Obrolan di Warkop yang Tak Pernah Usai
Kau datang pagi itu, seperti biasa. Duduk di bangku plastik yang sedikit pincang, yang kalau kau geser terlalu kasar
bunyinya bisa membangunkan rasa malu yang sudah lama tidur. Kopi hitam disajikan tanpa pertanyaan jangan lupa garvite atau sejenis udud lainnya hhhaa
kebiasaan lebih akrab daripada hubungan
Warkop semacam kebiasaan yang menjelma jadi ritual.
2.
Di sekelilingmu, suara tawa dan debat bersahut-sahutan. Ada yang sedang menjelaskan mengapa Liga Inggris lebih seru dari rapat paripurna DPR. Kau tak ikut bicara, belum. Tapi telingamu sudah aktif menyerap absurditas dengan gairah yang bahkan tidak pernah kau berikan saat kuliah.
3.
Seseorang membahas harga beras yang makin tinggi, dan kau nyaris bertanya: tinggi dibanding siapa? Tapi urung. Karena kau tahu, di warkop —logika hanya berlaku kalau mendukung pendapat sendiri. Selebihnya, semua adalah seni improviasi: antara fakta dan fiksi yang samar
tapi terdengar sangat meyakinkan. (iyain aja dalam hati)
4.
Obrolan ini seperti kaset usang yang diputar ulang setiap hari—tentang politik yang korup, jalan berlubang
hingga teori bahwa pemilu hanya settingan
Kau mendengarnya dengan tenang
tapi dalam hati tersenyum getir:
ini konyol, tapi entah kenapa lebih jujur dari pidato kenegaraan.
5.
Kau bukan siapa-siapa, tapi juga bukan tidak siapa-siapa
Nama tak penting, gelar lebih-lebih
Yang diukur adalah seberapa cepat kau bisa melempar lelucon soal pejabat dan seberapa tahan kau menahan batuk sampai waktu isapan rokok kesekian menjelang subuh.
6.
Obrolan tak pernah punya arah. dari gosip tentang Pak RW kawin siri, lalu tiba-tiba nyasar ke teori evolusi dan alasan mengapa dinosaurus pun muak dan punah. Arah pembicaraan lebih labil dari perasaan pasangan mu itu
tapi justru itu yang membuatmu betah.
7.
Kadang ada yang sok bijak, berkata, “Negeri ini akan baik kalau warkop didengar.”
8.
Kau menyadari, warkop bukanlah tempat untuk menyelesaikan sesuatu. Ia adalah tempat untuk menunda meski anak organisasi sering menggunakan (untuk agenda konsolidasi)
untuk melempar wacana tanpa niat menuntaskan.
Karena hidupmu sendiri terlalu penuh dengan kewajiban yang harus selesai.
Maka obrolan di sini jadi semacam jeda—atau pelarian yang bisa ditertawakan.
9.
Pernah suatu hari kau mencoba bicara serius. Tentang kebijakan ekonomi, tentang ketimpangan sosial. Tapi seseorang memotong dengan cerita lucu tentang kambing hilang yang ternyata kabur ke kandang sebelah.
termasuk kau. Sebab di sini, tragedi hanya punya nilai kalau bisa ditertawakan bersama.
10.
Kau mulai sadar, warkop ini seperti teater jalanan. Semua jadi aktor, semua punya naskah sendiri. Tak ada penonton, karena semua ingin tampil. Dan anehnya, meski setiap hari lakonnya mirip, kau tetap datang, tetap duduk, tetap mendengarkan. Mungkin karena satu-satunya hal yang terus berubah hanyalah versimu sendiri yang hari ini lebih lelah dari kemarin.
11.
Ketika sore turun, obrolan tak mereda. Hanya bergeser tema—dari konspirasi vaksin ke nostalgia mantan.
Kau berpikir, mungkin manusia memang lebih suka membicarakan hal yang tak bisa diubah. Karena yang bisa diubah, biasanya terlalu berat atau terlalu dekat.
12.
Seorang bapak menyebut dirinya “sarjana kehidupan”.
Kau tahu, ijazahnya mungkin cuma SD
tapi ia punya argumentasi lebih keras dari kepala daerah.
Dan kau? Masih magang dalam memahami betapa seriusnya dunia yang tak serius ini.
13.
Kau pernah mencoba tidak datang. Mencoba jadi “produktif” di rumah. Tapi ada yang hilang. Seperti ruang kosong di kepala yang tak bisa diisi oleh apapun selain bunyi kursi yang ditarik dan suara sendok bertemu gelas. (tapi bunyinya diluar)
14.
Lalu kau kembali. Karena di sini, eksistensi bukan soal pekerjaan atau pencapaian.
15.
Tidak ada resolusi.
Tidak ada kesimpulan.
Setiap obrolan diakhiri dengan “besok kita bahas lagi”, dan itu bukan karena belum selesai
—tapi karena tak ingin selesai.
Menyelesaikan adalah bentuk kematian bagi warkop.
Maka warkop hidup dari ketidakselesaian.
16.
Kau melihat sekeliling dan menyadari:
usia orang-orang ini bertambah tapi obrolan mereka tetap muda. Karena tiap hari yang mereka bawa bukan ingatan tapi harapan. Harapan bahwa tertawa hari ini cukup untuk menunda sedih yang menunggu malam nanti. wkwkwkwkwkwk
17.
Kau sempat bertanya dalam hati, apakah semua ini sia-sia? Tapi lalu kau ingat: tidak semua yang tidak produktif itu tidak penting. Ada jenis kebermanfaatan yang tidak bisa diukur dengan grafik atau statistik.
Dan warkop adalah salah satu bentuknya.
18.
Dunia luar mungkin berlomba menjadi efisien. Tapi warkop mengajarkan seni membuang waktu dengan makna.
Dan kau—meski sering mengaku sibuk
—selalu menyempatkan diri untuk datang.
Karena di sini waktu tidak hilang, Ia (is aja sendiri).
19.
Obrolan di warkop tak pernah usai bukan karena banyak yang harus dibahas. Tapi karena manusia selalu butuh tempat untuk bicara tanpa harus membuktikan apa-apa. Dan di sinilah, obrolan menjadi doa paling duniawi yang bisa kau aminkan.
20.
Maka kau teguk kopi yang tinggal separuh. Seseorang membuka topik baru: “—?”
Semua tertawa. Kau ikut tertawa. Dan seperti biasa, kau tahu: besok, kau akan kembali lagi.
Atau kapan kapan lagi
Komentar
Posting Komentar