Wanita yang dirindukan Peradaban
Apakah kau masih ingat?
judul catatan puisiku yang pernah kukirimkan kepadamu—dengan alamat samar di samping loket JNE, pada tanggal tiga maret dua ribu dua puluh tiga?
Izinkan aku, sekali lagi, meminjam judul itu dan menyempurnakannya menjadi tulisan menyeluruh
—tapi tidak utuh
sebab melainkan ia gema dari kerinduan yang telah menahun
Sebelum jemarimu menyentuh kata-kata ini, izinkan aku terlebih dahulu memastikan sesuatu
Tolong!
dengan segenap kesungguhan
bacalah dalam keadaan yang hening
Kau pernah menolak tulisanku dan aku memaklumi karenanya kini kutulis secara virtual
—barangkali inilah permintaan terakhirku, bila Tuhan kelak memanggilku kembali kepada keabadian.
Ada syarat-syarat sederhana sebelum kau mengunyah bait-bait ini:
—Pertama, bacalah dalam kesendirian, di mana hanya kau dan hatimu yang hadir.
—Kedua, tanggalkan sejenak segala hiruk-pikuk pikiranmu: masa lalu yang menggeram, masa kini yang riuh, bahkan masa depan yang mencemaskan.
—Ketiga, biarlah malam menjadi saksi. Tariklah nafas dalam-dalam, berilah jeda waktu sepuluh menit sebelum melanjutkan.
—Dan akhirnya, silakan nikmati hidangan kata-kata ini; meski hambar dan tak sempurna, ia kusajikan khusus untukmu.
Gadis kecilku yang paling terkasih
Sudah sekian lama aku ingin menulis surat malam untukmu
selepas beranjak dari pertemuan bersama sahabat-sahabat
Sebuah catatan yang akan menjelma kisah berjudul “Kekalahan” dan “Keikhlasan”—fragmen tentang saat-saat ketika dunia seolah berada di genggaman kita
Aku memiliki banyak sekali harapan: terhadap orang tuaku, sahabat-sahabatku, dan terutama terhadapmu
Aku ingin menyerahkan kebahagiaan sebesar kerajaan, meletakkannya di kakimu sebagaimana para penakluk mempersembahkan kejayaan di era Raja Louis XIV
Namun,
keletihan selepas kebersamaan itu, selalu menuntunku untuk tidur
Namun
malam ini,
tepat di tanggal tiga, saat kita berdua pernah menandatangani sepucuk surat yang kemudian kau
tabur menjadi abu,
aku justru menulis kepadamu.
Ingin kubagikan perasaan yang tak pernah kutuliskan
—sebuah metamorfosis rasa:
dari persahabatan menuju cinta
dari kekuatan menuju kelembutan
Malam ini aku mencintaimu, bukan dengan letih perjalanan atau ambisi untuk selalu ada di sisimu
melainkan dengan cinta yang kuredam dalam diriku
kujadikan bagian dari jiwaku sendiri
Perasaan ini kerap muncul
meski jarang sekali kutuangkan dalam tulisan
Aku mencintaimu
tapi juga memperhatikan arah jarum perasaanmu kepadaku
Di Gerbang Selatan
aku mencintaimu
tanpa interupsi, sementara di minggu-minggu terakhir kita
aku mencintaimu dalam suasana malam musim semi
—dengan jendela terbuka
coretan sketsa dan cahaya layar laptop
Kau adalah milikku dan segala sesuatu di sekitarku turut menjadi bagian dari cintaku; sebagaimana cintaku yang ikut mengubah sekitarku;
—Aku masih mengingat ketika surat itu kau bakar, seolah tak meninggalkan alasan apa pun.
—Aku masih mengingat romantisme KKN yang mempertautkan kita dalam pemahaman.
—Aku masih mengingat rambut panjangku yang kau urai di sisirmu di tepi danau.
—Aku masih mengingat keinginan kita untuk selalu membaca buku.
—Aku masih mengingat perjalanan pulangmu yang sempat singgah di warung kopi hingga membuatmu terlambat, namun kita sempat berfoto bersama.
—Aku masih mengingat semangat kita dalam kegiatan struktur sosial.
—Aku masih mengingat hari Kamis yang kaujadikan “Friend Day” tak ada pintu penghakiman apapun untuk ku ganggu, helm yang hilang hingga harus kugantikan dengan jasa Grab, ibadah sempro yang penuh riuh, bahkan genna-mu yang seakan menembus langit.
—Aku masih mengingat perjalanan kita ke kampung ayahku saat almarhumah masih sama sama bersemayam, hingga candamu tentang “Sub***” yang tak kauinginkan lagi.
