Surat kematian itu yang kita sebut 'Ijasah'
“Engkau dipuja, dipuji, dibanggakan, dibingkai
Tetapi apa arti dirimu? Kau tak bisa membeli nasi, kau tak bisa membayar kontrakan, kau tak bisa menghapus hutang. Kau hanyalah simbol yang memaksa kami berjalan lurus, tapi ujungnya adalah jurang.”
Ijazah adalah kenihilan yang terlihat seolah gaya. Ia adalah bukti kerja keras sekaligus tanda matinya kebebasan. Ia adalah simbol keberhasilan sekaligus prasasti atas kegagalan sistem. Ia adalah surat kematian yang dipoles indah, disulap menjadi kebanggaan, padahal sesungguhnya hanya membuka pintu menuju kebingungan.
Ijazah—selembar kertas bergaris lambang negara
berbingkai tinta tanda tangan rektor
distempel sah dan diagungkan bagai wahyu dunia.
Ia sebetulnya hanya surat kematian bagi impian yang pernah menggelora di dada seorang mahasiswa
Ketika namanya dipanggil di atas podium
jubah hitam dipakai
dan toga diputar ke kiri
semua tepuk tangan terdengar seperti ratapan samar: “Selamat datang di liang itu, wahai sarjana muda.”
batu nisan mini itu yang kita bawa pulang, diselipkan ke dalam map berwarna gading ditaruh di lemari kaca seolah relik suci
Namun, sesungguhnya ia lebih dekat dengan tanda wafatnya satu fase kehidupan yang penuh idealisme—kematian atas dunia yang dijanjikan, yang ternyata tak lebih dari ilusi pasar tenaga kerja.
Seorang sarjana baru, sebut saja namanya faiz melangkah pulang dari wisuda dengan langkah berat
Senyumnya dipaksakan
foto bersama dipajang
bunga-bunga plastik dan boneka berjas hitam menghias pelataran kampus
Tetapi di dalam hatinya, satu pertanyaan menggema: Apakah semua perjuangan ini hanya untuk selembar surat yang kini terasa seperti sertifikat kematian?
Perjamuan Palsu Bernama Pendidikan
Pendidikan tinggi, yang digadang-gadang sebagai pintu emas menuju peradaban, kini lebih mirip perjamuan palsu yang penuh tipu-tata
Mahasiswa belajar teori setinggi langit, tetapi dipaksa menunduk di hadapan pasar kerja yang hanya menghitung pengalaman, koneksi dan keberuntungan
Apa arti gelar sarjana ketika hal itu hanya sebutir garam di tengah samudra manusia yang
sama-sama bergelar
sama-sama lapar
sama-sama berdesak-desakan mencari pintu rezeki?
Faiz teringat malam-malam begadang di perpustakaan
kopi dingin yang menempel di lidahnya,
seperti sandiwara panjang, yang ujungnya hanyalah selembar kertas
Pendidikan telah diperdagangkan, ijazah dipatok harga, mahasiswa dipaksa menjadi konsumen yang setia
Ironinya
kampus menjanjikan kebebasan berpikir, tetapi di baliknya ada sistem yang mengikat, birokrasi yang mencekik dan tuntutan akreditasi yang mengebiri
Mahasiswa tak ubahnya budak kurikulum—dipaksa menyuapi dirinya sendiri dengan teori usang, sementara dunia di luar sana sudah berlari dengan logika algoritma.
Maka, saat ijazah diserahkan, sebenarnya yang lahir bukan kebebasan, melainkan perbudakan baru: perbudakan pada kapitalisme kerja.
Dari Gelar ke Gelandangan
Faiz menyaksikan betapa sarjana-sarjana lain berhamburan ke jalan
mengantre di lowongan pekerjaan seperti jamaah menunggu giliran wudhu
Mereka, yang dahulu gagah bersuara di kelas filsafat, kini merunduk di hadapan HRD dengan wajah penuh harap
Gelar sarjana bukan lagi mahkota, melainkan beban yang harus dipikul sambil terus menjawab pertanyaan: Mengapa kamu layak diterima?
Ironi memuncak ketika seorang teman kuliah faiz yang lulus dengan predikat cum laude harus menggadaikan motornya demi ongkos melamar kerja ke kota
Sementara itu, seorang anak pejabat yang kuliahnya penuh titipan dengan mudah masuk perusahaan bergaji tinggi. Itulah realitas yang timpang—di mana ijazah hanyalah tiket kecil, tetapi akses menuju panggung kehidupan ditentukan oleh garis keturunan, relasi dan kapital.
Faiz muak
Dunia yang ia masuki bukan dunia meritokrasi, melainkan arena gladiator
di mana manusia dipaksa saling mencabik demi sepotong roti
Di hadapan cermin, ia menatap map ijazahnya sendiri. Warna gading itu tak lebih dari kain kafan, menutupi mimpi yang perlahan membusuk.
Lalu. . . . .
Pada malam yang sepi, Faiz menyalakan rokok terakhirnya
Asap mengepul, menari di udara seperti doa yang kehilangan alamat
Ia membuka map ijazah itu, menatap namanya yang tercetak rapi, lalu berbisik lirih, seolah sedang berdialog dengan sebuah benda mati:
“Engkau dipuja, dipuji, dibanggakan, dibingkai. Tetapi apa arti dirimu? Kau tak bisa membeli nasi, kau tak bisa membayar kontrakan, kau tak bisa menghapus hutang. Kau hanyalah simbol yang memaksa kami berjalan lurus, tapi ujungnya adalah jurang.”
Ijazah seakan menjawab dengan diam yang getir. Ia adalah saksi, bukan penyelamat. Ia adalah prasasti, bukan pintu masuk. Ia adalah tanda bahwa seseorang telah mengikuti aturan permainan, tetapi permainan itu sendiri sudah dimanipulasi.
Faiz semakin terjebak dalam monolog panjang. Ia teringat kata-kata seorang dosen filsafat: “Pendidikan bukan jaminan, hanya kemungkinan. Dan kemungkinan itu pun sering dipalsukan.” Kata-kata itu kini menggema bagai kutukan.
Pada akhirnya, ijazah tetap disimpan rapi, dibingkai dan dipajang di ruang tamu
Orang tua Adi bangga, tamu-tamu tersenyum dan tetangga berbisik kagum.
Tetapi di balik itu, Faiz tahu: ia sedang mengusung surat kematiannya sendiri. Surat yang menandakan akhir dari mimpi akademis, sekaligus awal dari perjuangan tanpa peta.
Ijazah adalah paradoks. Ia adalah bukti kerja keras sekaligus tanda matinya kebebasan. Ia adalah simbol keberhasilan sekaligus prasasti atas kegagalan sistem. Ia adalah surat kematian yang dipoles indah, disulap menjadi kebanggaan, padahal sesungguhnya hanya membuka pintu menuju kebingungan.
Dan begitulah, generasi demi generasi akan terus lahir, mengulang siklus yang sama:
belajar,
berjuang,
berutang,
berkorban,
hanya untuk menerima surat kematian
bernama ijazah
Sebuah surat yang tak pernah berhenti diwariskan, dari tangan ke tangan, dari mimpi ke mimpi, dari kebanggaan ke kehampaan.
Komentar
Posting Komentar