Budag 'badug' Ugal-ugalan
"Kau tahu,
di zaman dahulu, kesunyian adalah ruang tertinggi dari nalar. Filsuf, penyair, dan nabi sama-sama belajar dari diam.
—Ada negeri yang gemar bersorak pada kebodohan dan memuja kekacauan sebagai tanda kemerdekaan berpikir. “keaslian” menganggap kebiadaban adalah ekspresi jujur—yang percaya bahwa berkata tanpa berpikir adalah tanda kemerdekaan batin.
—Negeri itu nyata di depan mata kita,
Budag—yang tak mau mendengar selain gema dirinya sendiri. Badug—yang mabuk pada kedangkalan dan mengira itu kedalaman. Ugal-ugalan—yang menabrak adab seperti kendaraan rusak di jalan sunyi akal budi." —ahhh ges te aneh
Prolog: Di Hadapan Kiamat Akal
Ada masa di mana pikiran kehilangan gravitasi
Segala sesuatu melayang—bahkan malupun pengen ikut.....
manusia berdiri seperti patung yang tak tahu siapa pemahatnya.
Manusia tak kekurangan pengetahuan,
Manusia kelebihan yang tak sanggup ia cerna
fasih berkata “kebebasan”, justru takut pada kesunyian yang melahirkannya.
Berpidato tentang kejujuran,
namun di hatinya menyembah kenyamanan sosial.
Cara berada di dunia tanpa kesadaran akan keberadaannya sendiri
tuhan kecil yang berisik.
Kebenaran,
karena baginya yang penting adalah gema.
Isi,
karena bentuk sudah cukup untuk menipu rasa ingin tahu.
Isak teriak,
karna tak pernah berjalan satu langkah pun menuju makna.
Logos
kata yang dahulu menjadi perantara antara manusia dan kebenaran.
Logos adalah noise:
suara tanpa makna,
tanda tanpa rujukan,
hasrat tanpa orientasi.
Bahasa,
di mana kalimat tak lagi ingin menjelaskan,
“setiap moralitas pada akhirnya adalah estetika yang kehilangan sumbernya.”
Euuummmmm pun kehilangan pusatnya
Tubuh yang beroperasi di antara piksel,
roh yang mengembara di pusaran “trending topic”.
Kau tahu,
di zaman dahulu, kesunyian adalah ruang tertinggi dari nalar.
Filsuf, penyair, dan nabi sama-sama belajar dari diam.
Mereka menyepi untuk mendengar sesuatu yang tak terucap oleh dunia.
Budag tak tahan sepi,
karena sepi menyingkap kebodohan yang telah lama ia sembunyikan.
Butuh keramaian seperti parasit butuh inang.
Takut melihat dirinya sendiri tanpa gema,
Takut bahwa di balik semua opini dan narasi,
adalah kekosongan yang berkedok
Maka teruslah berbicara.
untuk menyampaikan,
untuk mengurai,
untuk menegaskan bahwa aku masih ada.
“Keaslian” menganggap kebiadaban adalah ekspresi jujur—yang percaya bahwa berkata tanpa berpikir adalah tanda kemerdekaan batin.
Bersembunyilah
Wahai
ketakutan yang PURBA:
ketakutan akan refleksi,
ketakutan akan tanggung jawab berpikir.
Hari ini,
buku-buku menjadi benda museum.
Perpustakaan menjadi monumen nostalgia.
Aku menyebut dalam hati “manusia cerdas”,
padahal kau hanya mesin pencarian yang berwajah manusia.
Kita menggulir layar seperti membaca kitab wahyu,
Diam diam sadar bahwa yang kita serap hanyalah serpihan bayangan orang lain.
Nietzsche pernah berkata:
“Manusia yang modern adalah makhluk yang mengira dirinya tahu, karena ia tak lagi memiliki kedalaman untuk meragukan.”
Dan benar—
keraguan dianggap penyakit,
skeptisisme disamakan dengan penghianatan, dan refleksi dikebiri oleh kecepatan.
Menolak berfikir karena berfikir tak memberi jawaban cepat.
Menolak sejarah karena sejarah tak bisa diunggah dalam satu menit.
Menolak moral karena moral menuntut kesetiaan yang tak instan.
Zaman kita mengajarkan kita satu hal:
bahwa berpikir terlalu lama adalah bentuk ketertinggalan.
..................
(Ingin sekali ku berkata kasar)
-sungguh
(Cibiru, Nov 2025)
Yang Mudah Mudahan
Dan di sini,
Kita menyaksikan kiamat kecil akal budi.
Tidak ada teriakan, tidak ada dentuman,
hanya gemuruh sunyi dari kesadaran yang luluh—menyebut kesunyian sebagai kematian sosial.
Setiap kali sejarah menelurkan kekacauan,
juga menyiapkan para penafsirnya.
Dan mungkin,
di antara ini,
akan lahir generasi yang baru—
yang membaca bukan untuk tahu,
tetapi untuk sadar;
yang menulis bukan untuk tampil,
tetapi untuk mengingat. Aamiin
Mereka akan berjalan di atas abu
membangun ulang dari serpihan malu yang masih tersisa.
Mereka tiba,
mungkin istilah budag badug ugal-ugalan
akan menjadi sebutan arkeologis— bagi spesies manusia yang pernah menertawakan akalnya sendiri.
