Metanoia Tentang 'Pelindung-Pengayom'
"Aku menulis—bukan karena aku mengenalnya, tetapi karena kematiannya terlalu akrab dengan wajah negeri ini"
Untuk Seorang yang Tak Akan Pulang
Seorang ojol
dengan jaket hijau yang telah basah oleh peluh
dengan motor sederhana yang menjadi roti harian keluarganya
dilindas begitu saja oleh mobil aparat
“tidak disengaja?” Tapi siapa yang percaya? Siapa yang masih bisa menerima dalih “lalai” ketika roda besi negara melindas tulang rakyat dengan dingin tanpa menoleh?
berangkat pagi dengan niat sederhana: menukar bensin dengan nasi
menukar hujan dengan uang sekolah anaknya
Ia bukan musuh negara
bukan ancaman keamanan,
bukan perusuh dalam demo
Ia hanyalah pengemudi ojol; orang kecil yang berharap jalan raya adalah ruang kerja, bukan ruang kematian
Namun justru di jalan itulah, ia disambut bukan oleh rezeki, melainkan roda aparat yang lebih tajam daripada vonis hukum.
Aku menulis—sebab dalam tubuh yang terkapar itu, tersimpan pertanyaan yang tak pernah dijawab: siapa sebenarnya yang dilindungi aparat ketika seorang pencari nafkah dibunuh oleh kelalaian? Mengapa rakyat selalu jadi korban, sementara seragam hanya menunduk sebentar lalu berlalu dengan sirene yang terus meraung?
Pelindung yang Pembunuh
Aku menulis—karena di sinilah absurditas itu mencapai puncaknya: pelindung berubah jadi pembunuh, pengayom menjelma perampas nyawa.
Sungguh ironis, nyawa rakyat kecil begitu murah ketika dihadapkan dengan roda institusi besar
Bila rakyat melanggar, ia segera diborgol;
Bila aparat melanggar, ia segera diselimuti alasan
Bila rakyat menabrak, ia dihukum sebagai kriminal; bila aparat melindas, ia diampuni sebagai kesalahan prosedural.
Betapa timpang timbangan keadilan ini, betapa menipu wajah pengayom ini, betapa kejam seragam yang kehilangan makna ini.
Aku menulis—untuk mengatakan bahwa pelindung sejati tidak boleh menabrak rakyatnya sendiri. Pengayom sejati tidak mungkin meninggalkan seorang ayah di jalanan, tubuhnya remuk, mimpinya terhenti, keluarganya menunggu di rumah tanpa tahu bahwa pintu itu tak akan pernah diketuk lagi.
Kematian yang D-i,dinginkan
Aku menulis— sebab negeri ini lebih cepat menyalahkan lalu lintas daripada mengadili aparat. Berita menulis: “kecelakaan lalu lintas.” Kepala lembaga berkata: “sedang diperiksa.” Tetapi kita semua tahu, bahwa bahasa itu hanyalah pendingin luka, obat bius yang menipu, kosmetik untuk menutupi noda darah
Seakan-akan roda mobil aparat hanyalah kebetulan, seakan-akan hidup ojol hanyalah statistik kecil yang bisa dilupakan esok pagi.
Seorang aparat yang digaji dari pajak rakyat justru melindas rakyat yang membayar hidupnya dengan bensin dan keringat
Aku menulis—untuk mengenang seorang ojol yang mati bukan karena takdir, melainkan karena brutalitas yang disamarkan
Namanya mungkin tidak masuk ke laporan nasional, wajahnya mungkin tidak pernah dipajang di layar televisi
tetapi luka kematiannya telah menjadi prasasti sunyi di hati rakyat.
Sejarah akan mencatatnya sebagai tanda kejatuhan moral aparat
Jika pelindung bisa melindas, lalu apa bedanya mereka dengan penindas?
Jika pengayom bisa membunuh, lalu apa bedanya mereka dengan algojo?
Aku menulis—agar anaknya tahu bahwa ayahnya tidak mati sia-sia, melainkan menjadi cermin yang memperlihatkan kekejaman kekuasaan.
