Bandung ‘dalam’ kurun



foto/arsip pribadi

Untuk-Teruntuk sang penagih waktu pada Bandung


Lampu-lampu yang berpendar lembut di kejauhan, doa yang melayang tanpa alamat
Demi segala warna hidup manusia
yang lama-lama
menjelma nestapa
 
Bernafaslah kembali ingatan!
Pada jalan-jalan renta yang menyimpan
Desir rahasia Bandung,
 
Bernafaslah kembali Malam!
Ber-arak lambat membawa rindu pada cahaya lampu yang merayap di tulang tenang Bandung,
 
Bernafaslah kembali Sunyi!
Asmara berbaur dengan keresahan para
Pejalan yang menagih waktu pada Bandung,
 
Berdesahlah kembali waktu! 
Yang terlipat… ketika Bandung...
Menahan napas panjang di ambang gelisah senada
Berselisih dengan deru mesin yang menagih kuasa
 
Bangunan menjulang—angkuh, tergesa
—Mengabaikan akar sejarah yang merintih memohon
agar dikenang pecinta kota
 
Ohhh... Yaa... dalam ingatan itu,
Berdiri antara janji masa depan dan luka masa silam,
Agar setiap jejak manusia,
Tegak
Merdeka
 

Jalan-jalan tua memanggul beban, pembangunan yang memadat
sementara denyut warga tersesat mencari ruang senada,
dan suara cinta yang dulu lembut di tikungan Braga


dan Bandung,
Menanti sentuhan nurani yang berpihak,
Janganlah Merdeka tapi ngantuk Bandung!
Para kekasih menautkan janji di bawah hujan kecil,
RESAH; berharap adil hadir
 
Kota yang bergemuruh, terkadang dinginnya
Yang tak pernah
Benar-benar
Pergi
 
Meng-produksi wabah dari hal-hal yang hilang… … …
 
Lembah Citarum; airnya membawa kisah panjang
Yang
Meronta
Dari
Pengabaian
 
Pasopati; Jembatannya mengingat seseorang
yang
Pernah
Menggenggam
Tangannya di bawah rintik hujan
 
Dipatiukur; Warkopnya memantulkan gaung
Kesepian
Yang
Menahan tangis di dada
 
Juanda; Pada cahaya lampu
Yang merayap di tulang tenang Bandung—adalah keresahan para pejalan
 
Bunderan Cibiru; ahh engges belah dinya mah—Macettt
(komo mun ka Gede Bage pas hujan gede)


Percayalah pada bisik
Tetap mengantar
kritik lembut tentang kota
Yang berubah cepat

—Hingga akhirnya kenangan
 
Berharap…
Ada sedikit kejujuran
Kedewasaan…
Yang berdiri
Jika…
Memang
 
Kesedihan Bandung punya Ke-Anggunannya sendiri
Agar tak lupa siapa yang pertama kali menjaganya dari-bencana.
 

1971–1978 MENGGEMA SEBAGAI DOA PANJANG
(Sang Mesra, Akhir Tahun)
2025



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Regresi Emosional pada 'Aku' yang Bersikeras

Digitalisasi sebagai janji: Demokratisasi-Informasi yang berbalik

Bandung 'dalam' kurun kedua kali-nya

Metastasis [Akhir Tahun] pada Tata Ujar

Regresi Emosional pada 'Subjek' yang Bersikeras

Melawan Laut, Melawan Diri: Telaah 'Anti-Heroisme' pada The Old Man and the Sea Hemingway