Bertahan hidup [tanpa] petunjuk resmi

Aku Menulis
bagi engkau yang menggantung harap pada langit yang patah, pada algoritma bisu yang tak tahu malu menyamar sebagai kebenaran, pada mimbar-mimbar beraroma parfum dinas yang memperdagangkan moral, pada para pemilih yang jari telunjuknya lebih akrab dengan layar kaca daripada suara nurani yang lekas dibungkam.


Aku Menulis
bukan sebab aku nabi dengan pena bercahaya,
melainkan karena malam belum menidurkan keresahan.
Jam-jam sepi adalah gereja sunyi tempat roh rakyat
yang tak punya juru bicara berdendang lirih dalam napas yang separuh ditukar dengan harga sembako.


Aku Menulis
untukmu yang paham, 
—Yang tahu darah bisa menguap dari buku sejarah dan mendidih kembali di dapur rakyat —Yang mengerti, kata kita sering kali dipakai untuk menjebloskan lebih banyak dari kata mereka —Yang tahu tubuh bisa menjelma batu dan batu bisa diubah jadi grafik oleh biro statistik.


Aku Menulis
untukmu yang tahu bahwa sabar bukanlah eufemisme dari tunduk,
bahwa menjadi pahlawan adalah kutukan yang dikhianati tugu peringatan, bahwa mati demi slogan hanyalah cara baru
untuk dibungkus dalam karangan bunga yang tak pernah dibaca.
Kepada kau yang berjalan dalam hujan tanpa perlu bersyair tentangnya, karena tidak semua basah perlu dirayakan dengan puisi basah pula.


Aku Menulis 
dengan napas utuh,
tanpa titik koma atau tanda tanya.
Sebab jeda telah ditafsir sebagai ragu,
dan ragu kini digolongkan dalam nomenklatur kelemahan
yang dicatat sebagai anomali dalam sensus nasional.


Aku Menulis
—untukmu yang menggigit roti seperti mencicipi rasa bersalah,
yang menyeka keringat bukan karena kerja mulia tapi karena enggan menyaksikan pengkhianatan lewat layar plasma. —untukmu yang menutup jendela, bukan sebab takut angin malam,
melainkan karena terlalu banyak mata yang mengintai dan telinga yang mencatat diam-diam untuk dijual esok pagi.


Aku Menulis 
karena mungkin,
kata-kata bukanlah solusi—
melainkan luka kecil yang gagal membusuk,
doa yang lupa kepada siapa ia dititipkan,
batu kecil dalam saku
yang tidak membuatmu terjatuh,
tapi cukup memberi bobot agar langkahmu
terasa lebih nyata.


Aku Menulis
untukmu yang duduk di antara suara dan sunyi,
yang tiap kali menonton berita
harus menyeduh logika dua kali—
karena yang muncul bukan peristiwa,
melainkan opera boneka dengan benang kasat mata yang disulam dari anggaran negara.


Aku Menulis
untukmu yang tak pernah diundang dalam survei,
tapi selalu dituduh sebagai margin error demokrasi.
Yang namanya tak terdaftar di e-voting tapi wajahnya muncul dalam baliho janji yang tak kau buat —Yang hidupnya dikurasi seperti feed Instagram kementerian —penuh senyum palsu dan statistik kabur yang minta disembah.


Aku Menulis
dalam lengkung bahasa yang dikerutkan ironinya,
dengan diksi yang tak lazim dipakai dalam upacara bendera.
Sebab bahasa kita sudah lama disterilkan dari keberanian,
dan diganti dengan SOP yang steril dari makna.


Aku Menulis 
dengan ejaan yang tidak disempurnakan,
sebab kenyataan pun sudah lama tak sempurna.


Aku Menulis
untukmu yang belajar tersenyum dalam antrean subsidi —yang belajar menunduk tanpa menjadi budak —yang tahu betul:
apa yang disebut sabar oleh elite —adalah jeda agar mereka bisa makan duluan. Yang tahu, sabar itu tidak netral dan doa bisa dipakai untuk menunda amarah yang sah.


Aku Menulis
untukmu yang tahu bahwa tertib bisa berarti takut,
dan hormat bisa berarti tunduk, untukmu yang membaca sejarah tak dari buku paket —melainkan dari luka-luka kakekmu yang enggan disembuhkan agar tak dilupakan.


Aku Menulis
karena bisu terlalu sempit untuk makna yang mekar,
dan dunia terlalu gaduh untuk jeda yang tulus.
Karena setiap kalimat yang ditulis dengan jujur
adalah kudeta kecil terhadap tata bahasa kekuasaan.
Dan setiap jeda adalah sabotase terhadap narasi besar
yang ingin kau lupa bahwa tubuhmu pun penting.


Aku Menulis
karena kau masih ada —meski tak disebutkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional, Karena keberadaanmu tak diukur dari konsumsi tapi dari cara kau menyusun langkah di tengah reruntuhan janji. Karena kau memilih bertahan—
tanpa harus ditayangkan dalam konten motivasi.


Dan jika tak satu pun dari kata ini menggenangimu,
biarkanlah ia menguap,
seperti yang kau lupa pernah kau hafal.

Dan jika satu pun dari ini tidak menyentuhmu,
maka janganlah berterima kasih.


Sakitu hla ji



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Regresi Emosional pada 'Aku' yang Bersikeras

Digitalisasi sebagai janji: Demokratisasi-Informasi yang berbalik

Bandung 'dalam' kurun kedua kali-nya

Metastasis [Akhir Tahun] pada Tata Ujar

Regresi Emosional pada 'Subjek' yang Bersikeras

Melawan Laut, Melawan Diri: Telaah 'Anti-Heroisme' pada The Old Man and the Sea Hemingway