Aku menulis—agar rakyat tahu, bahwa pelindung sejati bukanlah mobil bersirene, melainkan mereka yang berjalan hati-hati, menghargai hidup sekecil apa pun, bahkan hidup seorang pengemudi ojol di sudut jalan.
di Ujung Lidah
Aku menulis— sebab kata pelindung dan pengayom adalah mantra suci yang wajib dihafal juga keduanya telah menjelma seperti fosil retak yang dipamerkan di museum birokrasi:
indah dilihat, rapuh disentuh
dan berdebu di balik kaca transparan
Kata-kata itu, yang dahulu lahir dari rahim kosmologi perlindungan manusia
kini terjerat dalam kamus administrasi
tercetak di seragam pejabat
dihafal oleh juru bicara negara
tetapi kehilangan darah dalam nadi rakyat
Pelindung yang semestinya berdiri sebagai atap kokoh, kini menjelma hanya sebatas slogan yang dipajang di baliho
Pengayom, yang semestinya merengkuh tubuh rapuh, kini hanya terucap saat peringatan hari besar, ketika kamera televisi menunggu detik emas untuk menyiarkan citra
Maka aku menulis—bagi engkau yang tahu betapa kata bisa dipakai sebagai borgol halus
bagi engkau yang merasakan lidah bisa menggores lebih dalam daripada peluru,
bagi engkau
yang
masih
beerrani
menyebut nama
pelindung-pengayom
dengan nada nada nada nada getir
Perlindungan seringkali hanya berlaku bagi angka
bukan manusia;
dan pengayoman hanya diproduksi untuk si kaya
yang lebih percaya pada data ketimbang darah
Aku menulis—untukmu yang sadar bahwa pelindung itu seringkali datang terlambat.
Mereka hadir setelah hujan reda, setelah atap rumah roboh, setelah mayat terbujur
Pengayom pun baru datang ketika kamera media menunggu jumpa pers
ketika mikrofon sudah menempel di jas
ketika air mata diperas menjadi komoditas empati musiman
Itulah mengapa rakyat sering bertanya dalam bisu: di manakah pelindung itu saat kami digilas malam? di manakah pengayom itu ketika kami ditelanjangi oleh sistem yang menganggap kesedihan kami sebagai statistik semata?
Seharusnya menjadi leviathan yang mengayomi
hukum seharusnya menjelma sebagai justitia yang memeluk semua
Tetapi apa yang terjadi? Leviathan justru menelan anak-anaknya sendiri, dan justitia kehilangan timbangan, lebih suka menyembunyikan pedangnya dalam upacara simbolik. Pelindung menjadi predator, pengayom menjadi penyensor
Di sini aku teringat akan catatan filsuf Yunani Herakleitos, yang berkata bahwa dunia ini dikuasai oleh konflik laten (polemos)
Maka jangan heran jika pelindung kerap menjelma sebagai ancaman dan pengayom berubah jadi tangan besi
Retakan itu nyata: rakyat hanya tahu pelindung ketika palu pengadilan diketukkan, atau ketika sirene berbunyi untuk mengawal pejabat
Rakyat hanya kenal pengayom ketika ditertibkan dalam demonstrasi atau ketika tubuh mereka diringkus karena melanggar aturan yang bahkan tak mereka pahami. Maka apakah pelindung itu rumah, ataukah penjara? Apakah pengayom itu pelukan, ataukah borgol? Retakan ini terus menganga, seperti mulut lapar yang tak pernah kenyang, menelan makna dan memuntahkan citra belaka.
Metanoia: Pertobatan dari Kata-Kata yang Tergelincir
Aku menulis—dalam nada metanoia, dalam pertobatan panjang, bukan karena aku suci dari cela, melainkan karena aku muak pada upacara pengkhianatan kata
Kata pelindung dan pengayom butuh dibersihkan
bukan dengan air suci
tapi dengan keberanian menatap kenyataan.
Metanoia di sini: dari ilusi menuju kesadaran, dari retorika menuju realitas dari simbol menuju substansi.