(Cibiru, Nov 2025)
dari Kekosongan
Melainkan sistem nilai yang telah berurat di tubuh masyarakat.
adalah jenis kebodohan yang sadar diri,
yang memilih kesesatan bukan karena tak tahu, melainkan karena terlalu nyaman untuk berpikir.
Tak usah lagi kita bicara tentang intelektualitas;
itu sudah dianggap fosil dari abad ketika nalar masih punya reputasi.
logika hanya dihormati bila mampu melayani histeria massa.
Seorang budag tak butuh teori;
yang ia perlukan hanyalah gestur percaya diri.
Badug bisa berdebat berjam-jam tanpa substansi,
asal nada suaranya mantap dan wajahnya serius.
Asal bisa berbicara tentang moralitas
sambil mencuri kesempatan di sela-sela, tipis tipis
Universitas sibuk mencetak pekerja ide.
Dan para dosen,
hidup di masa di mana bibliografi menjadi jimat, makna buku dikubur di catatan kaki.
Orang membaca untuk mengutip,
belajar agar tampak cerdas.
:“Yang penting kita tetap positif”
Positif, dalam bahasa budag,
berarti patuh.
Kritis berarti durhaka.
Dan berpikir berarti berisiko kehilangan kenyamanan.
Di kota-kota,
Di kampus-kampus,
Di jurnal-jurnal,
Di koran-koran,
Di website-website,
Di kedai-kedai,
Di warkop-warkop,
Di depan setelah menyebrang
Di televisi,
Di live tiktok
Melainkan karena malu
adalah nalar terakhir,
yang mati,
tatkala merasa menang.
Pastinya senang
Kemerdekaan dari elitisme bentuk demokrasi. “Yang penting kita jujur apa adanya”, “Yang penting tidak munafik"
“Yang penting kita positif”, "yang penting caranya halal"
Tapi jangan salah —
tindakan ugal-ugalan menyimpan dialektikanya sendiri.
yang tak akan bertahan selamanya,
karena kebodohan yang terlalu lama berkuasa
Mereka tidak akan berteriak di jalan,
melainkan menulis dalam sunyi.
Mereka tidak akan memuja ideologi baru,
melainkan menghidupkan kembali etos berpikir lama:
kejujuran dalam berpikir,
dan kesediaan untuk kalah di hadapan kebenaran.
Itulah lawan sejati budag badug
melainkan manusia yang masih mampu hening, dan menanggung kebenaran tanpa panggung
(Cibiru, Nov 2025)
Alat Tertawa
Di suatu kala yang kehilangan kaidah,
manusia menjelma cermin yang retak—
dan di setiap serpihannya, dunia memantulkan wajah yang berbeda,
Kebengisan zaman;
adalah hasil dari disolusi kita—
penguraian nilai hingga yang tersisa aroma
Bila di zaman sekarang kebiadaban berarti melanggar hukum,
maka di zaman kuno berarti menghapus rasa malu terhadap pelanggaran itu sendiri.
Kebalik ga?
Coba tanyain aja ke dora
Sekarang
Coba kita telusuri.
Suatu saat beroperasi
Ketika mekanisme yang nyaris biologis:
insting mempertahankan wibawa,
bahkan dengan harga kebenaran itu sendiri.
yang Terbelah
Lihatlah bagaimana menatap buku seperti menatap makam nenek moyangnya —
dengan hormat yang pura-pura,
Ohhh,
betapa sunyi bahasa yang dulu menyalakan revolusi! Kini diseret ke meja rapat, disusun dalam PowerPoint, diakhiri dengan tepuk tangan basa-basi.
Dan lihat,
bagaimana abang abangan (yang katanya) misior intelektual tapi berhati feodal.
tinggi, gemerlap,
kosong di dalam.
Apakah ini nalar? Ataukah hanya di mana kebodohan memakai toga? Apakah ini modernitas? Ataukah pesta di bawah lampu neon kapitalisme?
Memang ada benarnya
kekosongan tak lahir dari ketiadaan,
Kita terlalu banyak berdoa “pengabdian.” lebih tulus dalam kebodohannya, sebab tak berpura-pura bijak.
Kita adalah generasi yang menulis
(Nulis chat wa)
Sok itung saminggu bara rebu kata mun ditalintik mah —komo mun nyieun long text
Ada istilah lama dalam Yunani: aletheia —
kebenaran sebagai “penyingkapan”.
Tuker dulu sama apokryphos: yang tersembunyi / disamarkan.
Karna
Semakin lama manusia menertawakan nilai,
semakin ia kehilangan alasan untuk tertawa.
Dan mungkin dari puing-puing ini,
lahir kembali sejenis manusia baru —
yang bukan budag, bukan badug,
bukan ugal-ugalan,
melainkan yang telah muak pada segala kelicinan.
Mereka tak akan berbicara banyak.
Mereka tak akan berjalan pelan,
Mereka membawa buku,
dan membaca dalam diam.
Dunia akan menertawakan mereka —
seperti biasa —
tapi dari dalam kesunyian mereka,
kebenaran selalu menyalakan apinya kembali.
Allllaaaaahhuuuu yaaarrrhhaaam
(Cibiru, Nov 2025)

Komentar
Posting Komentar