Odisea jatuh tersungkur
Sumber gambar
Odisea,
katanya ia pengembara
sesungguhnya ia hanyalah manusia
yang berkali-kali jatuh di jalan raya
di kebodohan yang ia pelihara bagai pusaka
Konyol.
sejarah
menutup mata dari fakta bahwa tanah tempat kita tersungkur adalah hasil karya kita sendiri
—karya yang busuk
karya yang beraroma tengik
karya yang lebih mirip bangkai daripada syair suci
Odisea jatuh
dan pada jatuh itu,
seakan menemukan rumah semu
Odisea tersungkur
dan pada tersungkur itu,
pura-pura bersujud
Tubuh yang Menyembah
Tubuh bukan lagi tubuh,
yang berdarah
Odisea, sudah terlalu malas menolak
Betapa ilmiah tubuh ini jika dipandang sebagai mesin biologis
tetapi betapa ironis tubuh ini jika ditimbang sebagai penjagaan moral
Kita belajar anatomi
tetapi kita lupa bahwa luka paling purba itu di nurani
Yang menjalar
Menua
Menular
Tubuh hanya makin pandai berpura-pura: Menutup perih dengan bedak
Menutup nanah dengan parfum
Menutup bau busuk dengan pidato panjang
yang terdengar seperti doa
Yang Tersungkur Berulang
Romawi tumbang
Yunani punah
Babilonia jadi debu
—dan tiap kali runtuh
selalu ada narasi suci yang mencoba menghibur: “Itu kehendak dewa.”
Tetapi apa bedanya dengan hari ini, yang menamai itu sebagai “skenario Tuhan”?
Sejarah jatuh bukan karena bintang, melainkan karena manusia
yang menolak bercermin
Kita belajar di sekolah bahwa sejarah adalah guru kehidupan
tetapi guru ini sudah lama kita bunuh
Kita kubur sejarah dengan kurikulum tipis, dengan hafalan tanggal
dengan parade nasionalisme murahan
Padahal, dari dulu,
jatuh hanyalah kebiasaan lama yang terus berganti kostum
Tersungkur adalah rutinitas bangsa yang enggan dewasa
lalu berkata dengan mulut penuh darah: “Ini takdir, ini ujian, ini misteri.”
Odisea itu berakhir dengan titik
Bukan koma.
Ironi Kekalahan
Kota-kota kita
Trotoar yang retak menertawakan langkah, jalanan yang berlubang menjebak
motor-motor renta
gedung-gedung menjulang menutupi matahari sambil menutupi kesadaran.
Kota adalah tubuh besi yang berdiri tegak, tetapi di dalamnya,
manusia tersungkur bagai daun kering.
Dengarlah
Dengarlah!!?
suara klakson yang meraung seperti ratapan
Dengarlah
Dengarlah!!?
iklan-iklan yang memuja kebahagiaan
Dengarlah
Dengarkanlah!!!
Sumpah serampah pidato pejabat pada akal sehat.
kota
tempat odisea jatuh,
tempat odisea tersungkur lemas
Dan ketika kita jatuh
kota hanya pura-pura peduli
Tertawa di Bibir Jurang
dengan kepulangan
tertawa getir
menertawakan jatuh karena kita terlalu takut untuk jujur.
Kita menyebut tersungkur sebagai pengalaman
padahal itu hanyalah kebodohan
yang dipoles dengan kata-kata manis.
Kita menamai luka sebagai pelajaran, padahal itu hanyalah bukti dari malas berpikir.
Kita manamai tertawa, tetapi tawa itu seperti karat yang menggerogoti besi.
Kita menamai suara, tetapi suara itu hanyalah rengekan yang diiringi gitar putus senar
Kita berdiri
melihat ke bawah
lalu sadar bahwa kita tak pernah benar-benar berjalan
di dasar jurang itulah pilihan.
Bahwa tersungkur
merupakah
kesia-siaan yang kita pelihara
dengan cinta buta.
kesia-siaan yang kita pelihara
dengan cinta buta.
Komentar
Posting Komentar