Metanoia itu mengajarkan kita bahwa pelindung sejati tidak lahir dari seragam, tidak berasal dari jabatan, tidak tumbuh dari anggaran
Ia lahir..............
dari keberanian seorang ibu yang menukar lapar dengan senyum
dari kesabaran seorang petani yang tetap menanam meski harga pupuk menertawakan
dari keteguhan seorang guru honorer yang mengajar tanpa kepastian gaji.
Metanoia juga berarti sadar
yang menahan amarah agar dunia tidak habis terbakar
yang menjaga kehidupan di sekelilingnya, meski tanpa piagam
meski tanpa tugu.
meski tanpa tugu.
meski tanpa tugu.
Sang Pengayom
Aku menulis— sebab seringkali yang disebut pelindung justru menakutkan dan yang mengaku pengayom justru menjerat
Betapa aneh sebuah negeri, di mana rakyat takut pada pelindungnya sendiri, di mana pengayom justru menuntut hormat dengan cara menindas. Tidakkah itu sebuah ironi yang terlalu terang untuk diabaikan?
Lihatlah: pelindung yang katanya menjaga keamanan, lebih suka berdiri di depan istana ketimbang di depan pasar. Pengayom yang katanya merangkul rakyat, lebih sering hadir di gedung ber-AC daripada di rumah bocor yang diguyur hujan.
Rakyat belajar dengan cepat: perlindungan hanya berlaku bila kau punya koneksi; pengayoman hanya hadir bila kau punya kontribusi. Sisanya? Hanya sisipan berita, hanya angka di tabel statistik, hanya margin error dalam survei politik.
Aku menulis— bukan karena tulisan ini mampu menyelamatkanmu, melainkan karena aku ingin membiarkan kata-kata ini bergetar di antara atap yang retak dan pelukan yang palsu. Kata pelindung dan pengayom adalah saksi bisu dari tragedi kita bersama: kata yang dahulu suci, kini dipakai sebagai alat untuk menutup luka
Tetapi aku percaya, masih ada ruang untuk metanoia. Masih ada kemungkinan bagi kata itu untuk direbut kembali oleh rakyat, untuk dibersihkan dari noda birokrasi, untuk dipulihkan maknanya oleh keberanian sederhana.
Karena pelindung sejati adalah mereka yang tidak menakut-nakuti, dan pengayom sejati adalah mereka yang tidak menuntut sujud.
Aku menulis—untukmu yang tahu, bahwa atap bisa bocor tapi langit tetap luas, bahwa pelukan bisa palsu tapi cinta tetap ada. Untukmu yang tahu, bahwa perlindungan tak perlu menunggu surat keputusan, bahwa pengayoman tak butuh stempel resmi. Untukmu yang sadar, bahwa kekuasaan hanya bayangan, sedangkan yang nyata adalah tubuhmu yang masih berdiri, meski dihempas badai.
Maka biarlah kata ini kembali ke pangkuan rakyat.
Biarlah pelindung sejati lahir dari kesederhanaan dan pengayom sejati tumbuh dari keberanian.
Karena hanya dengan begitu, kata itu tak lagi sekadar fosil di museum, melainkan nadi yang berdetak, darah yang mengalir, dan makna yang hidup—selamanya hidup.
Aku menulis—bukan karena aku ingin memelihara dendam, melainkan karena setiap kali gas air mata dilepaskan, ia bukan sekadar asap, melainkan kabut sejarah yang mengaburkan siapa sebenarnya pelindung dan siapa yang dilindungi.
Di negeri ini, Polri mengaku sebagai pengayom dan pelindung. Namun rakyat belajar, bahwa pengayom itu bisa melempar batu ke arah mereka yang lapar; bahwa pelindung itu bisa mencabut senjata untuk menakuti mereka yang hanya memegang spanduk. Ironi macam apa yang lebih terang daripada aparat yang takut pada rakyatnya sendiri?
Ironi macam apa yang lebih getir daripada negara yang gemetar bukan karena musuh asing, tetapi karena suara perut yang keroncongan?
Maka aku menulis—agar kata-kata ini menjadi saksi dari luka yang tak sempat dicatat di BAP, agar kalimat ini menjadi memorial kecil bagi mereka yang tak masuk dalam laporan resmi. Karena brutalitas aparat bukan sekadar tindakan sesaat, ia adalah sistem, ia adalah pola, ia adalah instrumen yang dihalalkan oleh dalih keamanan.
