Meja Rias yang Merindukan Wajah Aslinya


"Ahhh. . . . betapa menyedihkannya jika manusia lupa: bahwa satu wajah jujur jauh lebih indah dari seribu persona sempurna."


Di sudut kamar yang terlalu terang oleh cahaya vanity 
dan terlalu bisu oleh standar sosial yang dipantulkan
tahu persis bagaimana wajah dipreteli, dipoles, dipalsukan. 

Di atasnya berderet botol-botol kecil berlabel Prancis, 
tapi isinya adalah ketakutan yang dibungkus harapan

menyimpan semuanya: sisa-sisa jati diri 
yang dikikis dalam diam

disisihkan seperti kulit mati. Maka tak heran bila ia mulai rindu—rindu pada wajah yang datang tanpa malu, 

Tiap pagi adalah tragedi ringan 
dengan aktor yang sama tapi peran berbeda. 
Tapi di zaman di mana jujur adalah radikal
—kalau ia bisa.

mengingat masa lampau ketika manusia bercermin bukan untuk menyesuaikan diri dengan tren, tapi untuk menemukan kembali dirinya yang nyaris hilang.

Tapi sayang
manusia lebih percaya pada kamera daripada mata sendiri. 
ia adalah sistem budaya yang sadar sedang berdosa
Ia telah menjadi alat pencetak
Manusia post-post  

Cogito ergo sum telah lama 
digantikan oleh 
I post, therefore I am

: ketika manusia lebih sering menatap pantulan dirinya daripada mendengarkan suara dari dalamnya.

Dalam dunia di mana semua orang menjadi kurator dari versinya sendiri, identitas menjadi proyek branding
Manusia menjelma menjadi entitas promosi berjalan: bio-nya dipikirkan seperti tagline startup, fotonya disusun seperti katalog dan pemikirannya dikemas seperti konten edukatif—yang harus singkat, estetik dan tidak menyakitkan hati siapapun. 

Bahkan keresahan harus dikonversi menjadi konten. 
Bahkan luka harus bisa dijual sebagai self-healing. Maka yang t

Meja rias tahu betul tentang ini. 
saksi tragedi: wajah yang mulai tak mengenali dirinya

Lalu dunia bertanya, mengapa banyak manusia merasa kosong padahal banyak followers? 
Mengapa depresi meningkat padahal notifikasi tak pernah berhenti berdentang? siapa yang kau cerminkan hari ini, jika bukan dirimu sendiri?

Potongan-potongan story 15 detik 
yang dipoles 
lebih lama dari waktu salat subuh

Siapa yang punya waktu bertanya
“siapa aku?” 
mengenal khusyuk?

Karena hidup, kawan, 
tapi demi keutuhan yang 
tak bisa dijelaskan oleh 
caption panjang
 
pencerahan... pencerahan... pencerahan... 

Ah, betapa menyedihkannya jika manusia lupa: bahwa satu wajah jujur jauh lebih indah dari seribu persona sempurna. 
Dan betapa tragisnya ketika meja rias lebih mengenali kita, ketimbang jiwa yang menghuni tubuh ini tanpa alamat

Dan saat malam turun dengan sunyi yang paling sepi
Semuanya
berdoa—
—agar kau segera membuka mata

Karena mungkin
mungkin ini mah

mungkin
 di akhir zaman estetika ini
kejujuran adalah satu-satunya bentuk revolusi

revolusi... revolusi... revolusi...



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Regresi Emosional pada 'Aku' yang Bersikeras

Digitalisasi sebagai janji: Demokratisasi-Informasi yang berbalik

Bandung 'dalam' kurun kedua kali-nya

Metastasis [Akhir Tahun] pada Tata Ujar

Regresi Emosional pada 'Subjek' yang Bersikeras

Melawan Laut, Melawan Diri: Telaah 'Anti-Heroisme' pada The Old Man and the Sea Hemingway