaan kuno tetap bertahan meskipun berada di bawah tekanan agama resmi dan modernisasi. Pengkultusan ini menjadi bentuk resistensi terhadap hilangnya identitas lokal dan spiritualitas yang lebih dalam, yang menawarkan perspektif tentang hubungan manusia dengan alam dan kekuatan-kekuatan di luar pemahaman sehari-hari.

Mencerminkan bahwa pengkultusan tidak selalu berupa penyembahan literal, melainkan simbolisasi dari hubungan manusia dengan unsur-unsur kehidupan yang dianggap suci dan penuh makna. Seperti halnya Perawan Hitam bagi Eropa, figur-figur seperti Nyai Roro Kidul dan Dewi Sri di Indonesia menjadi jembatan spiritual antara masa lalu dan masa kini, simbol dari sebuah arketipe yang tetap ada meskipun dunia berubah. simbol-simbol spiritual yang berakar dari tradisi kuno dapat bertahan meskipun berada dalam bayang-bayang dogma agama resmi dan modernitas. Figur Black Virgin yang misterius, seperti Nyai Roro Kidul dan Dewi Sri di Indonesia, melambangkan kekuatan feminin, spiritualitas alam, dan keberlanjutan tradisi lokal yang tidak sepenuhnya terhapus oleh dominasi agama-agama formal. pengkultusan yang berlangsung tidak lagi mencerminkan penghormatan terhadap simbol yang mendalam, melainkan lebih kepada eksploitasi makna untuk tujuan tertentu. Ini menunjukkan kontradiksi antara pengkultusan sebagai bentuk pengakuan terhadap spiritualitas yang lebih tinggi dan pengkultusan sebagai alat untuk memperkuat struktur kekuasaan atau keuntungan tertentu. Jika kita kembali tampak jelas di Indonesiabukan hanya karena simbolisme kuno yang terus bertahan, tetapi juga karena maknanya sering kali dipelintir dan disalahgunakan dalam konteks yang lebih pragmatis dan kurang spiritual.

Pandangan yang terlalu romantis atau idealis terhadap pengkultusan tradisional. Ketika masyarakat memandang praktik spiritual ini sebagai sesuatu yang otentik, terkadang ia mengabaikan faktor-faktor realitas sosial yang menyebabkan praktik tersebut semakin tereduksi atau diubah menjadi alat legitimasi kekuasaan. Misalnya, ritual-ritual yang berkaitan dengan kepercayaan lokal sering kali terdistorsi menjadi alat untuk menenangkan massa atau untuk memanipulasi masyarakat demi kepentingan ekonomi atau politik. Pada akhirnya, pengkultusan di Indonesia, seperti yang terungkap dalam kritik terhadap pengkultusan Perawan Hitam dalam teori Begg, menunjukkan bahwa simbolisme dan kepercayaan yang seharusnya mendalam dan penuh makna sering kali mengalami pergeseran, menjadi lebih relevan dengan kebutuhan sosial-politik masa kini yang jauh dari esensi spiritualnya. Pengkultusan sosok-sosok ini bukan hanya tentang penyembahan tetapi juga tentang menjaga hubungan dengan kekuatan yang lebih dalam dan primal—koneksi terhadap elemen-elemen kehidupan yang lebih luas, yang sering kali ditekan namun tetap hidup di bawah permukaan. Melalui simbolisasi figur-figur ini, masyarakat mempertahankan memori kolektif, identitas spiritual, dan koneksi dengan alam yang telah berakar jauh sebelum agama-agama besar hadir. Pada akhirnya, konsep pengkultusan seperti ini tidak hanya merupakan pelestarian spiritualitas lokal, tetapi juga bentuk resistensi kultural yang tetap menghormati kekuatan-kekuatan yang sulit dijelaskan, tak terlihat, namun memiliki makna mendalam bagi keberlanjutan nilai-nilai dan identitas budaya.




that's all for now…………..





























































































Referensi;

Begg, Ean. The Cult of the Black Virgin. London: Arkana, 1985.

Campbell, Joseph. The Hero with a Thousand Faces. Princeton: Princeton University Press, 1949.

Purwadi. Kebudayaan Jawa: Menyelami Kearifan Lokal Jawa. Yogyakarta: Media Abadi, 2009.

Simuh. Sufisme Jawa: Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa. Yogyakarta: Bentang Pustaka, 2003.

Atmodjo, M.M. Mitologi dan Folklor di Nusantara. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1994.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Regresi Emosional pada 'Aku' yang Bersikeras

Digitalisasi sebagai janji: Demokratisasi-Informasi yang berbalik

Bandung 'dalam' kurun kedua kali-nya

Metastasis [Akhir Tahun] pada Tata Ujar

Regresi Emosional pada 'Subjek' yang Bersikeras

Melawan Laut, Melawan Diri: Telaah 'Anti-Heroisme' pada The Old Man and the Sea Hemingway