Ritual Kekuasaan
Aku menulis—karena aku melihat bahwa kekerasan aparat ialah pelanggaran prosedur juga sudah menjelma menjadi ritual.
Lihatlah!!!
setiap kali rakyat turun ke jalan, sirene meraung bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menandai dimulainya liturgi gas air mata
Lihatlah!!!
setiap kali rakyat berteriak menuntut hak, pentungan bukan sekadar kayu, melainkan tongkat suci yang dianggap sah untuk memukul siapa pun yang dianggap mengganggu litani stabilitas.
Lihatlah!!!
lewat tubuh—tubuh yang dipaksa tunduk, tubuh yang diatur, tubuh yang dipukul
apakah Polri masih pelindung, ataukah ia sudah berubah menjadi ritual penjaga tahta? Apakah aparat masih pengayom, ataukah ia sekadar liturgi brutal yang dilestarikan oleh generasi seragam?
ada kemungkinan tubuh mereka akan terhantam, ada kemungkinan suara mereka akan dibungkam.
Apakah ini bukan bentuk dekadensi? Apakah ini bukan tanda bahwa yang disebut “pelindung” telah bertransformasi menjadi bayangan yang berkeliaran di lorong negara?
Žižek pernah menulis tentang kekerasan sistemik: kekerasan yang tidak tampak, tapi menahun, yang dianggap normal karena diulang terus-menerus
Kebrutalan aparat adalah kekerasan sistemik itu: ia menjadi normal, ia menjadi wajar, ia bahkan dianggap sah—sehingga rakyat pun dipaksa belajar untuk menerima rasa takut sebagai bagian dari hidup sehari-hari.
Karna Aku menulis— sebab kita semua sudah tahu siapa yang benar-benar diayomi oleh aparat.
Rakyat hanya mendapat pengayoman ketika menjadi angka di dalam laporan tahunan. Perlindungan hanya hadir ketika kematian mereka bisa dihitung sebagai “kasus terselesaikan”. Ahhh anjai meski banyak yang gaselesai ya gaaaaa? Hhhhaaa
Di luar itu, rakyat hanyalah kerumunan liar yang harus dibungkam, diatur, ditertibkan
Makaaaaaaaaa
Kita belajar, bahwa pengayom sejati bukanlah aparat, melainkan sesama rakyat yang menolong di tengah huru-hara.
tangan-tangan kosong yang berani menggandeng di tengah kepanikan.
sebab sejarah sedang mencatat dengan tinta darah.
Metanoia—pertobatan—masih mungkin.
Tapi mungkin itu ialah ketidakmungkinan itu sendiri wjwkwkwkwkw
Pertobatan aparat bukan dalam bentuk pidato atau slogan, melainkan keberanian untuk berhenti menakut-nakuti, keberanian untuk kembali kepada rakyat, keberanian untuk menanggalkan ritual yang diwariskan.
Tetapi jika metanoia itu tidak pernah tiba, maka sejarah sendiri akan memberi vonis. Rakyat akan mengingat setiap gas air mata yang masuk ke paru-paru, setiap pentungan yang pecah di kepala, setiap luka yang tak pernah ditulis di laporan.
Aku menulis—karena bisu terlalu sempit untuk menampung luka ini dan diam terlalu kaku untuk menampung amarah ini.
Aku menulis—agar kebrutalan aparat tidak pernah menjadi wajar, agar seragam itu tidak selamanya menjadi jubah, agar rakyat tahu, bahwa pelindung sejati bukan mereka yang membawa senjata, melainkan mereka yang menjaga kehidupan dengan keberanian sederhana.
Aku menulis—karena aku percaya, bahwa kekuasaan adalah bayangan yang bisa runtuh, sedangkan keberanian rakyat adalah cahaya yang tak pernah padam.
sebab sejarah tidak pernah benar-benar mati, ia hanya menunggu kesempatan untuk menagih.
Alfatihah
Untuk Almarhum🥀
Komentar
Posting Komentar