Bandung ‘dalam’ kurun

Untuk-Teruntuk sang penagih
waktu pada Bandung
Lampu-lampu
yang berpendar lembut di kejauhan, doa yang melayang tanpa alamat
Demi segala
warna hidup manusia
yang lama-lama
menjelma
nestapa
Pada
jalan-jalan renta yang menyimpan
Desir rahasia
Bandung,
Ber-arak lambat
membawa rindu pada cahaya lampu yang merayap di tulang tenang Bandung,
Asmara berbaur
dengan keresahan para
Pejalan yang
menagih waktu pada Bandung,
Berdesahlah
kembali waktu!
Yang terlipat…
ketika Bandung...
Menahan napas
panjang di ambang gelisah senada
Berselisih
dengan deru mesin yang menagih kuasa
—Mengabaikan
akar sejarah yang merintih memohon
agar dikenang
pecinta kota
Ohhh... Yaa... dalam ingatan
itu,
Berdiri antara
janji masa depan dan luka masa silam,
Agar setiap
jejak manusia,
Tegak
Merdeka
Menanti sentuhan nurani yang berpihak,
Janganlah Merdeka tapi ngantuk Bandung!
Para kekasih menautkan janji di bawah hujan kecil,
RESAH; berharap adil hadir
Yang tak pernah
Benar-benar
Pergi
Yang
Meronta
Dari
Pengabaian
Pasopati; Jembatannya mengingat seseorang
yang
Pernah
Menggenggam
Tangannya di bawah rintik hujan
Dipatiukur; Warkopnya memantulkan gaung
Kesepian
Yang
Menahan tangis di dada
Juanda; Pada cahaya lampu
Yang merayap di tulang tenang Bandung—adalah keresahan para pejalan
Bunderan Cibiru; ahh engges belah dinya mah—Macettt
(komo mun ka Gede Bage pas hujan gede)
Percayalah pada
bisik
Tetap mengantar
kritik lembut
tentang kota
Yang
berubah cepat
—Hingga akhirnya kenangan
Ada sedikit
kejujuran
Kedewasaan…
Yang berdiri
Jika…
Memang
Agar tak lupa
siapa yang pertama kali menjaganya dari-bencana.
1971–1978 MENGGEMA SEBAGAI DOA PANJANG(Sang Mesra, Akhir Tahun)2025
Komentar
Posting Komentar