Sambil Menunggu Kedatangan


"Lucunya, kita masih percaya pada kemungkinan
Seperti anak kecil yang yakin hujan hanyalah air mata awan yang jatuh karena kesepian
Kita pun menatap langit, menunggu sesuatu—apa saja—yang bisa menabrak kesunyian ini, tapi yang datang justru angin yang mengabarkan bahwa semua yang kita jaga kini tumbuh lumut dan lumut itu pun mulai melahirkan hama. Dan di situ, apakah sadar: dirimu yang menua, tapi juga rinduku juga bahasaku
 
Kata-kata yang dulu bisa menyalakan obor,
kini hanya cukup untuk menyalakan sebatang garvite
—yang padam bahkan 
sebelum asapnya sempat menuju atap"


MENGUAP DITENGAH KORIDOR

Tak lama lagi, 
akan ada sesuatu yang memintal rongga dada ini 
seperti iguana lapar memanjat ke pucuk perdu terakhir di taman yang telah dicuri musim

Ia merayap
mendesis di inti bara yang kini kerontang
dan daun-daun kenangan pun berguguran sambil meraung
—tak ubahnya kelawar uzur melintasi malam yang panjang dan malas

Masa depan? Ah, itu hanyalah masa lalu yang berdandan baru, setelah maut mendirikan paviliun di kepala

yang tumbuh di pot terlampau kecil untuk menampung semua mimpi!!! 

Dan sela ingatan
—ada bisik yang pura-pura teduh
—ada gigil yang menusuk sumsum seperti jarum jam yang lupa berhenti
—ada putus yang mengaku dirinya takdir
terpendam di nisan berdebu

Buku tua yang membusuk di gudang sejarah
menanggalkan segala perkara dunia seperti jubah basah yang tak lagi layak dipakai

di dada yang keriput: awalnya kaki tegak seperti tonggak bendera namun tiba-tiba tubuh menggigil seperti paku bumi yang dilamun gempa
dihantam gelombang pasang yang bukan air
melainkan repetisi dendam yang menolak hanyut

Segala buruk 
yang dulu cuma benih gosip 

kini menjelma menjadi ladang kaktus di dalam tubuh; 
ia membelit tanpa rupa
melumat tanpa ampun 
melarutkan daging hingga tersisa kemungkinan yang bahkan tak mau menjawab namanya sendiri

Dari dasar lambung yang berbuih sampai ujung rambut yang tercerai seperti benang di gigi tikus, pertanyaan ini bergema: ke mana langkah terakhir akan berpaling? Tak ada lagi jemari kagum yang menunjuk ke arah absurditas yang dulu kita bahas sampai dini hari, menggantungkan maknanya di udara—lalu lupa membawanya pulang.

Maka ucapkanlah
walau suara tercekat dan mata masih basah biru 

Aku tahu kau dan aku berlayar di kapal retak yang sama
meski kita berdiri di geladak yang berbeda

Dan, entah mengapa
aku masih memuja lukisanmu; tubuh yang mencopot cintanya dari ciuman

merawat rindu seperti mengasuh 
anak yatim di museum yang sepi

memeluk sosok lain yang terbuat dari bayangan

Aku melihatmu berlari menampar udara lalu jatuh ke ruang yang bahkan arsiteknya pun tak mengaku pernah menggambarnya.

Maka—pulanglah
Pulang
Pulang
Cepat pulang

ke tempat di mana luka pertama kali belajar mengeja namamu.


RERUNTUHAN YANG TAK MENYIMPAN ARAH

Yang...... Kita sebut pulang 
tak lagi berbentuk pintu

kita belajar bahwa pulang tidak selalu berarti kembali
kadang ia selalu mengulang langkah ke lubang yang sama—menambatkan diri pada reruntuhan yang pernah kita sebut rumah

Aku kira itu yang membuat kita terus 
menggenggam alamat palsu di saku
berharap tukang pos yang buta huruf bisa membawa kabar baik

Dan di sela menunggu itu
hanya karatlah yang bersaksi

Daging dan ingatan bersekongkol untuk merangkak jadi artefak
sementara darah bekerja lembur memanggul residu kecewa

Kita menyeduh kesedihan seperti teh basi: pekat, pahit
tapi tetap kita teguk karena takut meja ini terlalu kosong tanpa cangkir

Percakapan lama 
masih berputar 
mengulang satu baris sama sampai telinga kita 
—membusuk dalam repetisi


Lalu kau tahu apa yang paling kejam dari semua ini? Bahwa kita terlalu paham bagaimana luka bekerja
sumpek, 
pengap, 
tapi entah kenapa kita betah
berpura-pura itu adalah bintang-bintang yang jatuh di punggung kita

Maka jika kau bertanya mengapa aku masih menyebutmu rumah—padahal kita sudah jadi reruntuhan—jawabnya sederhana: karena bahkan reruntuhan pun punya arah pulang, meski jalannya tak lagi kita temukan. 

Menampar wajah
Meninggalkan bekas merah —yang tak mau pudar
Dan kita, masih duduk di kursi yang sama

menunggu suara langkah yang mungkin tak pernah benar-benar menuju kita


ENSIKLOPEDIA

Maka, jika kedatangan itu kelak tiba,
biarlah ia menemukan kita apa adanya: kusut, berdebu, tapi jujur 

tak lagi menutup-nutupi robekan di dada
tak lagi menyembunyikan lumut di tepi ingatan
tak semua yang datang membawa jawaban


menunggu pun ternyata 
adalah sebuah pulang
pulang ternyata 
adalah sebuah menunggu

Lalu.... 
Kelak seperti apa pulang akan sampai?
Kelak seperti apa menunggu sambil kedatangan? 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Regresi Emosional pada 'Aku' yang Bersikeras

Digitalisasi sebagai janji: Demokratisasi-Informasi yang berbalik

Bandung 'dalam' kurun kedua kali-nya

Metastasis [Akhir Tahun] pada Tata Ujar

Regresi Emosional pada 'Subjek' yang Bersikeras

Melawan Laut, Melawan Diri: Telaah 'Anti-Heroisme' pada The Old Man and the Sea Hemingway