—Aku masih mengingat permintaanmu agar poster Korea tak kututup, genggaman tangan kita di alun-alun, amarahmu di perjalanan observasi zakat, cokelat yang kuserahkan hingga kau mengeluh soal berat badan, semangatmu dalam lomba debat hingga terlelap di kos Kujang, obrolan tentang evaluasi hubungan, hingga perdebatan soal jarak, ego, dan cinta yang kita rawat di antara kesunyian.
Segala fragmen itu menjelma kaleidoskop perasaan—antara senyum, luka, tawa dan air mata.
Aku bertanya padamu: apakah cintamu padaku lahir dari sembilu, ataukah dari ketulusan? Apakah cintaku bagimu adalah penawar, atau justru menjadi racun yang perlahan menyesakkan?
Aku masih mendengar gema percakapan kita—tentang masakanmu yang tak kucoba, tentang lelah yang terpancar di wajahmu, tentang pertanyaan apakah aku sudah mandi, tentang nasihatku untuk minum obat, tentang lebaran yang mesti saling memaafkan, tentang detektif cemburu, tentang panggilan sayang pertama kali yang tak kau singkat, tentang peringatan agar aku makan banyak.
Namun aku juga masih mengingat pesanmu yang getir: bahwa kita sama-sama keras kepala, bahwa egomu pada budaya Korea adalah pelarian, bahwa hidupmu terasa hampa bila harus menanggalkan kegemaran itu. Kalimatmu, seperti luka yang menggores, tak perlu lagi kutambahkan catatan kaki.
Kini aku sadar: ketika pada saat satu bulan lalu kau sudah mulai berkemas mengembalikan barang-barangku, dan setahun kemudian kau benar-benar melakukannya.
Foto terakhir kita pun kaubalikkan.
Aku bertanya:
bagaimana
bila cinta yang menenangkan itu tak datang, atau bahkan tak pernah ada?
Bagaimana
bila ketakutanku adalah kebenaran?
Bagaimana
menemukan ketenangan dalam cinta, bila ketakutan selalu mencengkeram?
Aku tahu, kau sering kali takut: takut cinta palsu, takut cinta salah, takut tidak layak dicintai, takut cinta membelenggu karier, takut cinta berubah seperti berita-berita duka. Kau takut kemungkinan tak dicintai, atau mencintai tapi tak benar-benar mencintai.
Kau takut.
Aku pun takut.
.
Namun, cinta sejati adalah yang datang dan menenangkan, meski takut kembali menyerang.
“Kau adalah aku yang dahulu, dan aku adalah dirimu di hari kemudian.”
Sepasang kekasih, yang dahulu satu suara, kini dipisahkan oleh keretakan.
Karena itu aku sadar: kau lebih pantas mendapatkan lelaki yang lain.
Lelaki yang lebih cakap, lebih lembut, lebih setia, lebih mengerti.
Tentang
bunga yang layu dan dipaksa untuk terus hidup.
Tentang
rasa sakit yang menyakiti lebih jauh.
Tentang
tawa, air mata, keberanian, keputusan, doa, dan keikhlasan.
Tentang
harapan agar kau bahagia—meski bukan denganku.
Premisnya, aku masih bingung: apakah hari ini kau benar-benar menyerahkan segalanya kepadaku, atau tidak? Aku hanya akan menunggu hingga tanggal tujuh belas April.
Bila saat itu perasaanmu tetap sama, aku takkan kuat.
Bila kita akhirnya berpisah, maka izinkan aku mengucapkan terima kasih: untuk cinta yang kauberikan, untuk pelajaran yang kauajarkan, untuk kenangan yang takkan pudar.
Perpisahan bukanlah akhir, melainkan awal untuk menemukan yang benar-benar kita cari.
Aku hanya bisa mendoakanmu: semoga kau menemukan ketenangan yang tak mampu kuberikan.
Aku mencintaimu dengan segenap hati dan jiwa
Air mataku menetes,
tapi biarlah
—aku tak peduli dianggap berlebihan
Jika kelak kita memilih jalan masing-masing,
aku akan belajar menghapus kebiasaan lama,
membiasakan kembali kesendirian, menanggalkan cinta yang mengakar dalam, hingga aku bisa kembali beradaptasi dengan takdir.
Waktu telah berjalan, usia melambai, takdir tersurat di sejadah, harapan merentang di masa depan.
Kita berjalan dengan kehendak kita masing-masing, karena setiap individu memiliki hak paten atas jalannya.
Salam penuh kasih,
Sang Mesra
Komentar
Posting Komentar